Adab, Aklak, dan Doa

Sunnah-sunnah Ketika Minum Susu

Sunnah-sunnah Ketika Minum Susu

1. Membaca basmalah sebelum minum Dari Umar bin Abu Salamah radhiyallahu’anhuma beliau berkata, “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda kepadaku, ‏”‏سَمِّ اللَّهَ، وَكُلْ بِيَمِينِكَ‏” “Bacalah basmalah dan makanlah dengan tangan kananmu.” (HR. Bukhari No. 5376 dan Muslim No. 2022) Meskipun perintah diatas untuk makan namun berlaku pula ketika minum. Allahua’lam 2. Berdoa setelah minum susu Doanya, اللَّهُمَّ

Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir & Doa (4)

Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir & Doa (4)

Kaidah 6: Dzikir dan Do’a Berlandaskan Hadits Shahih Dzikir dan do’a yang boleh diamalkan (hanyalah) doa dan dzikir yang berlandaskan hadits yang shahih. Sebaliknya jika haditsnya lemah, maka tidak boleh diamalkan Alangkah bagusnya yang diriwayatkan oleh Imam al-Harawi rahimahullah dalam kitab Dzammul Kalam (4/68), “Bahwasanya ‘Abdullah bin al-Mubarak suatu ketika pernah tersesat disuatu jalan ketika


Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir dan Doa (3)

Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir dan Doa (3)

Kaidah 4: Dzikir dengan merendahkan suara Hukum asal dalam berdzikir yaitu dengan tidak mengeraskan suara. Allah ta’ala berfirman: وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ وَلَا تَكُنْ مِنَ الْغَافِلِينَ “Dan sebutlah (Nama) Rabb-mu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, diwaktu pagi dan petang,

Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir dan Doa (2)

Kaidah-kaidah Berharga Seputar Dzikir dan Doa (2)

Kaidah 2: Dzikir[1] di setiap Keadaan Dzikir disyariatkan dalam setiap keadaan. Allah ta’ala berfirman: فَاذْكُرُوا اللَّهَ قِيَامًا وَقُعُودًا وَعَلَىٰ جُنُوبِكُم “Ingatlah Allah diwaktu berdiri, diwaktu duduk dan diwaktu berbaring.” (Qs. An-Nisaa’: 103) Imam Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Yaitu pada seluruh keadaan kalian.” (Tafsiir Ibnu Katsir, 1/521.) Akan tetapi, hal ini dikecualikan dalam dua keadaan: Pertama

Kaidah-Kaidah Berharga Seputar Do’a dan Dzikir (1)

Kaidah-Kaidah Berharga Seputar Do’a dan Dzikir (1)

Kaidah 1: Doa dan Dzikir adalah Tauqifiyyah Dzikir-dzikir yang telah ditentukan waktu dan tempatnya, dasarnya adalah tauqifiyyah, (yaitu) harus berdasarkan dalil, contoh atau nash. Tidak boleh ditambah, dikurangi atau dirubah lafadznya walaupun maknanya shahih. Untuk lebih memahami kaidah ini perhatikan hadits berikut: Bara’ bin ‘Azib رضي الله عنه berkata: “Rasulullah صلى الله عليه و سلم


Memakai Sandal Termasuk Ibadah

Memakai Sandal Termasuk Ibadah

Saudariku, kebanyakan diri kita tidak menyadari perkara yang kita anggap sepele dalam kehidupan sehari-hari namun sejatinya merupakan ibadah yang bernilai tinggi disisi Allah Ta’ala jika kita niatkan mengikuti sunnah Rasul shallallahu’alaihi wasallam saat melakukannya. Bahkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sekecil apapun itu menjadi sebab datangnya kecintaan Allah kepada hamba tersebut

Benarkah Tidak Boleh Bicara Ketika Makan?

Benarkah Tidak Boleh Bicara Ketika Makan?

Fatwa Syaikh Abdul Aziiz Abdullah Bin Baz rahimahullah Beliau rahimahullahmenjawab tatkala diajukan pertanyaan tentang masalah ini: لا حرج في ذلك، وقد تكلم النبي – صلى الله عليه وسلم – على الطعام ووعظ الناس على الطعام وتحدث معهم على الطعام، فلا حرج في ذلك ولا بأس بذلك. والحمد لله. Tidak masalah. Nabi shallallahu’alaihi wasallam juga berbicara

Nasihat-Nasihat Nabawiyah Tentang Bakti Kepada Orang Tua

Nasihat-Nasihat Nabawiyah Tentang Bakti Kepada Orang Tua

Syaikh Muhammad bin Jamil Zainu merinci bagaimanakah cara berbakti kepada kedua orang tua dengan benar sesuai petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Agar kita mendapatkan keberhasilan di dunia dan akhirat. Berbicaralah kepada kedua orang tuamu dengan sopan jangan sekali-kali mengatakan uff (‘ah’ dan sejenisnya yang menunjukkan ketidaksukaan –pent.), dan janganlah membentak keduanya, tetapi berkatalah kepada keduanya dengan


Birrul Walidain Lebih Utama Dibandingkan Silaturahmi; Mengapa Demikian?

Birrul Walidain Lebih Utama Dibandingkan Silaturahmi; Mengapa Demikian?

Syaikh Utsaimin berkata, Salah satu contoh akhlak mulia adalah silaturahmi. Ada perbedaan antara hubungan kepada orang tua dan kepada kerabat yang lain. Hubungan yang kita jalin dengan kerabat/keluarga disebut “ash-shilah” (silaturahmi), sedangkan hubungan kita dengan orang tua disebut “al-birr” (bakti). Birr (bakti) lebih tinggi kedudukannya dibandingkan shilah, karena birr (bakti) mengandung banyak kebaikan dan ihsan.

Betapa Nikmatnya Negeri yang Aman

Betapa Nikmatnya Negeri yang Aman

نعمة الأمن من عظيم نعم الله على العباد نعمة الأمن ، فالواجب على أهل الإيمان أن يشكروا الله عز وجل على هذه النعمة العظيمة ، فإنه إذا بَدَّل النَّاس نعمة الله كُفراً ولم يشكروا المنعم جل وعلا فإن أمنهم يَتَبَدَّل خوفاً ، وطمأنينتهم تتبدل قلقاً ، فالنِّعمة إذا شُكرت قرَّت، وإذا كُفرت فرَّت. Salah satu

Apakah Berakhlak Baik Terhitung Sebagai Ibadah ?

Apakah Berakhlak Baik Terhitung Sebagai Ibadah ?

Berakhlak baik terhitung sebagai ibadah yang paling agung nilainya; dan banyak orang yang tidak menyadari akan hal ini. Ibnu Rajab berkata, “Banyak orang menyangka bahwa yang namanya ‘takwa’ itu sekedar menunaikan hak Allah saja, tanpa mengindahkan hak-hak sesama manusia…” (Jami’ul ‘Ulum wal Hikam I/454). Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alayhi wasallam pernah ditanya