Catatan Ramadhan (6): Orang Lain yang Diperintahkan Berpuasa selain Umat Nabi Muhammad


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمْ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Wahai orang-orang yang beriman, kalian diwajibkan berpuasa – sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa) – agar kalian bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183)

Terdapat dua faedah dalam firman Allah,

كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ

“… Sebagaimana orang-orang sebelum kalian juga diwajibkan (berpuasa).”

Faedah pertama.

Menghibur umat ini yang tengah merasakan lapar dan haus karena berpuasa. Orang akan merasa terhibur bila tahu bahwa kesulitan yang dialaminya juga pernah dialami oleh orang lain.

Faedah kedua.

Menjelaskan bahwa Allah menyempurnakan – bagi umat ini – keutamaan-keutamaan yang diberikan kepada umat-umat terdahulu.

Dari sini bisa kita lihat bahwa syariat umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam merupakan penyempurna syariat umat-umat terdahulu. Segala puji bagi Allah; kita mohon kepada-Nya agar memberi kita keistiqamahan di atas Islam.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; dia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

وعن أبي هريرة قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : ” مثلي ومثل الأنبياء كمثل قصر أحسن بنيانه ترك منه موضع لبنة فطاف النظار يتعجبون من حسن بنيانه إلا موضع تلك اللبنة فكنت أنا سددت موضع اللبنة ختم بي البنيان وختم بي الرسل ” . وفي رواية : ” فأنا اللبنة وأنا خاتم النبيين”

“Aku dan para nabi ibarat sebuah istana yang paling indah bangunannya. Di bangunan itu tertinggal satu batu-bata yang belum ada. Orang-orang yang melihatnya berputar mengitarinya dengan penuh kekaguman saking indahnya istana itu, kecuali di satu bagian batu-bata. Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.” (Muttafaqun ‘alaih)

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menggambarkan syariat beliau dan syariat umat-umat terdahulu ibarat sebuah bangunan istana. Istana itu sudah hampir sempurna, kecuali satu bagian batu-bata. Orang-orang mengitari istana itu sambil terkagum-kagum. Namun mereka pun tersadar bahwa ada bagian yang kosong; itu membuat istana berlubang dan tidak lagi sempurna.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Aku ibarat batu-bata yang menutupi bagian kosong itu, dan aku adalah penutup para rasul.

~
Referensi:
Liqa’usy Syahri, 1:194-195, Maktabah Syamilah.
Misykatul Mashabih, karya Syaikh Al-Albani, Maktabah Syamilah.

**
Penyusun: Redaksi WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *