Bekal Haji


Perjalanan haji biasanya akan terkenang sepanjang hayat di benak seorang muslim yang telah menjalaninya. Apalagi untuk kaum muslimin yang negerinya jauh dari dua tanah suci.

Lamanya perjalanan memakan waktu. Besarnya biaya juga tak mungkin dihindari. Bagi sebagian orang, mengumpulkan biaya berpuluh juta mungkin mudah saja. Namun bagi sebagian yang lain, ada perih getir untuk mewujudkan impian menjalankan rukun islam yang ke-5. Perjuangan yang manisnya semanis buah kesabaran.

Sesampainya telapak kaki di haramain, perjuangan jamaah haji dimulai dengan adaptasi terhadap iklim gurun yang mungkin jauh berbeda dengan iklim Indonesia. Selama menjalankan ibadah haji, para jamaah akan berada di antara sesaknya lautan manusia. Diperlukan kesabaran, kekuatan fisik, dan tentunya tawakal kepada Allah Ta’ala.

Berbicara tentang ibadah haji, kita teringat dengan sebuah ayat di Al-Quran yang membicarakan tentang bekal perjalanan haji.

Bekal ketakwaan

Syaikh Muhammad bin Mukhtar Asy-Syinqithi di dalam kitab beliau, Adhwaul Bayan, Bab 27, 4:370, menjabarkan tafsir surat Al-Baqarah ayat 197 secara lengkap. Berikut ini beberapa poin penjabaran tersebut.

1. Jangan meminta-minta

Dalam kitab Shahih Al-Bukhari, dibawakan sebuah hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma. Beliau berkata,

كان أهل اليمن يحجُّون ، ولا يتزودون ، ويقولون : نحن التموكلون ، فإذا قدموا المدينة سألوا الناس ، فأنزل الله تعالى { وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزاد التقوى}

“Penduduk Yaman berangkat haji tetapi mereka tidak membawa bekal. Kata mereka, ‘Kami bertawakal (kepada Allah).” Setibanya mereka di Madinah, mereka meminta-minta kepada penduduk sana. Allah pun kemudian menurunkan firman-Nya,

وَتَزَوَّدُواْ فَإِنَّ خَيْرَ الزاد التقوى

‘Berbekallah dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah ketakawaan.’ (QS. Al-Baqarah: 197).” Hadits tersebut Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Uyainah dari Ikrimah, secara mursal.

Ibnu Hajar, dalam kitab Fathul Bari, menjelaskan tentang hadits ini, “Al-Muhallab berkata, ‘Di dalam hadits ini terkandung permasalahan fikih, bahwa tidak meminta-minta kepada manusia adalah sebuah bentuk ketakwaan. Dalil yang menguatkan hal tersebut adalah bahwa Allah memuji orang yang tidak meminta-minta kepada manusia dengan cara mendesak-desak. Allah Ta’ala berfirman,

فَإِنَّ خَيْرَ الزاد التقوى

‘Sebaik-baik bekal adalah ketakwaan.’

Maksudnya, berbekallah dan jaga diri kalian agar jangan sampai mengganggu manusia dengan sikap minta-minta. Hendaklah mereka semua menjauhi perbuatan dosa semacam itu.”

2. Ingin berangkat haji? Anda wajib menyiapkan bekal

Dalam ayat tersebut (Al-Baqarah: 197) juga terdapat dalil zahir tentang haramnya seseorang yang berangkat haji tanpa menyiapkan bekal kerena dia bermaksud meminta-minta kepada orang lain.

Kita wajib memahami nash berdasarkan zahir ayat ini, kecuali bila ada dalil yang memalingkan dari makna zahir tesebut. Salah satu argumen yang mendukung makna zahir tersebut adalah firman Allah Ta’ala dalam surat Al-Baqarah: 273. Di Al-Baqarah: 273, Allah memuji orang yang tidak meminta-minta kepada orang lain padahal mereka adalah orang yang paling fakir di antara orang-orang fakir.

Dalam surat Al-Baqarah ayat 273, Allah menjelaskan betapa miskinnya mereka,

لِلْفُقَرَآءِ الذين أُحصِرُواْ فِي سَبِيلِ الله لاَ يَسْتَطِيعُونَ ضَرْباً فِي الأرض يَحْسَبُهُمُ الجاهل أَغْنِيَآءَ مِنَ التعفف تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ لاَ يَسْأَلُونَ الناس إِلْحَافاً

“(Berinfaklah) kepada orang-orang fakir yang terikat (oleh jihad) di jalan Allah; mereka tidak dapat (berusaha) di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka adalah orang kaya karena mereka memelihara diri dari meminta-minta. Kamu mengenali mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang dengan cara mendesak-desak.”

Mereka fakir, tapi mereka tetap menjaga harga dirinya. Mereka tidak meminta-minta kepada manusia.

3. Fakir tapi menjaga harga diri

Apakah yang membuktikan bahwa orang-orang yang disebutkan dalam surat Al-Baqarah:273 adalah golongan orang yang sangat fakir?

Tentang firman Allah,

تَعْرِفُهُم بِسِيمَاهُمْ

“Kamu mengenali mereka dengan melihat sifat-sifatnya …”

Para ulama menjelaskan bahwa maknanya: tanda-tanda kefakiran dan perlu bantuan benar-benar tampak pada mereka.

Bagaimana dengan perjalanan haji Anda?

Kabar gembira bagi Anda yang akan segera melaksanakan salah satu rukun islam. Betapa beruntungnya Anda, dari ratusan juta orang, Allah Ta’ala memilih Anda untuk merasakan detik demi detik ibadah yang begitu dirindukan oleh kaum muslimin.

Biaya telah Anda korbankan. Waktu telah Anda luangkan. Fisik telah Anda persiapkan. Bekal makanan, harta, pakaian, obat-obatan, dan lain-lain telah Anda bawa.

Oleh sebab itu, jagalah masa-masa berharga Anda selama di tanah haram. Jagalah niat Anda, tidak perlu ada selfie di tanah suci. Allah Ta’ala sudah tahu apa yang Anda lakukan, meski manusia tak tahu.

Penuhilah waktu Anda dengan ibadah. Kesempatan emas ada di tangan Anda. Kaki Anda kini tengah terpijak di tempat yang sangat mulia di muka bumi. Maka, perbanyaklah ibadah. Singkirkan dahulu urusan duniawi yang biasanya menari-nari di benak Anda.

Perhatikan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bekal ilmu seputar tata cara ibadah haji adalah bekal terpenting agar Anda bisa meraih haji mabrur. Apa gunanya badan yang berada di sana tapi ibadah asal-asalan saja? Apa gunanya berkilo-kilo oleh-oleh yang Anda kemas untuk sanak saudara di tanah air, kalau ternyata ibadah haji Anda tak diterima di sisi Allah, karena tak sesuai tuntunan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Akhir kata, semoga Anda yang berkesempatan menjadi jamaah haji tahun ini bisa meraih haji mabrur sepulangnya Anda dari ibadah haji. Kami yang belum sempat ke sana, mudah-mudahan bisa pula menunaikan ibadah haji suatu saat nanti.


Penyusun: Athirah Mustadjab
Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *