Catatan Ramadhan (2): Menjadi Orang Bertakwa dengan Berpuasa Ramadhan


Keutamaan Khadijah dan Aisyah

Allah Ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Mengapa kita diwajibkan berpuasa?

Apakah supaya kita merasa lapar dan haus? Bukan.

Akan tetapi …

لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون

“Agar kalian bertakwa.”

Allah memerintahkan kita berpuasa supaya kita menjadi orang yang bertakwa kepada Allah.

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجه في أن يدع طعامه وشراب

“Barang siapa yang tidak meninggalkan ucapan keji dan malah melakukan perbuatan keji itu, maka Allah tidak butuh dengan perbuatannya yang meninggalkan makan dan minum.”

Hendaklah kita sadar bahwa kita ini sedang berpuasa. Kita tinggalkan segala hal yang halal (di luar bulan Ramadhan) – berupa makan, minum, dan berhubungan intim suami-istri. Kita tinggalkan semua itu untuk beribadah (menghambakan diri) kepada Allah, mengerjakan perintah-Nya, dan menunaikan hal yang diwajibkan-Nya. Dengan amal ketaatan tersebut, kita harapkan diri kita bisa meraih derajat takwa.

Banyak orang menyangka bahwa puasa Ramadhan itu hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan berhubungan intim suami-istri. Karena itulah, mereka menghabiskan sepanjang siangnya dengan tidur, mengerjakan hal yang sia-sia, bermain-main, dan semacamnya. Perbuatan mereka ini keliru.

Seharusnya, jika seorang muslim sedang berpuasa, maka …

  • Pendengaran, penglihatan, lisan, dan anggota tubuh juga ikut berpuasa.
  • Menjauhi hal-hal yang diharamkan Allah.
  • Menunaikan hal-hal yang diwajibkan Allah.
  • Shalat berjamaah di masjid (bagi laki-laki).
  • Banyak membaca Al-Quran.
  • Banyak bersedekah.
  • Banyak berbuat baik.

Dengan melakukan seluruh hal itu, diharapkan dia bisa mencapai tujuan disyariatkannya puasa, (yaitu agar menjadi hamba Allah yang bertakwa, pen.).

**

Sumber: Liqa’usy Syahri, 1:194-195, Maktabah Syamilah.

Diterjemahkan oleh Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

~
(*) Silakan baca faedah lain tentang takwa di Apa Arti Takwa


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُون.
قوله تعالى: كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ [البقرة:183] لماذا؟ هل لأجل أن نجوع ونعطش؟ لا. لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ [البقرة:183] أي: من أجل أن تتقوا الله.

قال النبي عليه الصلاة والسلام: (من لم يدع قول الزور والعمل به والجهل فليس لله حاجه في أن يدع طعامه وشرابه).

ومن هنا يجب أن نشعر ونحن نصوم فنمسك عما أحل الله من الأكل والشرب والنكاح، نشعر بأننا نفعل هذا تعبداً لله وامتثالاً لأمره وتنفيذاً لفرضه، وأننا نتوسل بذلك ونتوصل إلى التقوى .. إلى اجتناب المحرمات والقيام بالواجبات.

أكثر الناس يظنون أن الصيام مجرد حبس النفس عن الأكل والشرب والنكاح، فتجدهم يقضون أوقات النهار بالنوم أو العبث أو اللعب أو ما أشبه ذلك، وهذا خطأ، إذا صمت فليصم منك السمع والبصر واللسان والجوارح، اتق الله، تجنب محارم الله، قم بما أوجب الله عليك من الواجبات، صل مع الجماعة، أكثر من قراءة القرآن، أكثر من الصدقة، أكثر من الإحسان حتى تنال الحكمة التي من أجلها فرض الصوم.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *