Akhlak Istri-istri Rasulullah ﷺ yang Patut Ditiru Setiap Muslimah (Bagian 3)


Para Istri Rasullah ﷺ Dermawan

Bukan hanya Rasulullah ﷺ yang dermawan sehingga pada saat meninggal dunia beliau tidak mewariskan harta bahkan punya hutang gandum, bahkan istri beliau pun dermawan.

Aisyah istri Rasulullah ﷺ pernah bercerita,

دَخَلَتْ امْرَأَةٌ مَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا تَسْأَلُ فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ فَدَخَلَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَيْنَا فَأَخْبَرْتُهُ فَقَالَ مَنْ ابْتُلِيَ مِنْ هَذِهِ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنْ النَّار

“Ada seorang wanita datang kerumahku dengan membawa dua putri nya lalu dia meminta makan kepadaku, sedangkan aku tidak memiliki sesuatu kecuali kurma, dan aku berikan kepadanya, maka wanita itu membagi kurma untuk kedua putrinya, kemudian dia pulang. Lalu Nabi ﷺ masuk ke dalam rumah dan aku bercerita, lalu beliau bersabda,‘Barang siapa yang diserahi anak perempuan, lalu ia mendidiknya dengan baik, anak-anak mereka itu menjadi penghalang dirinya dari api neraka.’” (HR. Bukhari 2/514)

Begitulah kedermawanan istri Rasulullah ﷺ, lebih mendahulukan kepentingan orang lain dari pada untuk dirinya sendiri.
Wanita dermawan hatinya bersih dari sifat tamak dan rakus, tidak dengki ketika melihat kawan hidupnya kaya raya.
Wanita dermawan hidupnya hemat dan qana’ah serta senantiasa menolong saudaranya yang sengsara.

Rasulullah ﷺ memberi kabar gembira kepada wanita muslimah yang senantiasa bersedekah, sekalipun harta yang di sedekahkan milik suaminya , dia akan mendapatkan pahala. Dari Aisyah dia berkata, “Rasulullah ﷺ bersabda,

مَا أَنْفَقَتْ الْمَرْأَةُ مِنْ بَيْتِ زَوْجِهَا , غَيْرَ مُفْسِدَةٍ , كَانَ لَهَا أَجْرُهَا , وَلَهُ مِثْلُهُ بِمَا كَسَبَ , وَلَهَا بِمَا أَنْفَقَتْ , وَلِلْخَازِنِ مِثْلُ ذَلِكَ , مِنْ غَيْرِ أَنْ يُنْتَقَصَ مِنْ أُجُورِهِمْ شَيْءٌ

‘Apabila seorang wanita menafkahkan harta dari rumah (harta) suaminya dengan tidak berlebihan, maka wanita tersebut mendapatkan pahala dari apa yang telah ia keluarkan, dan suaminya pun mendapatkan pahala dari usahanya, dan penjaga gudangnya pun mendapatkan pahala, yang pahalanya tidak mengurangi pahala yang lainnya.’“(HR. Bukhari 2/728)

Akan tetapi, istri tidak boleh menginfakkan harta milik suami tanpa izinnya karena menurut asal, istri hendaknya menjaga harta suaminya.
Dari Abu Hurairah tentang seorang wanita yang bersedekah dari rumah suaminya ia berkata, “Tidak di perbolehkan kecuali dari makanannya sendiri, dan ganjarannya dibagi untuk keduanya (istri dan suami). Istri hendaknya tidak menyedekahkan harta suaminya kecuali atas izinnya,”(HR. Abu Daud; hadist shahih mauquf)

Para Istri Rasulullah ﷺ Rela Dimadu

Rasulullah ﷺ menikahi wanita lebih dari satu, bukanlah berniat mengumbarkan syahwatnya sehingga menodai wanita sebagaimana tuduhan orang kafir.
Seandainya beliau menikah tujuannya demikian, tentu menikahi gadis dan berkali-kali menceraikannya. Akan tetapi, kenyataannya tidak demikian, justru beliau pertama kali menikah dengan seorang janda yang bernama Khadijah binti Khuwailid, sedangkan selisih umurnya 15 tahun lebih tua dari Rasulullah ﷺ. Itu pun setelah istrinya wafat, beliau menduda kurang lebih dua tahun baru menikah lagi, karenan kebaikan sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq menikahkan putrinya yang masih muda berumur enan tahun atas kehendak Abu Bakar sendiri, dan menikahi janda semata-mata ingin menolongnya.

Sifat kecemburuan wanita terhadap teman hidupnya tentu ada karna itulah tabiat mereka, tetapi tidak membawa kehancuran rumah tangga sehingga menyusahkan suami.

Wahai wanita muslimah! Perhatikan kisah yang mulia kerukunan istri-istri beliau, bahkan bercanda.

Dari Aisyah dia berkata, “Apabila Rasulullah ﷺ hendak bepergian, maka beliau pun mengundi para istrinya.” Pada suatu seketika, undian tersebut jatuh kepada Aisyah dan Hafshah.”
(Kata Aisyah), “Akhirnya kami bertiga pun pergi bersama-sama.” Ketika malam tiba, Rasulullah ﷺ biasanya menempuh perjalanan bersama Aisyah sambil berbincang-bincang dengannya. Hingga suatu saat Hafshah berkata kepada Aisyah, “ Hai Aisyah, bagaimana jika malam ini kamu mengendarai untaku dan aku mengendarai untamu. Setelah itu, kita akan memperhatikan apa yang akan terjadi nanti.”
Aisyah menjawab, “Baiklah!”
Lalu Aisyah mengendarai unta milik Hafshah dan Hafshah sendiri mengendarai unta milik Aisyah. Tak lama kemudian Rasulullah ﷺ mendatangi unta milik Aisyah yang kini dikendarai Hafshah. Rasulullah mengucapkan salam padanya dan menempuh perjalanan bersamanya hingga mereka singgah di suatu tempat. Sementara itu Aisyah merasa kehilangan Rasulullah ﷺ sehingga ia merasa cemburu. Oleh karena itu, ketika mereka singgah di suatu tempat, maka Aisyah menjulurkan kedua kakinya di antara pohon idzkhir sambil berkata,
“Ya Allah ya tuhanku, perintahkanlah kalajengking atau ular untuk menggigitku, karena aku tidak kuasa untuk mengatakan sesuatu kepada rasul-Mu.” (HR. Muslim 7/138)

Ummu salamah, istri Nabi ﷺ bertanya,
“Ya Rasulullah ﷺ seorang wanita dari kami ada yang kawin dua, tiga, dan empat kali lalu dia wafat dan masuk syurga bersama suami-suaminya juga. Siapakah kelak yang akan menjadi suaminya di syurga?”
Nabi ﷺ menjawab, “Dia di suruh memilih yang dia pilih adalah yang paling baik akhlaknya dengan berkata,’Ya Rabbku, orang ini ketika di dunia paling baik akhlaknya terhadapku. Kawinkanlah aku dengan dia.’ Wahai ummu salamah, akhlak yang baik membawa kebaikan untuk kehidupan dunia dan akhirat.’”(HR.Ath-Thabrani 17/183; tetapi sanad yang bernama sulaiman bin Abi Karimah dia lemah; baca kitab Majamauz Zawaid wa Manbaul Fawaid 11/373)

Wanita boleh menawarkan dirinya agar dinikahkahi oleh pria yang shalih, untuk menjaga kehormatan dirinya, sebagaimana Nabi ﷺ pernah di tawari seorang wanita untuk di nikahi oleh beliau ﷺ.
Sahal bin Sa’ad berkata,”Seorang wanita datang menemui Rasulullah ﷺ lalu berkata,’Wahai Rasulullah, saya menawarkan diri saya untuk engkau.’Tiba-tiba ada seorang laki-laki berkata,’Nikahkanlah saya dengannya.’Beliau berkata,’ Kami nikahkan kamu dengannya dengan mahar bacaan al-Quran yang ada padamu.’“(HR. Bukhari: 2144)

Begitu indahnya keadaan para istri beliau ﷺ. Karena iman, hidup mereka rukun. Semoga kisah ini menjadi suri tauladan istri lainnya. Mari kita perhatikan wasiat beliau ﷺ. Nabi ﷺ bersabda,

أَيُّمَا امْرَأَةٍ سَأَلَتْ زَوْجَهَا طَلاقًا فِي غَيْرِ مَا بَأْسٍ فَحَرَامٌ عَلَيْهَا رَائِحَةُ الْجَنَّة

Siapa saja wanita yang meminta suami agar menceraikan dirinya tanpa alasan yang benar maka haram dia mencium bau surge.” (HR. Abu Dawud dishahihkan oleh al-Albani 6/469)

Dari Abu Hurairah, ia berkata, ”Rasulullahﷺ bersabda,
Janganlah seorang wanita meminta perceraian atas saudara perempuannya agar ia segera (dapat) dinikahi, sebab baginya hanyalah apa yang telah di tetapkan.’ “ (HR. Bukhari 6/2435)

Akhirnya, semoga Allah ﷻ memberkahi hidup kita berkeluarga, menjadi suami dan istri yang mengikuti jejak Rasulullah ﷺ dan istrinya. Amin.

***
Sumber: Artikel “Keteladanan Para Istri Nabi” Oleh Ustadz Aunur Rofiq bin Ghufron dimuat di Majalah Al-Furqon 127 Edisi 1 Tahun ke 12
Wanitasalihah.com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *