7 Adzab Allah Kepada Fir’aun dan Orang-orang Kafir


Seorang yang beriman dari kalangan pengikut Fir’aun terus -menerus mengajak para pengikut Fir’aun agar mereka beriman kepada Alllah dan Nabi Musa ‘Alihissalam.
Dia juga mengajak mereka dengan cara memberi kabar gembira bagi yang beriman dengan surga dan mengancam mereka yang kafir dengan siksaan di dunia berupa kebinasaan dan nereka di akhirat.

Karena Fir’aun dan para pengikutnya semakin sombong dan melampaui batas, maka Allah menimpakan kepada mereka musibah sebagai bentuk hukuman dan ujian agar mereka sadar dari dosa. Adapun musibah yang Allah timpakan kepada Fir’aun dan para pengikutnya adalah:

1. Musim kemarau yang panjang
Yang menyebabkan kelaparan dan kekeringan, sehingga sedikit buah dan bahan pangan. Namun mereka tetap dan semakin melampaui batas. Ketika kemakmuran mereka peroleh, mereka menyatakan bahwa hal tersebut adalah karena usaha-usahaan mereka. Tetapi apabila mereka merasakan kerusakan mereka menyatakan bahwa hal tersebut datang karena Musa dan orang-orang beriman yang bersamanya. Mereka tidak akan beriman sekalipun bukti kebenaran yang dibawa Nabi Musa nampak seperti matahari di siang hari.

2.Angin topan, yaitu hujan lebat berangin kencang yang dapat menenggelamkan dan merusak tanaman.

3.Hama belalang yang menyerang habis tanaman, sayur dan buah.

4.Hama kutu menyebar luas hingga memasuki rumah-rumah, sehingga tidak menyisakan tempat tinggal bagi pemilik rumah.

5.Katak berhamburan seluruh pelosok negeri, hingga masuk ke dalam makanandan minuman.

6.Darah yang bercampur dengan air pada sumur-sumur, bejana-bejana dan sungai Nil.

7.Musibah atau adzab yang bertubi-tubi menimpa mereka, dan azdab itu tidak menimpa seorangpun dari kalangan Nabi Musa dan pengikutnya.

Akhirnya mereka putus asa dan meminta Nabi Musa agar berdoa supaya adzab tersebut diangkat dari atas mereka. Mereka berjanji kepada Nabi Musa, apabila adzab itu telah tercabut, mereka akan mepercayai Nabi Musa dan membiarkan Bani Israil pergi bersama beliau.

Nabi Musa pun berdoa kepada Allah agar mengangkat adzabnya dan Allah mengabulkan doa beliau. Ketika musibah telah terangkat dari mereka, tiba-tiba mereka mencampakkan janji mereka untuk beriman. Mereka pun kembali ke dalam kebodohan dan kekafiran.

Raja Fir’aun pun semakin sombong dan dzalim. Ia mempengaruhi pengikutnya agar tetap kafir dengan ucapannya,
“Hai kaumku, bukankah negeri Mesir ini milikku dan bukankah sungai-sungai ini (sungai Nil) mengalir di bawah ku? Maka apakah kalian tidak menyaksikannya? Bukankah aku ini lebih baik daripada orang hina ini (yaitu Nabi Musa) yang tidak bisa menjelaskan perkataannya? Mengapa tidak di pakaikan gelang dari emas? Atau malaikat datang bersamanya untuk mengingkarinya?” para pengikutnya pun patuh kepada Fir’aun.

****
Sumber: Majalah Mawaddah, edisi Shafar 1436H vol.80
Artikel wanitasalihah.com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *