Apa Arti “Radhiyallahu ‘Anhu”?


Saudariku yang salihah, pernahkah Anda mendengar atau membaca nama sahabat Nabi digandengkan dengan ucapan “radhiyallahu ‘anhu”? Bagaimana pula dengan istilah “radhiyallahu ‘anha”, “radhiyallahu ‘anhuma”, dan “radhiyallahu ‘anhum”, pernahkah Anda menjumpainya?

Istilah tersebut biasanya digandengkan dengan nama para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Misalnya, Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu ‘anhu, Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, Ali bin Abi Talib radhiyallahu ‘anhu, Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma, Aisyah radhiyallahu ‘anha, Fatimah radhiyallahu ‘anha, dan lain-lain.

Definisi “sahabat Nabi”

Dalam kitab Ushulul Iman fi Dhaw’il Kitabi was Sunnah, disebutkan bahwa definisi:

الصحابي هو من لقي النبي صلى الله عليه وسلم مسلمًا ومات على ذلك

Sahabat Nabi adalah orang yang bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, dia masuk Islam (semasa Nabi masih hidup), dan dia wafat di atas keislaman tersebut.

Dari definisi di atas, bisa kita simpulkan bahwa ada tiga kriteria yang semuanya harus dipenuhi agar seseorang bisa disebut “Sahabat Nabi”, yaitu:

  1. Semasa hidupnya sempat bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  2. Masuk Islam semasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup.
  3. Meninggal dalam keadaan Islam; tidak pernah murtad hingga akhir hayatnya.

Contoh orang yang hanya memenuhi satu atau dua dari kriteria di atas (tidak memenuhi semua kriteria), sehingga tidak termasuk “sahabat Nabi”:

1. Abu Thalib, Abu Jahal, dan Abu Lahab adalah para tokoh pembesar Quraisy yang semasa hidupnya bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, mereka tetap kafir semasa hidupnya dan mati di atas kekafiran tersebut. Berarti, mereka memenuhi kriteria ke-1, tapi tidak memenuhi kriteria ke-2 dan ke-3.

2. Uwais Al-Qarani adalah seorang lelaki yang berasal dari kabilah “Qaran” di negeri Yaman. Uwais masuk Islam dan meninggal dalam keadaan sebagai muslim. Semasa hidupnya, Uwais sangat rindu untuk bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Beliau berusaha bertemu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Akan tetapi, hingga Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat, Uwais belum sempat bertemu langsung dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Oleh sebab itu, meski Uwais memenuhi kriteria ke-1 dan ke-3, tapi Uwais tidak memenuhi kriteria ke-2, sehingga Uwais tidak termasuk dalam golongan “sahabat Nabi” namun termasuk golongan “tabi’in”. Di dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa Uwais Al-Qarani merupakan tabi’in yang terbaik.

3. Bila ada orang yang tetap kafir semasa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam masih hidup, lalu setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam wafat dia masuk Islam dan istiqamah di atas keislaman tersebut hingga akhir hayatnya, dia tidak tergolong “sahabat Nabi” karena tidak memenuhi kriteria ke-2. Dia termasuk golongan “tabi’in”.

Arti “radhiyallahu ‘anhu”

Ucapan “radhiyallahu ‘anhu” adalah bentuk doa, yang artinya “semoga Allah meridhainya”.

  • Untuk satu orang sahabat (laki-laki): radhiyallahu ‘anhu. Artinya: semoga Allah meridhainya.
  • Untuk satu orang sahabiyah (perempuan): radhiyallahu ‘anha. Artinya: semoga Allah meridhainya.
  • Untuk dua orang sahabat (baik laki-laki maupun perempuan): radhiyallahu ‘anhuma. Artinya: semoga Allah meridhai mereka berdua.
  • Untuk banyak sahabat atau sahabiyah: radhiyallahu ‘anhum. Artinya: semoga Allah meridhai mereka semua.

Contoh penggunaan “radhiyallahu ‘anhu” dan “radhiyallahu ‘anhuma”

1. Aisyah radhiyallahu ‘anha. Bila disebutkan nama Aisyah saja, cukup diucapkan “radhiyallahu ‘anha”.

2. Aisyah binti Abu Bakar radhiyallahu ‘anhuma. Bila disebutkan nama “Aisyah binti Abu Bakar”, maka selayaknya mengucapkan “radhiyallahu ‘anhuma”, karena Aisyah dan Abu Bakar merupakan sahabat Nabi.

3. Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu (ayah Abdullah bin Mas’ud meninggal pada masa jahiliyah, belum memeluk agama Islam; sehingga bila menyebut nama Abdullah bin Mas’ud, kita hanya mengucapkan “radhiyallahu ‘anhu” bukan “radhiyallahu ‘anhuma”).

4. Abdullah bin Umar radhiyallahu ‘anhuma (Abdullah adalah salah satu anak Umar bin Al-Khattab; beliau termasuk sahabat yang paling banyak meriwayatkan hadits; beliau juga dikenal dengan nama “Ibnu Umar”, yang artinya “anaknya Umar”; Abdullah dan Umar sama-sama sahabat Nabi, sehingga bila nama “Abdullah bin Umar” disebutkan maka hendaknya kita sertakan ucapan “radhiyallahu ‘anhuma”)

Apakah kita boleh mengucapkan “radhiyallahu ‘anhu” untuk ditujukan kepada selain sahabat Nabi?

Para ulama berbeda pendapat tentang penggunaan doa “radhiyallahu ‘anhu”: apakah ditujukan untuk sahabat Nabi saja atau juga boleh ditujukan untuk kaum muslimin selain sahabat (misalnya para ulama)?

Contohnya, apakah kita boleh mendoakan para imam Empat Mazhab (Abu Hanifah, Malik, Syafi’i, dan Ahmad bin Hanbal) dengan ucapan “radhiyallahu ‘anhum”?

a. Penjelasan Imam An-Nawawi rahimahullah:

Salah satu ulama yang berpendapat bolehnya mengucapkan ‘radhiyallahu ‘anhum’ untuk selain sahabat Nabi adalah Imam Nawawi.

Beliau menyatakan, ‘Mendoakan keridhaan dan rahmat bagi sahabat Nabi, tabi’in, dan kaum muslmin yang hidup setelahnya – baik itu ulama, orang yang gemar beribadah, atau orang-orang yang punya kedudukan istimewa dalam agama – adalah hal yang mustahab (dianjurkan). Oleh sebab itu, ucapan ‘radhiyallahu ‘anhu’, ‘rahmatullahu ‘alaihi’, ‘rahimahullah’, atau ucapan doa semisal itu boleh diucapkan untuk mereka.

Adapun pendapat lain dari sebagian ulama – bahwa ucapan ‘radhiyallahu ‘anhu’ itu khusus untuk sahabat Nabi, sedangkan untuk selain sahabat Nabi didoakan dengan ‘rahimahullah’ saja – adalah pendapat yang kurang tepat dan tidak sesuai dengan dalil.

Akan tetapi, yang benar adalah pendapat jumhur ulama, bahwa doa semacam itu mustahab (dianjurkan untuk diucapkan kepada selain sahabat Nabi). Dalil-dalil untuk hal ini sangat banyak, tidak bisa dibatasi. “ (Lihat di Al-Adzkar, hlm. 118)

b. Penjelasan Syaikh Utsaimin rahimahullah:

Kita mengucapkan ‘radhiyallahu ‘anhu’ untuk setiap orang mukmin, sebagaimana firman Allah Ta’ala,

وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ

“Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) dari golongan muhajirin dan anshar dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan merekapun ridha kepada Allah.” (QS. At-Taubah: 100)

Akan tetapi, para ulama biasanya menggunakan doa tersebut khusus untuk para sahabat Nabi radhiyallahu ‘anhum, yaitu ucapan para ulama untuk para sahabat Nabi, ‘Radhiyallahu ‘anhum (semoga Allah meridhai mereka semua.’

Terkadang, doa ‘radhiyallahu ‘anhu’ juga ditujukan untuk para imam besar, seperti Imam Ahmad – jadi dikatakan, ‘Imam Ahmad radhiyallahu ‘anhu, Imam Asy-Syafi’i radhiyallahu ‘anhu, Imam Abu Hanifah radhiyallahu ‘anhu, dan Imam Malih radhiyallahu ‘anhu.’

Akan tetapi, yang umum digunakan di tengah ulama adalah doa memohon keridhaan tersebut ditujukan untuk para sahabat Nabi. Bila demikianlah penggunaan istilah yang umum di kalangan ulama, maka bila kaum muslimin menggunakan ucapan tersebut untuk selain sahabat Nabi, bisa saja pendengar salah paham dengan mengira bahwa sosok yang didoakan tersebut adalah sahabat Nabi.

Oleh karena itu, (untuk menghindari kesalah-pahaman tersebut) hendaklah si pembicara menjelaskan kedudukan orang yang didoakannya (bahwa dia bukan sahabat Nabi), atau hendaklah dia ucapkan, ‘Si A– yang merupakan tabi’ut tabi’in – radhiyallahu ‘anhu …,’ sehingga pendengar tidak sampai salah sangka bahwa sosok yang disebutkan tadi adalah sahabat Nabi.

**
Referensi:

  • Kitab Ushulul Iman fi Dhaw’il Kitabi was Sunnah, 1421, terbitan Kementerian Urusan Islam, Wakaf, Dakwah, dan Penyuluhan Kerajaan Arab Saudi. Dinukil dariAl-Maktabah Asy-Syamilah.
  • Hilyatul Auliya’, Abu Nu’aim Al-Ashbahani. Dinukil dari Al-Maktabah Asy-Syamilah.
  • http://islamqa.info/160984.html

Penyusun: Athirah Mustadjab
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

***
Teks kutipan:
– Penjelasan An-Nawawi dalam Al-Adzkar:
قال الإمام النووي رحمه الله :
” يستحب الترضي والترحم على الصحابة والتابعين فمن بعدهم من العلماء والعباد وسائر الأخيار ، فيقال : رضي الله عنه ، أو رحمة الله عليه ، أو رحمه الله ، ونحو ذلك .
وأما ما قاله بعض العلماء : إن قول : رضي الله عنه مخصوص بالصحابة ، ويقال في غيرهم : رحمه الله فقط ، فليس كما قال ، ولا يوافق عليه ، بل الصحيح الذي عليه الجمهور استحبابه ، ودلائله أكثر من أن تحصر ” انتهى من ” الأذكار ” (ص/118)
:
– Penjelasan Syaikh Utsaimin:
” نحن نقول رضي الله عن كل مؤمن ، كما قال الله تعالى : ( وَالسَّابِقُونَ الْأَوَّلُونَ مِنَ الْمُهَاجِرِينَ وَالْأَنْصَارِ وَالَّذِينَ اتَّبَعُوهُمْ بِإِحْسَانٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمْ وَرَضُوا عَنْهُ )
لكن المعروف عند أهل العلم تخصيص الصحابة رضي الله عنهم بقولهم فيهم : رضي الله عنهم ، وأما من بعد الصحابة من التابعين إلى زمننا هذا يقولون فيهم رحمه الله ، وإن كان بعض العلماء قد يقول : رضي الله عنه في الأئمة الكبار ، كالإمام أحمد ، قال الإمام أحمد رضي الله عنه ، قال الإمام الشافعي رضي الله عنه ، قال الإمام أبو حنيفة رضي الله عنه ، قال الإمام مالك رضي الله عنه ، لكن عامة المعروف بين أهل العلم أن الترضي يكون للصحابة ، والترحم يكون لمن بعدهم ، وإذا كان هذا هو المعروف المصطلح عليه عند عامة العلماء ، فإن الإنسان إذا ترضى عن شخص من غير الصحابة أوهم السامع بأن هذا الشخص من الصحابة ، فينبغي أن نتجنب ذلك ، أو أن يقول قال فلان وهو من التابعين رضي الله عنه ، قال فلان وهو من تابعي التابعين رضي الله عنه ، حتى لا يظن أحد أن هذا من الصحابة ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب “
http://www.ibnothaimeen.com/all/noor/article_8037.shtml

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *