Catatan Ramadhan (1): Berpuasa supaya Langsing dan Sehat, Bolehkah?


Bagi orang yang berpuasa, ada penghapusan dosa. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebutkan hal tersebut beserta syaratnya,

من صام رمضان إيمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه

“Barang siapa yang berpuasa Ramadhan karena beriman dan mengharap pahala, dosanya yang terlalu berlalu akan diampuni.” (Muttafaqun ‘alaih)

Hadits di atas tampil dalam konteks sebab-akibat (jika-maka). Terdapat kata “imanan wah tisaban” yang berkedudukan sebagai maf’ul liajlih, yang menunjukkan alasan orang berpuasa Ramadhan. Jika seseorang berpuasa Ramadhan karena beriman dan mengharap pahala maka dosanya yang telah berlalu akan diampuni. Dengan demikian, bisa kita pahami bahwa orang yang akan mendapat ampunan dosa hanyalah orang yang berpuasa karena beriman dan mengharap pahala dari Allah.

Nah, kalau begitu, bagaimana bila orang menjadikan puasa Ramadhan sebagai momen untuk diet (supaya badan menjadi langsing), atau supaya badannya lebih sehat?

Berikut ini kami terjemahkan penjelasan Syaikh Shalih Al-Munajjid tentang amalan akhirat yang diniatkan untuk tujuan duniawi (sumber: https://islamqa.info/ar/228454). Semoga bermanfaat.

***

Amal Ibadah untuk Tujuan Duniawi

Pertanyaan:

Apakah seseorang boleh berniat melakukan ibadah namun diikuti dengan tujuan meraih manfaat duniawi?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pada asalnya, seorang muslim wajib meniatakan ibadah dan ketaatannya untuk meraih ridha Allah. Hendaknya niatnya hanya itu saja.

Adapun orang yang melakukan amalan ketaatan atau ibadah yang disertai tujuan duniawi, maka rinciannya ada dua.

Pertama. Tujuan duniawi adalah satu-satunya niat dan tujuannya.

Contoh: berpuasa hanya untuk diet dan supaya langsing, berhaji semata untuk mencari uang, berjihad hanya untuk mendapatkan ganimah, bersedekah hanya supaya sembuh dari penyakit atau mendapat pujian manusia, dan lain-lain.

Orang yang berniat semacam ini tidak akan mendapatkan bagian apa pun di akhirat.

Allah Ta’ala berfirman,

مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“Barang siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Hud: 15-16)

Ibnu Jarir Ath-Thabari berkata, “Barang siapa yang beramal shalih untuk meraih dunia – misalnya puasa, shalat, tahajjud – dan amal shalih itu dia lakukan hanya demi tujuan dunia, maka Allah berfirman (tentangnya), ‘Kuwafatkan orang yang menginginkan balasan dunia dalam keadaan sia-sia amalan yang dilakukannya karena tujuan duniawi itu, dan di akhirat dia termasuk orang yang merugi.” (Jami’ul Bayan, 12:347)

Abul ‘Abbas Al-Qurthubi berkata, “Jika dominasi niat (tujuan utamanya) dalam beramal adalah untuk tujuan duniawi maka amal yang dilakukannya itu tidak bernilai ibadah, bahkan dia dinilai sebagai orang yang bermaksiat dan akan mendapat hukuman di akhirat. Niat utamanya dalam beramal bisa jadi dalam bentuk ingin berbuat kekufuran – ini merupakan syirik akbar – atau bisa jadi dalam bentuk riya’ – ini merupakan syirik ashgar. Perincian ini berlaku jika motivasi melakukan ibadah adalah tujuan duniawi semata; indikasinya: bila tujuan duniawi itu tidak ada, dia tidak akan mau beramal.” (Al-Mufhim li Ma Asykala min Talkhishi Kitabi Muslim, 12:50)

Kedua. Dia beramal demi mengharap wajah Allah, dan pada saat yang bersamaan dia juga ingin mendapat manfaat dan keuntungan duniawi yang tergolong mubah (boleh). Dalam hal ini terdapat beberapa perincian.

Misalnya, orang yang berpuasa karena Allah dan pada saat yang bersamaan dia juga berniat ingin menyehatkan badannya.

Contoh lain:

  • Orang yang berhaji demi Allah sekaligus ingin berdagang di tempat hajinya nanti.
  • Orang yang berjihad fi sabilillah sekaligus ingin mendapatkan ghanimah (harta rampasan perang).
  • Orang yang berzakat demi Allah sekaligus ingin menjadikan hartanya berberkah dan bertambah.
  • Orang yang bersedekah demi Allah sekaligus ingin mendapatkan kesembuhan dengan sebab sedekahnya itu.
  • Silaturahmi demi mendapat pahala dari Allah sekaligus memperpanjang umur dan memperluas rezeki.

Kondisi pencampuran niat semacam ini akan berbeda-beda kedudukannya dalam syariat, tergantung seberapa besar masing-masing dominasi niat tersebut.

(1) Niat terbesarnya adalah demi mengharap wajah Allah dan mendapat pahala-Nya, maka kondisi ini tidak bermasalah.

Ath-Thahir Ibnu ‘Asyura berkata, “Jika di hatinya ada tujuan mendesak, dan hal tersebut merupakan manfaat sampingan dari sebuah ibadah – bukan maksud utamanya – maka orang tersebut diampuni (tidak berdosa). Terlebih lagi jika memang manfaat sampingan itu sulit sekali dilepaskan dari hati atau manfaat sampingan itu semakin memotivasi orang untuk beribadah.” (At-Tahrir At-Tamwir, 318:23)

Syaikh Abdurrahman As-Sa’di berkata, “Tujuan duniawi yang terikut dalam niat utama suatu amal tidaklah merusak pahala amal tersebut, jika memang niat utamanya adalah untuk mengharap wajah Allah dan negeri akhirat.”

Dengan sifat hikmah-Nya dan rahmat-Nya, Allah menjadikan balasan itu ada yang diberikan segera (di dunia) dan ada yang akan diberikan kemudian (di akhirat). Itulah janji yang diberikan Allah bagi orang-orang yang beramal shalih. Hasil dan buah dari suatu amal akan membangkitkan semangat manusia untuk beramal shalih dan memotivasinya untuk berbuat baik. Senada dengan hal itu, orang yang berdosa juga diancam dengan hukuman dan siksa, karena Allah ingin menakuti hamba-Nya sehingga di akhirat mereka dibangkitkan dalam keadaan tak melakukan dosa dan maksiat selama di dunia.

Seorang mukmin yang jujur keimanannya akan berusaha melakukan amal shalih dan meninggalkan dosa semata ikhlas karena Allah, dengan menjadikan janji dan ancaman dari Allah sebagai pendorong sampingannya di belakang tujuan utama yang sangat mulia (yaitu beramal karena Allah).” (Bahjah Qulubil Abrar, hlm. 273)

Syaikh Ibnu Utsaimin berkata, “Jika tujuan terbesarnya adalah beribadah kepada Allah (dan dia punya tujuan sampingan yang bersifat duniawi) maka dia luput dari pahala yang sempurna. Akan tetapi, hal tersebut tidak sampai membuatnya berdosa. Allah Ta’ala berfirman,

لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ

“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu.” (QS. Al-Baqarah: 198)

(2) Jika tujuan duniawi adalah niat utama (motivasi terbesarnya) maka orang tersebut tidak akan mendapat pahala sama sekali.

Syaikh Ibnu Utsaimin menjelaskan (dalam lanjutan ucapan beliau di atas), “JIka niat utamanya bukan untuk beribadah kepada Allah maka di akhirat dia tak akan mendapat pahala sama sekali. Dia hanya akan mendapat keuntungan duniawi (sesuai dengan niat awalnya, pen.). Saya khawatir, dia berdosa karena menjadikan ibadah – yang merupakan tujuan tertinggi – sebagai sarana duniawi yang rendah dan hina. Kondisi ini mirip seperti yang difirmankan Allah,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ

“Dan di antara mereka ada orang yang mencelamu tentang (distribusi) zakat; jika mereka diberi sebahagian dari padanya, mereka bersenang hati, dan jika mereka tidak diberi sebahagian dari padanya, dengan serta merta mereka menjadi marah.” (QS. At-Taubah: 58)

Di dalam Ash-Shahihain terdapat hadits riwayat Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه

“Barang siapa yang berhijrah demi tujuan duniawi atau demi wanita yang ingin dinikahinya maka keuntungan hijrahnya sesuai dengan niatnya itu.”

(3) Niat ibadah dan tujuan duniawi sama-sama seimbang di dalam hatinya.

“Di dalam hatinnya, niat ibadah maupun tujuan duniawi tidak ada yang mendominasi (kadarnya sama), maka dalam hal ini ada beberapa pendapat. Pendapat yang paling mendekati kebenaran – insyaallah – adalah dia tidak mendapat pahala sama sekali sebagaimana orang yang beramal karena Allah tapi juga beramal demi tujuan selain Allah.” (Majmu’ Fatawa wa Rasail Syaikh Al-Utsaimin, 1:99)

Salah satu hikmah Allah Ta’ala, Dia memberikan balasan yang disegerakan – yaitu keberkahan amalan ini, menyebutkan apa saja bentuk keberhakan itu untuk hamba-Nya sebagai agar memotivasi mereka dalam beramal.

فعند الله ثواب الدنيا والآخرة

“… Karena di sisi Allah ada pahala dunia dan akhirat.” (QS. An-Nisa: 134)

Dengan disebutkannya pahala dan manfaat suatu amal shalih, jiwa manusia akan terikat dengannya dan menjadikannya tujuan. Di antara bentuk kemuliaan Allah, jika seseorang meniatkan ibadah demi mengharap wajah Allah maka Allah akan memberikan kebaikan-kebaikan di dunia “negeri” baginya (yaitu di dunia dan di akhirat),

فآتٰهم الله ثواب الدنيا وحسن ثواب الآخرة

“Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat.” (QS. Ali Imran: 148)

Tidaklah tercela bila seseorang beramal demi Allah, dengan pahala akhirat sebagai tujuan utamanya dan keuntunngan duniawi (sesuai janji Allah) sebagai harapan sampingannya. Yang tercela, orang yang beramal shalih semata untuk keuntungan duniawi atau keuntungan duniawi adalah tujuan utamanya (dan tujuan akhirat hanya tujuan sampingan), dan bila tidak ada keuntungan duniawi maka dia tidak mau beramal. Allah Ta’ala berfirman,

فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار

“Maka di antara manusia ada orang yang berdoa, ‘Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia,’ dan tiadalah baginya bagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (QS. Al-Baqarah: 200)

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

“Maka aku katakan kepada mereka, ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (QS. Nuh: 10-12)

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً

“Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik.” (QS. An-Nahl: 97)

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi ….” (QS. Al-A’raf: 96)

تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ

“Lanjutkanlah haji dengan umrah, karena keduanya menghapuskan kemiskinan dan dosa, sebagaimana jilatan api mengilapkan besi, emas, dan perak. Balasan yang paling pantas bagi haji yang mabrur adalah surga.” (HR. Ahmad; dinilai shahih oleh Al-Albani)

السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ

“Siwak membersihkan mulut, diridhai oleh Rabb kita (Allah).” (HR. Ahmad, no. 33683; dinilai shahih oleh Al-Albani)

Hukum syariat yang berkaitan dengan berbagai manfaat termaktub dalam Al-Quran maupun hadits yang tak terhitung banyaknya. Di antaranya:

  • Melanjutkan haji dengan umrah agar terhalang dari kefakiran.
  • Beristigfar agar bertambah banyak harta dan anaknya.
  • Mengucapkan zikir-zikir agar Allah menjaganya dari marabahaya.
  • Shalat subuh berjamaah agar dia mendapat penjagaan Allah dan perlindungan-Nya.
  • Memberi kemudahan kepada orang yang tengah kesulitan, agar Allah memudahkan urusannya di dunia.
  • Bersalawat atas Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam agar terhindar dari kegelisahan.
  • Menunaikan zakat agar bertambah banyak harta dan berkembang.
  • Memperbanyak ibadah agar anak keturunannya dijaga oleh Allah.
  • Beristigfar agar sembuh dari penyakit.

 

Zahir nash menunjukkan bahwa seseorang boleh beramal shalih dengan maksud duniawi ini (sebagai niat sampingan yang hanya berfungsi sebagai pengikut dari niat utamanya yaitu mengharap ridha dan pahala dari Allah, pen.). Alasannya, Allah menjadikan manfaat duniawi ini untuk memotivasi hamba-Nya untuk beramal, dengan syarat: mengharap wajah Allah adalah niat utamanya (tujuan terbesarnya) dalam beramal, sedangkan tujuan duniawinya hanya ikutan (keinginan sampingan).

Oleh karena itu, sebagian salaf beramal dengan maksud tersebut. Sa’id bin Jubair berkata, “Saya banyak melakukan shalat (sunnah) untuk anakku ini.” Hisyam menjelaskan, “Dia melakukannya karena berharap Allah menjaga anaknya.” (Hilyatul Auliya’, 4:279)

Perlu kita ingat kembali, orang yang beramal ibadah semata ikhlas karena Allah dan tujuannya hanya demi pahala Allah maka inilah niat yang paling sempurna, paling utama, dan paling besar nilainya dibandingkan orang yang mengikutkan tujuan duniawi dalam amalnya meski tujuan itu hanya keinginan sampingan.

Kesimpulan:

  1. Bila seseorang yang melakukan amal ibadah dengan tujuan dunia semata, maka dia tidak aan mendapat pahala sama sekali, misalnya: bersedekah hanya supaya sembuh, membaca surat Al-Baqarah hanya untuk mendapatkan jodoh, berpuasa hanya untuk diet (supaya langsing), berjihad hanya untuk mendapat ghanimah, dan berhaji hanya supaya bisa berdagang).
  2. Bila orang melakukan amal ibadah hanya demi wajah Allah dan pahala di akhirat, sementara manfaat duniawi hanya sampingan (ikutan), bukan niat utama, maka ini tidak masalah. Wallahu a’lam.

~

(*) Catatan Redaksi WanitaSalihah.Com:

  • Tanpa berniat diet pun, bila kita berpuasa sesuai dengan tuntunan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, insyaallah badan akan sehat dan langsing dengan sendirinya.
  • Jadi, rugi sekali kalau dosa tidak diampuni karena niat puasanya hanya supaya langsing, atau niat itu yang jadi motivasi terbesarnya.
  • Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengajarkan kita untuk makan dan minum secukupnya. Jangan sampai kita menahan lapar dan dahaga sejak subuh hingga sebelum magrib, lalu ketika azan magrib berkumandang perut kita laksana bejana super besar yang menampung begitu banyak macam makanan dan minuman. Sampai-sampai untuk berdiri shalat magrib pun rasanya kita sudah tak kuat lagi. Wallahu a’lam.

~~
Oleh: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

***
حكم فعل الطاعات بقصد الفوائد الدنيوية
ملخص الجواب

السؤال:
هل يجوز للإنسان أن يفعل طاعة وعبادة لله ويقصد من ورائها الحصول على منفعة دنيوية ؟
تم النشر بتاريخ: 2015-03-03
الجواب :
الحمد لله
الأصل في المسلم أن يقصد بعبادته وطاعته مرضاة الله ، وأن تكون نيته متمحضةً لذلك .
ومن فعل الطاعة أو العبادة بقصد الحصول على ثمرة دنيوية ، فإن له في ذلك حالين:
الأولى : أن تكون الثمرة الدنيوية هي كل مبتغاه وقصده .
فيصوم لأجل الحمية والريجيم ، ويحج عن غيره طلباً للمال فقط ، ويخرج للجهاد لأجل الغنيمة ، ويتصدق بنية الشفاء أو الثناء … الخ .
فهذا ليس له في الآخرة من نصيب .
قال تعالى : (مَنْ كَانَ يُرِيدُ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا وَزِينَتَهَا نُوَفِّ إِلَيْهِمْ أَعْمَالَهُمْ فِيهَا وَهُمْ فِيهَا لَا يُبْخَسُونَ * أُولَئِكَ الَّذِينَ لَيْسَ لَهُمْ فِي الْآخِرَةِ إِلَّا النَّارُ وَحَبِطَ مَا صَنَعُوا فِيهَا وَبَاطِلٌ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ).
قال ابن جرير الطبري : ” مَنْ عَمِلَ صَالِحًا الْتِمَاسَ الدُّنْيَا صَوْمًا أَوْ صَلَاةً أَوْ تَهَجُّدًا بِاللَّيْلِ لَا يَعْمَلُهُ إِلَّا لِالْتِمَاسِ الدُّنْيَا ؛ يَقُولُ اللَّهُ : أُوَفِّيهِ الَّذِي الْتَمَسَ فِي الدُّنْيَا مِنَ الْمَثَابَةِ ، وَحَبِطَ عَمَلُهُ الَّذِي كَانَ يَعْمَلُ الْتِمَاسَ الدُّنْيَا ، وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ ” انتهى من “جامع البيان” (12/347) .
وقال أبو العباس القرطبي : ” فأما إذا كان الباعثُ عليها غير ذلك من أعراض الدُّنيا ؛ فلا يكونُ عبادة ، بل يكون معصية موبقة لصاحبها ، فإما كفرٌ ، وهو : الشرك الأكبر ، وإما رياء ، وهو : الشركُ الأصغر … هذا إذا كان الباعثُ على تلك العبادة الغرضَ الدنيوي وحده ، بحيث لو فُقِد ذلك الغرضُ لتُرِك العمل “. انتهى من “المفهم لما أشكل من تلخيص كتاب مسلم” (12/50) .
الثانية : أن يبتغي بعمله وجه الله ، ويقصد مع ذلك تحصيل الحظوظ والفوائد الدنيوية المباحة التي تترتب على العمل .
كمن صام لله ، وقصد مع ذلك حفظ صحته ، وحج لله ونوى مع ذلك التجارة ، وجاهد في سبيل الله وقصد الحصول على الغنائم ، وزكى لله قاصداً البركة ونماء ماله ، وتصدق لله ونوى مع ذلك الشفاء من المرض ، ووصل رحمه ابتغاء الأجر وطول العمر وسعة الرزق .
ففي هذه الحال يختلف الحكم بحسب ” قوة الباعث ” على العمل:
١- فإن كان الباعث الأقوى هو وجه الله وابتغاء الأجر من الله ، فلا بأس .
قال الطاهر بن عاشور : ” فَأَمَّا إِنْ كَانَ لِلنَّفْسِ حَظٌّ عَاجِلٌ ، وَكَانَ حَاصِلًا تَبَعًا لِلْعِبَادَةِ ، وَلَيْسَ هُوَ الْمَقْصُودُ ، فَهُوَ مُغْتَفَرٌ ، وَخَاصَّةً إِذَا كَانَ ذَلِكَ لَا تَخْلُو عَنْهُ النُّفُوسُ، أَوْ كَانَ مِمَّا يُعِينُ عَلَى الِاسْتِزَادَةِ مِنَ الْعِبَادَةِ “. انتهى من “التحرير والتنوير” (23/ 318).
وقال الشيخ عبد الرحمن السعدي : ” قَصْد العامل ما يترتب على عمله من ثواب الدنيا لا يضره إذا كان القصد من العمل وجه الله والدار الآخرة .
فإن الله بحكمته ورحمته رتب الثواب العاجل والآجل ، ووعد بذلك العاملين ؛ لأن الأمل واستثمار ذلك ينشط العاملين ، ويبعث هممهم على الخير ، كما أن الوعيد على الجرائم ، وذكر عقوباتها مما يخوف الله به عباده ويبعثهم على ترك الذنوب والجرائم.
فالمؤمن الصادق يكون في فعله وتركه مخلصا لله ، مستعينا بما في الأعمال من المرغِّبات المتنوعة على هذا المقصد الأعلى “. انتهى من “بهجة قلوب الأبرار” صـ 273.
وقال الشيخ ابن عثيمين :
” إن كان الأغلب عليه نية التعبد فقد فاته كمال الأجر ، ولكن لا يضره ذلك باقتراف إثم أو وزر لقوله تعالى في الحجاج: ( لَيْسَ عَلَيْكُمْ جُنَاحٌ أَنْ تَبْتَغُوا فَضْلًا مِنْ رَبِّكُمْ) “. انتهى

٢- وأما إن كان المقصد الدنيوي هو الباعث الأقوى ، فلا ثواب له.
قال الشيخ ابن عثيمين في تتمة كلامه السابق :
” وإن كان الأغلب عليه نية غير التعبد ، فليس له ثواب في الآخرة ، وإنما ثوابه ما حصله في الدنيا، وأخشى أن يأثم بذلك لأنه جعل العبادة التي هي أعلى الغايات وسيلة للدنيا الحقيرة، فهو كمن قال الله فيهم: ( وَمِنْهُمْ مَنْ يَلْمِزُكَ فِي الصَّدَقَاتِ فَإِنْ أُعْطُوا مِنْهَا رَضُوا وَإِنْ لَمْ يُعْطَوْا مِنْهَا إِذَا هُمْ يَسْخَطُونَ) …

وفي الصحيحين عن عمر بن الخطاب رضي الله عنه أن النبي، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قال: ( من كانت هجرته لدنيا يصيبها أو امرأة ينكحها فهجرته إلى ما هاجر إليه) .
٣- وإن تساوى عنده الأمران ، فلم تغلب نية التعبد ولا نية غير التعبد فمحل نظر، والأقرب: أنه لا ثواب له كمن عمل لله تعالى ولغيره”. انتهى من “مجموع فتاوى ورسائل الشيخ ” (1/99) .
ومن حكمة الله تعالى أن جعل للطاعات ثوابا معجّلا هو من بركة هذه الطاعات وذَكَر بعضها لعباده ترغيبا لهم في سلوك طريقها (فعند الله ثواب الدنيا والآخرة) .
وذِكْر هذه الثمرات والفوائد الدنيوية للأعمال الصالحة يجعل النفوس تتطلع إليها وتقصدها .
ومن كرمه تعالى أنه يعطي العاملين – إذا قصدوا وجهه – حسنات في الدارَيْن (فآتٰهم الله ثواب الدنيا وحسن ثواب الآخرة) .

وليس الذمّ لمن أنشأ العمل لله وقصده الأول ثواب الآخرة وما في الدنيا تبعٌ وفرعٌ ، وإنما الذم لمن لا يريد بعمل الخير إلا ثواب الدنيا أو يغلب عليه ذلك أو يُنشئ العمل من أجله ، وقد قال تعالى : ( فمن الناس من يقول ربنا آتنا في الدنيا وما له في الآخرة من خلاق ومنهم من يقول ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار )
ومن النصوص الشرعية التي فيها ترغيب بثمرات دنيوية :
قوله تعالى : ( فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا * يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا * وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا ).
وقال تعالى : ( مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً) .
وقال تعالى: ( وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ).
وقال صلى الله عليه وسلم : (تَابِعُوا بَيْنَ الْحَجِّ وَالْعُمْرَةِ ، فَإِنَّهُمَا يَنْفِيَانِ الْفَقْرَ وَالذُّنُوبَ ، كَمَا يَنْفِي الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ ، وَلَيْسَ لِلْحَجَّةِ الْمَبْرُورَةِ ثَوَابٌ دُونَ الْجَنَّةِ) رواه أحمد وصححه الألباني.
وقال: (السِّوَاكُ مَطْهَرَةٌ لِلْفَمِ ، مَرْضَاةٌ لِلرَّبِّ ). رواه أحمد (33683) وصححه الألباني.

فالأحكام الشرعية المعللة بفوائدها في الآيات والأحاديث لا تحصى كثرة.
ومن ذلك أيضاً:
* المتابعة بين الحج والعمرة بنية الخلاص من الفقر .
* الاستغفار بنية الحصول على الأموال والبنين .
* قول بعض الأذكار ليحفظه الله من الأذى .
* صلاة الفجر في جماعة ليكون في حفظ الله وكلاءته .
* التيسير على المعسر ، لييسر الله عليه في الدنيا .
* الصلاة على النبي صلى الله عليه وسلم للخلاص من الهموم .
* أداء الزكاة ليكثر ماله وينمو .
* الإكثار من العبادة قاصدا حفظ ذريته من بعده
* الاستغفار بنية الشفاء من المرض.
وظاهر هذه النصوص أن للإنسان أن يعمل العمل الصالح قاصداً الحصول على هذا الأثر الدنيوي المترتب عليها ؛ لأن الله لم يجعل هذه الفوائد الدنيوية إلا ترغيباً للناس بها ، بشرط أن يكون قصد وجه الله هو الباعث الأساس له على الطاعة ، وقصده لهذه الثمرات الدنيوية تبعاً وضمناً.
وعلى هذا يحمل فعل بعض السلف:
كما قَالَ سَعِيدُ بْنُ جُبَيْرٍ: ” إِنِّي لَأَزِيدُ فِي صَلَاتِي مِنْ أَجْلِ ابْنِي هَذَا ” ، قَالَ هِشَامٌ: رَجَاءَ أَنْ يُحْفَظَ فِيهِ. انتهى من “حلية الأولياء” (4/279).
ويبقى أن من فعل العبادة خالصا وقاصدا أجر الله وثوابه فقط أكمل وأفضل وأكثر أجرا ممن قصد مصلحة في الدنيا ولو تبعا
والخلاصة :
من فعل الطاعات بقصد الثمرات الدنيوية فقط : فليس له عند الله نصيب (يتصدق للشفاء ، تقرأ البقرة للزواج ، يصوم للحمية ، يجاهد للغنيمة ، يحج للتجارة ..) .
وأما من نوى وجه الله والدار الآخرة ، وجعل الفوائد الدنيوية تبعاً وضمناً ، لا أصلاً وأساساً : فلا حرج عليه .
والله أعلم .

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *