Apakah dalam Belajar Ilmu Dunia, Kita Wajib Ikhlas?


shalat sambil mengantuk

Pertanyaan:

Saya berencana menempuh jenjang pendidikan lanjutan (magister dan doktoral) agar berkedudukan lebih mulia (melalui pendidikan) di tengah masyarakat. Akan tetapi, saya mendengar hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bahwa beliau bersabda, “Barang siapa yang memelajari ilmu sekadar untuk mendebat orang yang bodoh, untuk membanggakan diri di hadapan ulama, atau untuk menggiring masyarakat agar mengikuti dan menghormatinya maka tempat untuknya adalah neraka.”

Apakah ilmu dunia – misalnya sejarah, bahasa, kimia, dan kedokteran – termasuk dalam maksud hadits tersebut ataukah maksud hadits hanya berkenaan dengan ilmu agama? Apakah bila saya belajar ilmu dunia untuk memerbaiki pangkat/kedudukan saya di tengah masyarakat, itu haram?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama.

Hadits yang Anda sebutkan adalah riwayat Ibnu Majah, no. 253; dari Ibnu Umar radhiyallahu ‘anhuma bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ

“Barang siapa yang memelajari ilmu sekadar untuk mendebat orang yang bodoh, untuk membanggakan diri di hadapan ulama, atau untuk menarik perhatian manusia pada dirinya maka tempat untuknya adalah neraka.” (Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah, no. 254, dari hadits Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhuma; lafal ini milik beliau,

لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ

“Jangan memelajari ilmu sekadar untuk membanggakan diri di hadapan ulama dan untuk mendebat orang yang bodoh. Janganlah pilih-pilih majelis ilmu (yaitu enggan hadir di pengajian yang tidak sesuai dengan seleranya meski pengajian itu mengajarkan Al-Quran dan sunnah Nabi, pen.). Barang siapa melakukan hal-hal tersebut, maka neraka akan membakarnya.” (Hadits ini diriwayatkan oleh Al-Albani dalam Shahih Ibnu Majah)

Yang dimaksud dengan “ilmu” dalam hadits di atas dan hadits-hadits lainnya adalah ilmu agama. Itulah ilmu yang dipuja dan disanjung dalam syariat.

Itulah makna dari ilmu yang dibebankan oleh syariat untuk dipelajari, dan orang yang memelajarinya merupakan ahli waris para nabi, sebagaimana sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam,

العلماء ورثة الأنبياء

“Ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Abu Daud, no. 3641 dan selainnya; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Syaikh Abdul Aziz bin Baz rahimahullah menyatakan, “Ilmu itu bermacam-macam, tetapi berdasarkan penjelasan para ulama, ilmu (yang dimuliakan dalam agama ini) adalah ilmu syar’i. Demikianlah makna asal kata ‘ilmu’ dalam kitabullah dan sunnah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” (Majmu’ Fatawa Ibnu Baz, 2:302)

Kedua.

Penjabaran kami, bahwa ilmu yang dimaksudkan dalam hadits adalah ilmu syar’i, tidaklah menunjukkan bahwa ilmu duniawi sama sekali tidak terpuji dan tidak boleh dipelajari. Namun, ilmu duniawi tetap terpuji bila dipelajari untuk memberi manfaat bagi umat dan membantu mereka.

Abu Hamid Al-Ghazali rahimahullah berkata, “Penjelasan tentang ilmu yang statusnya fardhu kifayah. Ketahuilah, ilmu yang fardhu tidak bisa dibedakan dari jenis ilmu lainnya kecuali dengan menyebutkan beberapa macam ilmu. Ilmu, jika ditinjau dari tujuan memelajarinya, terbagi menjadi ilmu syar’i (ilmu agama) dan ilmu non-syar’i (ilmu non-agama/ilmu dunia). Yang saya maksud dengan ilmu syar’i adalah ilmu yang sumbernya semata diambil dari (ajaran) para nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam; bukan ilmu yang perlu logika seperti matematika, bukan ilmu yang perlu eksperimen seperti kedokteran, dan bukan pula ilmu dari hasil banyak mendengar seperti ilmu bahasa.

Ilmu non-agama terbagi menjadi (tiga): ilmu yang terpuji, ilmu yang tidak terpuji, dan ilmu yang mubah (netral).

Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang mengandung manfaat duniawi, misalnya: ilmu medis dan matematika. Ilmu jenis ini terbagi menjadi ilmu yang fardhu kifayah dan ilmu yang bersifat preferensi (tidak fardhu kifayah). Ilmu yang fardhu kifayah adalah ilmu yang sangat diperlukan untuk tegaknya kehidupan, seperti ilmu medis, karena ilmu jenis ini sangat krusial untuk keberlangsungan jasad. Contoh lain, matematika; sangat dibutuhkan dalam muamalah, pembagian wasiat, pembagian warisan, dan lain-lain. Andai ilmu-ilmu jenis ini tidak dipelajari di suatu negeri, tentu masyarakatnya akan kesulitan; andai ada anggota masyarakat yang mempelajari ilmu tersebut, itu sudah cukup untuk menggugurkan kewajiban (fardhu) dari anggota masyarakat lainnya.

Oleh sebab itu, tak perlu heran bila kami katakan bahwa ilmu medis dan matematika bersifat fardhu kifayah. Ilmu yang menyangkut produktivitas untuk kebutuhan hidup masyarakat juga termasuk fardhu kidayah, seperti pertanian, sejarah, politik pemerintahan, bahkan bekam dan produksi sandang (menjahit, dan semacamnya); jikalau di sebuah negeri tidak ada orang yang menguasai ilmu bekam, itu jadi penyebab mereka lebih mudah sakit, dan mereka kesulitan karena menggiring dirinya ke arah penyakit.” (Ihya’ Ulumuddin, 1:16)

Jelas, belajar ilmu dunia pun ada yang terpuji. Ilmu-ilmu yang menyangkut produktivitas untuk keberlangsungan hidup — seperti pertanian, pedagangan, dan sebagainya — dipelajari untuk manfaat duniawi. Orang-orang mengajar dan bekerja dengan bekal ilmu tersebut. Tidak kita pungkiri, bahwa ada sumber mata pencaharian (penghasilan duniawi) yang ingin diperoleh darinya, karena ilmu tersebut bukan ibadah taqarrub semata.

Ketiga.

Pada asalnya, memelajari ilmu duniawi ini hukumnya mubah, dengan syarat meluruskan niat dalam memelajarinya, yaitu untuk menebar kebaikan kepada manusia, membantu orang yang membutuhkan, menolong orang yang lemah, mencukupi keperluan masyarakat sekitarnya, dan tujuan lain yang terpuji oleh agama, sesuai kadar manfatnya. Niat yang lurus adalah perkara yang terpuji dalam agama dan akan berbuah pahala, insyaallah.

Amal ini pada asalnya mubah, sehingga bila seseorang memelajarinya tanpa niat yang baik – seperti yang telah diutarakan di atas – maka dia tidak berdosa, tidak pula tercela.

Fatwa Al-Lajnah Ad-Daimah, “Setiap ilmu agama beserta wasilah yang disebutkan keutamaannya untuk dipelajari termasuk perkara yang dipuji Allah – baik ilmunya itu sendiri maupun amal yang dilakukan berdasarkan ilmu tersebut, yang kesemuanya dilakukan ikhlas karena Allah. Ilmu beserta wasilahnya tersebut memiliki tingkatan. Kedudukan ilmu agama ini ada di level prioritas pertama dalam belajar. Setiap ilmu duniawi yang dibutuhkan manusia dan merupakan penyokong keberlangsungan hidupnya, seperti ilmu medis, pertanian, produksi/industri, dan semacamnya juga termasuk dalam perkara yang dipuji Allah, jika niat memelajarinya benar. Dengan memelajari ilmu duniawi tersebut, diharapkan seseorang bisa mengajarkan ilmu tersebut kepada orang lain dan memanfaatkannya untuk kehidupan kaum muslimin, meningkatkan kualitas hidup, dan tidak lagi bergantung kepada orang-orang kafir maupun orang-orang yang sesat. Akan tetapi, ilmu duniawi ini diprioritaskan di nomor dua, yang posisinya ada di belakang ilmu agama. Tingkat keutamaannya bergantung kepada kaitan ilmu tersebut dengan ilmu agama, serta sejauh mana ilmu itu memberikan manfaat dan memenuhi kebutuhan hidup.” (Fatawa Al-Lajnah Ad-Daimah, 77:12)

Sumber: https://islamqa.info/ar/145767

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

**

: هل تدخل العلوم الدنيوية النافعة ضمن العلوم الشرعية فيشترط لها الإخلاص ؟
السؤال: انا مقبل على مرحلة الالتحاق بالدراسات العليا ( الماجستير والدكتوراه ) تحسينا لمكانتى بين الناس ، ولكن سمعت حديثا عن النبي صلى الله عليه وسلم يقول ( من طلب العلم ليماري به السفهاء أو ليباهي به العلماء أو ليصرف وجوه الناس إليه فهو في النار ) فهل علم الدنيا كالتاريخ واللغة والكيمياء والطب داخل فى نطاق هذا الحديث أم المقصود بالعلم فى الحديث هو علم الدين فقط وهل عندما اقوم بطلب العلم تحسينا لوضعى فى المجتمع فهو حرام ؟
تم النشر بتاريخ: 2010-03-21

الجواب :
الحمد لله
أولا :
الحديث المذكور : رواه ابن ماجة (253) عَنْ ابْنِ عُمَرَ رضي الله عنهما أَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَنْ طَلَبَ الْعِلْمَ لِيُمَارِيَ بِهِ السُّفَهَاءَ أَوْ لِيُبَاهِيَ بِهِ الْعُلَمَاءَ أَوْ لِيَصْرِفَ وُجُوهَ النَّاسِ إِلَيْهِ فَهُوَ فِي النَّارِ ) وحسنه الألباني في “صحيح ابن ماجة” .

ورواه أيضا (254) من حديث جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ رضي الله عنهما ولفظه : ( لَا تَعَلَّمُوا الْعِلْمَ لِتُبَاهُوا بِهِ الْعُلَمَاءَ وَلَا لِتُمَارُوا بِهِ السُّفَهَاءَ وَلَا تَخَيَّرُوا بِهِ الْمَجَالِسَ ، فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ فَالنَّارُ النَّارُ ) وصححه الألباني في “صحيح ابن ماجة” .

والمقصود بالعلم في هذا الحديث وغيره العلم الشرعي ، فهو المقصود ـ أصالة ـ بالثناء والمدح في خطاب الشرع .
وهو أصل خطاب الشارع بالتكليف ، وأصحابه ورثة الأنبياء ، كما قال النَّبِيّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( العلماء ورثة الأنبياء ) رواه أبو داود (3641) وغيره ، وصححه الألباني .
قال الشيخ عبد العزيز بن باز رحمه الله :
” العلم يطلق على أشياء كثيرة , ولكن عند علماء الإسلام المراد بالعلم هو : العلم الشرعي , وهو المراد في كتاب الله وسنة رسوله صلى الله عليه وسلم عند الإطلاق ” انتهى .
“مجموع فتاوى ابن باز” (2 / 302) .
ثانيا :
ما ذكرناه من أن العلم المراد بالحديث هو العلم الشرعي ، لا يعني أن العلوم الدنيوية غير محمودة بالإطلاق ، ولا مطلوبة ، بل المحمود من هذه العلوم مطلوب ، لتعلق مصالح الأمة به ، واحتياجها إليه .
قال أبو حامد الغزالي رحمه الله :
” بيان العلم الذي هو فرض كفاية : اعلم أن الفرض لا يتميز عن غيره إلا بذكر أقسام العلوم ، والعلوم بالإضافة إلى الغرض الذي نحن بصدده تنقسم إلى شرعية وغير شرعية ، وأعني بالشرعية ما استفيد من الأنبياء صلوات الله عليهم وسلامه ، ولا يرشد العقل إليه مثل الحساب ، ولا التجربة مثل الطب ، ولا السماع مثل اللغة .
فالعلوم التي ليست بشرعية : تنقسم إلى ما هو محمود ، وإلى ما هو مذموم ، وإلى ما هو مباح ؛ فالمحمود ما يرتبط به مصالح أمور الدنيا كالطب والحساب . وذلك ينقسم إلى ما هو فرض كفاية ، وإلى ما هو فضيلة وليس بفريضة ؛ أما فرض الكفاية فهو علمٌ لا يُستغنى عنه في قوام أمور الدنيا ، كالطب ؛ إذ هو ضروري في حاجة بقاء الأبدان . وكالحساب ؛ فإنه ضروري في المعاملات وقسمة الوصايا والمواريث وغيرهما . وهذه هي العلوم التي لو خلا البلد عمن يقوم بها حرج أهل البلد وإذا قام بها واحد كفى وسقط الفرض عن الآخرين .

فلا يُتعجب من قولنا : إن الطب والحساب من فروض الكفايات ؛ فإن أصول الصناعات أيضا من فروض الكفايات ، كالفلاحة والحياكة والسياسة ، بل الحجامة والخياطة ؛ فإنه لو خلا البلد من الحجام تسارع الهلاك إليهم ، وحَرِجوا بتعريضهم أنفسهم للهلاك ” انتهى .
“إحياء علوم الدين” (1/16) .
فتبين أن من علوم الدنيا ما هو محمود مطلوب ، وأن شأنها شأن الصناعات : الفلاحة والتجارة وغيرها ، تطلب لمصالح الدنيا ، وجرى الناس على تعلمها والعمل بها لذلك ، ولا ينكر التكسب من ورائها ، لأنها ليست قربة محضة .
ثالثا :
من تعلم شيئا من هذه العلوم الدنيوية المباحة ـ من حيث الأصل ـ ، بإمكانه أن يحسن نيته فيه ، يطلب الخير له وللناس ، أو سد حاجة المحتاج ، أو إعانة الضعيف ، أو إغناء أمته وسد حاجتها ، أو غير ذلك من المقاصد المحمودة شرعا ، وبقدر ما عنده من القصد الحسن ، والنية الصالحة يحمد على عمله ويؤجر عليه ، إن شاء الله ، وإن كان هذا العمل مباحا من حيث الأصل ، ولو تجرد عن ذلك القصد الحسن لم يأثم على ذلك ، ولم يكن ملوما عليه .
جاء في فتاوى اللجنة الدائمة :
” كل علم ديني مع وسائله التي تعين على إدراكه ، داخل فيما يرفع الله – من علمه وعمل به، مخلصا له – عنده درجات ، وأنه مقصود بالقصد الأول . وكل علم دنيوي تحتاجه الأمة ، وتتوقف عليه حياتها ، كالطب والزراعة والصناعة ونحوها ، داخل أيضا إذا حسنت النية ، وأراد به متعلمه والعامل به نفع الأمة الإسلامية ودعمها ، ورفع شأنها ، وإغنائها عن دول الكفر والضلال ، لكن بالقصد الثاني التابع ، ودرجات كل متفاوتة تبعا لمنزلة ذلك من الدين ، وقوته في النفع ودفع الحاجة ” انتهى .
“فتاوى اللجنة الدائمة” (12 / 77) .

والله تعالى أعلم .
راجع جواب السؤال رقم : (10675) .
https://islamqa.info/ar/145767

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *