Bahayanya Syi’ah


bahaya syiah

Semua mengetahui sikap Syi’ah terhaadap para shabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, mulai dari Abu Bakar Ash-Shiddiq,Umar Al Faruq, Dzun Nurain Utsman bin Affan, juga Ummahatul Mukminin, khususnya Ummul Mukminin Aisyah radhiyallahu ‘anha, hingga terhadap generasi agung ini secara keseluruhan. Kitab-kitab dan seluruh referensi mereka, bahkan aqidah dan ushul mereka menyatakan generasi terbaik ini fasiq dan murtad, menyatakan sesat terhadap sebagiaan besar di antaraa mereka, menuduh mereka menyembunyikan dan mendistorsi agama.

Lantas apakah kita harus mengamati dan bersikap diam saja demi terjadinya fitnah seperti ucapan mereka?

Fitnah apalagi yang lebih besar dari tuduhan rusak dan berdusta terhadap generasi yang terbaik tiada duanya ini?

Mari kita sama-sama mengulang sebuah kata-kata mendalam yang disampaikan seorang sahabat mulia, Jabir bin Abdillah radhiyallahu ‘anhu,

”Apabila akhir ummat ini melaknat awalnya, maka siapa yang memiliki ilmu, maka hendaklah ia menampakkannya, karena orang yang menyembunyikan ilmu sama saja seperti orang yang menyembunyikan apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.”

Apakah anda mengetahui seberapa dalam makna kata-kata ini?

Mencela generasi sahabat bukan sekedar mencela suatu kaum yang telah sampai kepada amalan yang telah mereka lakukan. Juga bukan seperti yang dikatakan sebagian orang bahwa celaan ini tidak membahayakan mereka, karena mereka sudah di jamin masuk surga, meski Syi’ah dan lainnya sama sekali tidak suka. Bagian yang berbahaya dari celaan terhadap para sahabat adalah celaan secara langsung terhadap agama. Kita tidak menerima agama selain dari melalui para sahabat. Jika kesesatan berupa keraguan terhadap akhlak, niat, dan amal perbuatan para sahabat disebarluaskan, lalu agama mana lagi yang harus kita ikuti? Hilang sudah agama ini jika kita menerima anggapan seperti itu. Hilang sudah hadits-hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, juga segala perintah beliau. Bahkan kita perlu bertanya kepada Syi’ah, ”Al-Qur’an apa yang kalian baca? Bukankah yang menukil Al Qur’an itu sebagian besar sahabat yang kalian cela? Bukankah yang mengumpulkan Al-Qur’an adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq yang kalian katakan mengakali khilafah? Kenapa Abu Bakar Ash-Shiddiq tidak merubah Al-Qur’an seperti halnya ia merubah sunnah menurut dugaan kalian?

Dalam sebuah hadits, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

عَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَا ِٕ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ مِنْ بَعْدِيْ

”Berpegang-teguhlah kalian kepada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk sepeninggalku.” (At-Tirmidzi, Kitab Al-‘Ilm ‘an Rausulillah shallallahu ‘alaihi wasallam Bab Ma Ja’a fil Akhdzi bis Sunnah wajtinabil Bida’ (2676); Ibnu Majah (42), Ahmad (17184))

Sunnah keempat khalifah adalah bagian tak terpisahkan dari agama Islam. Hukum-hukum dan sikap-sikap yang diterapkan Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khaththab, Utsman bin Affan, dan Ali bin Abi Thalib adalah hujjah bagi setiap muslim kapan pun dan di mana pun, hingga hari kiamat nanti. Lantas bagaimana celaan terhadap mereka bisa diterima?

Untuk itulah para ulama kita segera bangkit kala mengetahui ada seseorang yang bersikap semena-mena terhadap para sahabat melalui kata-kata,

Ahmad bin Hanbal rahimahullah pernah berkata, ”Jika kau melihat seseorang menyebut-nyebut keburukan terhadap para sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, maka curigailah keislamannya.” [Ibnu Taimiyah, Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatimir Rasul, (III/1058)].

Al-Qadhi Abu Ya’la berkata, ”Pendapat fuqaha’ terkait celaan terhadap para sahabat; jika si pelaku menganggap tindakan tersebut halal, dia kafir; dan jika tidak menganggapnya halal, dia fasik.” [Ibnu Taimiyah, Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatimir Rasul, (III/1061)].

Abu Zur’ah Ar-Razi berkata, ”Jika kau melihat orang mencela sebagian sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, aka ketahuilah bahwa dia itu orang zindiq.”[Al-Khatib Al-Baghdadi, l-Kifayah fi ‘Ilmir Riwayah,hal.49].

Sementara Ibnu Taimiyah berkata, Siapa menyatakan bahwa para sahabat murtad sepeninggal Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kecuali beberapa orang saja yang tidak sampai sekian belas, atau mereka memfasikkan seluruh sahabat, ia jelas sekali kafir.”[Ibnu Taimiyah, Ash-Sharim Al-Maslul ‘ala Syatimir Rasul,(III/1110)].

Ini pernyataan-pernyataan tegas terhadap siapa pun yang mencela sahabat, karena sahabat adalah orang-orang yang menukil agama kepada kita, maka ketika ada yang mencela sebagian di antara mereka, berarti ia menebarkan keraguan terhadap agama itu sendiri. Selain itu, generasi agung ini dipuji melalui sejumlah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di sejumlah tempat yang tak terbatas, yang menganggap celaan terhadap mereka sebagai pendustaan terhadap Allah dan Rasul-Nya.

Mungkin ada yang menyatakan, ”Kami tidak pernah mendengar si fulan dan si fulan dari kalangan Syi’ah mencela sahabat.” Mari kita alihkan perhatian orang-orang seperti pada tiga poin berikut:

Pertama, Syi’ah Itsna Asyariyah berdasarkan asas mereka menyatakan bahwa para sahabat bersekongkol terhadap Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan ahlul bait, juga terhadap imam-imam yang mereka yakini sebagai imam-imam Syi’ah. Untuk itu, seluruh orang Syi’ah Itsna Asyariyah pasti meyakini para sahabat rusak. Andai setiap orang Syiah meyakini para sahabat shalih dan baik, tentu prinsip Syi’ah runtuh hingga ke akar-akarnya. Untuk itu, setiap orang Syi’ah, baik dari kalangan pemimpin maupun pengikut, pasti tidak menghormati dan menghargai para sahabat, dan tidak mau menimba agama dari mereka dalam bentuk apa pun.

Kedua, para pemimpin syi’ah selalu menghindari sikap-sikap yang memperlihatkan kebencian mereka kepada para sahabat, meski dalam sebaagian tutur kata dan sikap, kebencian ini nampak dengan jelas, seperti yang Allah sampaikan dalam firman-Nya:

وَلَتَعْرِفَنَّهُمْ فِى لَحْنِ الْقَوْل

“Dan kamu benar-benar akan mengenal mereka dari kiasan-kiasan perkataan mereka.” (QS. Muhammad: 30)

Ketiga, perhatian terhadap akidah taqiyah yang mewakili sembilan dari sepuluh agama menurut mereka, seperti yang mereka katakan ,”Taqiyah artinya Syi’ah mengikuti pendapat yang berseberangan dengan akidah mereka kala mereka tidak memiliki kekuasaan. Namun saat mereka berkuasa, mereka menampakkan akidah mereka secara jelas. Kita telah mengetahui sejarah syi’ah, dan kita tahu saat Syi’ah menguasai negara-negara Sunni, seperti khilafah Abbasiyah di Irak, Mesir, Maghrib, dan lain sebagainya, dan mereka menganggap hal itu sebagai salah satu prinsip bagi mereka.

Melalui permasalahan ini, jelas bahwa kita perlu angkat bicara untuk menjelaskan hakikat terkait para sahabat. Jika tidak, orang yang bersikap diam terhadap kebenaran ini adalah setaan bisu, dan sikap diam akan berakibat pada lenyapnya agama ini sendiri.

Dikutip dari buku “Syahwat Politik Kaum Syi’ah-Membongkar Taktik Syi’ah dama Menguasai Dunia menuju Terbentuknya Daulah syi’ah- Karya DR.Raghib As-Sirjani, Penerbit: Multazam, Solo, Judul Asli: Asyi-Syi’ah Nidhal am Dhalal

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *