Bila Anak Kecil Bersin, Apakah Kita Perlu Mewakilinya Mengucapkan “Alhamdulillah”?


Ummar bin Khattab

Diringkas dari http://islamqa.info/ar/182148

Pertanyaan:

Ketika anak saya (yang masih kecil) bersin, saya mengucapkan, “Alhamdulillah”. Apakah ini bi’dah?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama.

Ucapan tasymit (ucapan “yarhamukallah”) untuk orang yang bersin – jika dia mengucapkan “alhamdulillah” – merupakan salah satu adab Islam yang sangat ditekankan. Itu adalah salah satu hak seorang muslim yang sepatutunya ditunaikan muslim yang lain.

Adapun bila orang yang bersin itu tidak mengucapkan “alhamdulillah” maka dia tidak berhak diucapi “tasymit”.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 6221 dan Muslim, no. 2991; dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu; dia berkata, “Dua orang lelaki bersin di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, kemudian beliau shallallahu ‘alaihi wasallam ber-tasymit (mengucapkan “yarhamukallah”) kepada salah seorang di antara mereka berdua, namun beliau shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengucap tasymit untuk orang yang satunya. Lantas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Yang ini mengucapkan ‘alhamdulillah’, sedangkan yang satunya tidak mengucapkan ‘alhamdulillah’.”

Diriwayatkan dari Abu Buraidah; dia berkata, “Aku mendatangi Abu Musa ketika dia tengah berada di rumah putri Al-Fadhl bin Abbas. Waktu itu, aku bersin, namun Abu Musa tidak ber-tasymit kepadaku. Ketika putri Al-Fadhl bersin, Abu Musa ber-tasymit kepadanya. Aku pun pulang menemui ibuku, lalu kuceritakan kejadian tadi. Sewaktu Abu Musa mendatangi ibuku, ibuku berkata, ‘Anakku bersin di dekat Anda namun Anda tidak ber-tasymit kepadanya, sedangkan ketika putri Al-Fadhl bersin Anda ber-tasymit kepadanya.’

Abu Musa menjelaskan, ‘Anakmu bersin tapi dia tidak mengucap ‘alhamdulillah’ sehingga aku tidak ber-tasymit kepadanya, sedangkan putri Al-Fadhl bersin lalu mengucap ‘alhamdulillah’ sehingga aku ber-tasymit kepadanya. Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتُوهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَا تُشَمِّتُوهُ

Jika ada orang di antara kalian yang bersin lalu dia mengucap ‘alhamdulillah’, ber-tasymit-lah kepadanya. Namun bila dia tidak mengucap ‘alhamdulillah’, tidak perlu ber-tasymit kepadanya.‘” (HR. Muslim, no. 2992)

An-Nawawi rahimahullah berkata, “Hadits ini menegaskan tentang adanya perintah tasymit jika orang yang bersin mengucap ‘alhamdulillah’, sekaligus penegasan tentang adanya larangan tasymit jika orang yang bersin tidak mengucap ‘alhamdulillah’. Dengan demikian, hukumnya makruh ber-tasymit kepada orang yang bersin yang tidak mengucap ‘alhamdulillah’.

Bila orang yang bersin mengucap ‘alhamdulillah’ namun orang di sekitarnya tidak mendengar ucapan hamdalah-nya, maka janganlah ber-tasymit kepadanya. Malik berkata, “Orang di sekitarnya tidak perlu ber-tasymit sampai dia mendengar ucapan ‘alhamdulillah’ dari lisan orang yang bersin itu.” Lanjut Malik, “Jika Anda melihat orang di dekatnya ber-tasymit, maka hendaknya Anda pun ber-tasymit.” (Syarah An-Nawawi ‘ala Muslim, 18:121)

Kedua.

Jika yang bersin adalah anak kecil yang sudah tamyiz, serta dia paham bila diajari dan dibimbing, maka kita disyariatkan untuk mengajari dan membimbingnya untuk mengucapkan “alhamdulillah” ketika dia bersin. Sebagaimana Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam mengajari seorang anak (yang sudah tamyiz) tentang adab makan. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga memerintahkan agar (para orang tua dan pendidik) mengajari anak kecil untuk shalat. Banyak lagi contoh semacam itu dari beliau shalallahu ‘alaihi wasallam. Dalam Mathalib Ulin Nuha dinyatakan, “Anak yang masih kecil dan orang yang baru mengenal Islam hendaklah diajari mengucap ‘alhamdulillah’ ketika mereka bersin. Demikian pula, hendaklah pengajaran ini diberikan kepada orang-orang yang tumbuh di tempat terpencil, karena kemungkinan besar mereka tidak mengetahi perkara ini.

Syaikh Abdul Qadir menjelaskan, “Bila ada anak kecil yang bersin dan dia mengucap ‘alhamdulillah’, maka ucapkanlah untuknya:

  • ‘Burika fik (keberkahan atasmu).’
  • Atau hendaklah diucapkan kepadanya, ‘Jabarakallah (semoga Allah memperbaiki urusanmu).’
  • Atau ucapkanlah kepadanya, ‘Yarhamukallah (semoga Allah merahmatimu).’

Demikianlah penjelasan beliau di kitab Mathalib Ulin Nuha, 1:945. Silakan lihat juga Kasyful Qina’, 2:158.

Syaikh Abdul Qadir juga mengatakan, “Tampaknya tidak ada perbedaan hak bagi orang yang membaca hamdalah ketika bersin, baik dia anak kecil atau orang dewasa. Mereka semua berhak mendapat tasymit dengan satu lafal, yaitu ‘yarhamukallah’.” (Fathul Mu’in Syarh Alfazhul Mu’in, 4:219)

Syaikh Abdul Qadir menyebutkan, “An-Nawawi, dalam kitab Al-Adzkar, tidak membedakan antara ucapan tasymit untuk orang dewasa dan untuk anak kecil.” (Fathul Mu’in Syarh Alfazhul Mu’in, 4:219)

Ketiga.

Jika yang bersin adalah anak yang masih kecil, yang belum mencapai usia di mana dia mampu belajar dan belum bisa ditalqin untuk membaca hamdalah, maka sebagian ulama memang berpendapat bahwa wali-nya (orang tua atau walinya) yang mewakilinya untuk mengucap “alhamdulillah”.

Akan tetapi, yang tampaknya lebih tepat, bahwa ucapan “alhamdulillah” itu diucapkan hanya oleh orang yang bersin; tidak bisa diwakilkan kepada orang lain.

Kendati demikian, kondisi tertentu memotivasi orang tua berbuat demikian, misanya karena rasa kasih sayangnya atau kebaikan anaknya, sehingga kami harap perbuatan orang tua tersebut tidak mengapa, karena dia tidak bermaksud menyepelekan (syariat) dengan meninggalkan ucapan “alhamdulillah”.

Doa yang semisal itu secara umum boleh dalam syariat, tetapi sebaiknya jangan menjadikan doa-doa itu sebagai kebiasaan.

Ibnu Muflih rahimahullah berkata, dalam Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2:343, Abdullah bin Ahmad meriwayatkan dari Al-Hasan bahwa dia ditanyai tentang anak kecil yang bersin. Al-Hasan menjawab, “Katakan untuknya, ‘Burika fik (semoga keberkahan bagimu).’”

bayi-bersin

Penulis An-Nazhm berkata,

  • “Jika anak kecil bersin – maksudnya, anak kecil tahu untuk mengucap hamdalah ketika bersin, dan dia mengucapkannya – maka katakanlah kepadanya, ‘Yarhamukallah,’ atau ‘Burika fik,’ dan ucapan semacamnya, dan dia tahu bagaimana menjawab tasymit itu.
  • Jika wali anak kecil itu atau siapa pun yang ada di dekatnya saat itu mewakili si anak untuk mengucap hamdalah, maka dikatakan kepada orang tersebut seperti ucapan di atas (yarhamukallah, burika fik, dll.).”

Ibnu Muflih berkata, “Mengajari anak mengucap hamdalah adalah sesuatu yang jelas. Adapun mengajarinya cara menjawab tasymit (yaitu dengan ucapan “yahdikumullah wa yushlihu balakum”, pen.) maka silakan gunakan metode ketika menjawab salam (maksudnya, antara salam dan menjawab salam tidak digabung dalam satu ucapan, pen.).”

Namun, yang tampaknya benar adalah pendapat ulama lain, bahwa anak kecil tersebut cukup didoakan, bila dia tidak mengucap hamdalah ketika bersin. Pendapat pertama ini disanggah oleh pendapat kedua, “Doa untuk anak tersebut sudah termasuk tasymit, maka kondisinya sama seperti tasymit bagi orang dewasa yang mengucap hamdalah.”

Meski demikian, pendapat pertama tampaknya lebih tepat. Wallahu a’lam.” (Al-Adab Asy-Syar’iyyah, 2:327)

***
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

(*) Catatan Redaksi WanitaSalihah.Com:

1. Jika anak sudah bisa diajari untuk mengucap hamdalah ketika bersin, maka ajarilah. Misalnya, untuk anak yang sudah lancar berbicara, kurang lebih usia 3 tahun. Salah satu metode mendidik anak adalah membiasakannya melakukan syariat Islam dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, bila anak sudah diajari namun dia lupa mengucap hamdalah ketika bersin, ingatkan dia. Insyaallah, lambat laun anak akan terbiasa untuk mengucap hamdalah ketika bersin.

2. Perlu diingat bahwa sebelum usia baligh, seorang muslim tidak dibebani syariat (mukallaf). Oleh karena itu, orang tua maupun para pendidik hendaklah jangan menghukum anak karena mereka lupa satu atau dua hal yang sudah pernah diajarkan kepadanya.

3. Jika anak masih belum bisa mengucap hamdalah ketika bersin, karena memang usianya masih kecil, maka bila dia bersin hendaklah kita yang mendengar suara bersin tersebut mendoakan si anak. Misalnya, untuk anak yang masih bayi atau usia batita. Salah satu bentuk doa yang diajarkan oleh para salaf adalah ucapan, “Burika fik. (semoga keberkahan tercurah kepadamu).” Jadi, bukan mewakilinya mengucapkan “alhamdulillah”. Contohnya, jika anak bayi bersin, maka kita ucapkan kepadanya, “Burika fik.”

4. Ucapan Malik (“jika Anda melihat orang di dekatnya ber-tasymit, maka hendaknya Anda pun ber-tasymit”) maksudnya, jika kita duduk berjauhan dari orang yang bersin itu, kita lihat saja orang yang berada di dekatnya, karena dia yang lebih bisa mendengar apakah orang yang bersin di dekatnya mengucapkan hamdalah atau tidak. Jika dia mengucap tasymit, berarti kita pun mengucap tasymit.

Wallahu a’lam.

***

: هل يشرع إذا عطس الطفل الصغير أن نحمد الله عنه ؟
السؤال :
حين يعطس طفلي أقول أنا الحمد لله ، فهل هذه بدعة ؟ وأيضاً هل يجب علينا أن نقول الحمد لله لو عطسنا أثناء الصلاة ؟
تم النشر بتاريخ: 2013-03-05

الجواب :
الحمد لله
أولا :
تشميت العاطس ، إذا حمد الله : من الآداب الشرعية المتأكدة ، وهي حق من حقوق المسلم على أخيه .
وينظر جواب السؤال رقم : (67805) ، ورقم : (178639) .
فأما من لم يحمد الله ، فإنه لا يستحق أن يشمت :
روى البخاري (6221) ومسلم (2991) عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ : عَطَسَ رَجُلَانِ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَشَمَّتَ أَحَدَهُمَا وَلَمْ يُشَمِّتْ الْآخَرَ فَقِيلَ لَهُ فَقَالَ : ( هَذَا حَمِدَ اللَّهَ ، وَهَذَا لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ ) .
وعَنْ أَبِي بُرْدَةَ قَالَ : ” دَخَلْتُ عَلَى أَبِي مُوسَى وَهُوَ فِي بَيْتِ بِنْتِ الْفَضْلِ بْنِ عَبَّاسٍ فَعَطَسْتُ فَلَمْ يُشَمِّتْنِي ، وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَهَا ، فَرَجَعْتُ إِلَى أُمِّي فَأَخْبَرْتُهَا ، فَلَمَّا جَاءَهَا قَالَتْ : عَطَسَ عِنْدَكَ ابْنِي فَلَمْ تُشَمِّتْهُ ، وَعَطَسَتْ فَشَمَّتَّهَا ؟
فَقَالَ : إِنَّ ابْنَكِ عَطَسَ فَلَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَمْ أُشَمِّتْهُ ، وَعَطَسَتْ فَحَمِدَتْ اللَّهَ فَشَمَّتُّهَا ؛ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : ( إِذَا عَطَسَ أَحَدُكُمْ فَحَمِدَ اللَّهَ فَشَمِّتُوهُ فَإِنْ لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ فَلَا تُشَمِّتُوهُ ) رواه مسلم (2992) .

قال النووي رحمه الله :
” هَذَا تَصْرِيح بِالْأَمْرِ بِالتَّشْمِيتِ إِذَا حَمِدَ الْعَاطِس , وَتَصْرِيح بِالنَّهْيِ عَنْ تَشْمِيته إِذَا لَمْ يَحْمَدهُ فَيُكْرَه تَشْمِيته إِذَا لَمْ يَحْمَد , فَلَوْ حَمِدَ وَلَمْ يَسْمَعهُ الْإِنْسَان لَمْ يُشَمِّتهُ ، وَقَالَ مَالِك : لَا يُشَمِّتهُ حَتَّى يَسْمَع حَمْده ، قَالَ : فَإِنْ رَأَيْت مِنْ يَلِيه شَمَّتَهُ فَشَمِّتْهُ ” انتهى من ” شرح النووي على مسلم ” (18/121) .
وينظر جواب السؤال رقم : (3448) ، ورقم : (106432) .
ثانيا :
إذا كان الصبي مميزا ، يعقل التعليم والتأديب ، فإنه يشرع تعليمه وتأديبه على حمد الله إذا عطس ، كما ثبت من تعليم النبي صلى الله عليه وسلم للغلام آداب الطعام ، وأمر بتعليم الصبيان الصلاة ، ونحو ذلك .
” ( وَيُعَلَّمُ صَغِيرٌ وَقَرِيبُ عَهْدٍ بِإِسْلَامٍ الْحَمْدُ لِلَّهِ ) وَكَذَلِكَ يُعَلَّمُ مَنْ نَشَأَ بِبَادِيَةٍ بَعِيدَةٍ ، لِأَنَّهُ مَظِنَّةُ الْجَهْلِ بِذَلِكَ …
( وَيُقَالُ لِصَبِيٍّ عَطَسَ وَحَمِدَ: بُورِكَ فِيك أَوْ) يُقَالُ لَهُ : ( جَبَرَكَ اللَّهُ أَوْ ) يُقَالُ لَهُ: ( يَرْحَمُكَ اللَّهُ ) قَالَهُ الشَّيْخُ عَبْدُ الْقَادِر ..” انتهى من “مطالب أولي النهى” (1/945) وينظر ” كشاف القناع” (2/158) .
والظاهر أنه لا فرق في حق من حمد بين أن يكون صغيرا أو كبيرا ، فيشمت الكل بلفظ واحد : ” يرحمك الله ” .

قال في ” فتح المعين” (4/219) .
“ولم يفرق النووي في الأذكار بين ما يشمت به الكبير والصغير”. انتهى من “فتح المعين شرح ألفاظ المعين” (4/219) .

ثالثا :
إذا كان طفلا صغيرا ، لم يبلغ حد التعلم ، ولا يحسن أن يتلقن الحمد ؛ فقد ذهب بعض أهل العلم إلى أن وليه يحمد عنه ؛ لكن الأظهر أن الحمد إنما يطلب من العاطس ، ولا ينوب عنه غيره فيه ؛ لكن لو دعا له بما يناسب الحال ، من الرحمة ، أو الصلاح ونحوها ، فنرجو ألا يكون به بأس ، لأنه ليس مفرطا في ترك الحمد ، والدعاء لمثله مشروع في الجملة ، لكن الأولى ألا يتخذ سنة راتبة .

قال ابن مفلح رحمه الله في “الآداب الشرعية” (2/ 343):
” وَرَوَى عَبْدُ اللَّهِ بْنُ أَحْمَدَ عَنْ الْحَسَنِ أَنَّهُ سُئِلَ عَنْ الصَّبِيِّ الصَّغِيرِ يَعْطِسُ قَالَ : يُقَالُ : لَهُ بُورِكَ فِيكَ .
وَقَالَ صَاحِبُ النَّظْمِ : إنْ عَطَسَ صَبِيٌّ ، يَعْنِي : عَلِمَ الْحَمْدُ لِلَّهِ ، ثُمَّ قِيلَ : يَرْحَمُكَ اللَّهُ ، أَوْ بُورِكَ فِيكَ وَنَحْوُهُ ، وَيَعْلَمُ الرَّدَّ . وَإِنْ كَانَ طِفْلًا حَمِدَ اللَّهَ وَلِيُّهُ أَوْ مَنْ حَضَرَهُ ، وَقِيلَ لَهُ : نَحْوُ ذَلِكَ . انْتَهَى كَلَامُهُ .

[ قال ابن مفلح ] : أَمَّا كَوْنُهُ يُعَلَّمُ الْحَمْدَ فَوَاضِحٌ ، وَأَمَّا تَعْلِيمُهُ الرَّدَّ فَيَتَوَجَّهُ فِيهِ مَا سَبَقَ فِي رَدِّ السَّلَامِ [ يعني : من عدم الجمع بينهما ] ؛ لَكِنْ ظَاهِرُ مَا سَبَقَ مِنْ كَلَامِ غَيْرِهِ أَنَّهُ يُدْعَى لَهُ ، وَإِنْ لَمْ يَحْمَدْ اللَّهَ ، لَكِنْ قَدْ يُقَالُ : الدُّعَاءُ لَهُ تَشْمِيتٌ فَيَتَوَقَّفُ عَلَى قَوْلِهِ : الْحَمْدُ لِلَّهِ كَالْبَالِغِ ، لَكِنَّ الْأَوَّلَ أَظْهَرُ فِي كَلَامِهِمْ … وَاَللَّهُ أَعْلَمُ .
” انتهى من ” الآداب الشرعية ” ( 2/327) .

فتاوى ذات صلة

http://islamqa.info/ar/182148/;p0

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *