Dengan Apa Engkau Menyakini Keberadaan Allah? (Jawaban Bagi Atheis)


Dikisahkan ada sekelompok orang dari aliran (sekte) Sumaniyah (yang atheis) yang berasal dari India, datang kepada Imam Abu Hanifah. Mereka datang mendebat Abu Hanifah dalam penetapan adanya pencipta.
Abu Hanifah sendiri termasuk diantara ulama yang cerdas. Dia menjanjikan agar mereka datang satu atau dua hari mendatang.
Pada hari yang disepakati mereka datang. Mereka bertanya kepada Abu Hanifah,
“Apa jawabanmu?” .
Abu Hanifah menjawab,
“Aku sedang memikirkan sebuah perahu yang sarat dengan muatan dan makanan. Ia membelah air sampai ia merapat di pelabuhan. Ia pulang pergi dengan muatan penuh tapi tidak ada nakhodanya juga tidak ada ABKnya.

Mereka berkata,
“Ini yang kamu pikirkan?”
Abu Hanifah menjawab, “Benar.”
Mereka berkata, “Kalau begitu kamu tidak berakal. Apakah masuk akal perahu yang pulang pergi tanpa nakhoda? Ini tidak masuk akal.”
Abu Hanifah berkata, “Bagaimana kalian tidak mengerti ini sedang kalian mengerti bahwa langit, matahari, rembulan, bintang-bintang, gunung-gunung, pohon, binatang dan semua manusia tanpa pencipta?”
Mereka pun tahu bahwa Abu hanifah berbicara kepada mereka dengan cara berpikir mereka sendiri. Merekapun tak mampu menjawabnya.

Seorang arab pedalaman ditanya, “Dengan apa kamu mengetahui Tuhanmu?”
Dia menjawab, “Jejak kaki adalah bukti adanya orang yang pernah berjalan. Kotoran unta adalah bukti adanya unta. Maka langit dengan bintang-bintangnya, bumi dengan jalan-jalannya dan laut dengan ombaknya, apakah itu tidak menunjukkan adanya Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat?

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatupun ataukah mereka yang menciptakan diri mereka sendiri?” (Qs. Ath Thur: 35).

Asy-Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan hafidzahullah beliau menjelaskan tetang ayat diatas,

Berdasarkan dalil aqli hanya ada tiga kemungkinan (tentang teori penciptaan), tidak ada yang keempat:

1.Kita diciptakan tanpa pencipta.

Ini sesuatu yang mustahil. Karena setiap ciptaan pasti ada yang ada yang mencipta, seperti halnya sesuatu yang bergerak pasti ada yang menggerakkan. Oleh karena itu tidak mungkin sesuatu itu dapat bergerak tanpa ada yang menggerakkannya. Ini sesuatu yang pasti diketahui oleh setiap orang yang berakal. Sesuatu yang mustahil kita dicipta tanpa ada yang menciptakan. Manusia dengan akal pikirannya -sampaipaun orang yang menentang- pasti mengetahui akan hal ini.
Jika kita sampaikan kepada seseorang, “Disana ada sebuah istana yang didalamnya ada segala sesuatu yang engkau inginkan akan tetapi istana ini muncul ,secara tiba-tiba tanpa ada yang membangun dan menyediakannya.”
Pasti oranng tidak akan mempercayainya. Merekapun mengatakan, “Ini sesuatu yang mustahil. Karena mendirikan istana itu butuh pekerja yang membangunnya dan menyediakan apa yang ada didalamnya.”

2.Kita menciptakan diri kita sendiri.

Teori yang kedua ini lebih mustahil dari sebelumnya. Karena sebelum diciptakan kita tidak ada. Dan sesuatu yang tidak ada mustahil mampu menciptakan dirinya sendiri. Karena sesuatu yang tidak ada itu sifat cacat sementara penciptaan itu butuh kesempurnaan, lalu bagaimana mungkin sesuatu yang penuh kekuranganan itu dikatan sempurna? Ini sesuatu yag mustahil.

3.Tidak ada pilihan lain kecuali yang ketiga yaitu pasti kita memiliki pencipta Dialah Rabb Dzat yang maha Kuasa.
Oleh karena itu Allah berfirman,

أَمْ خُلِقُوا مِنْ غَيْرِ شَيْءٍ

Apakah mereka itu diciptakan tanpa sesuatu?”

Apakah mereka itu diciptakan tanpa pencipta. Ini teori pertama.

أَمْ هُمُ الْخَالِقُونَ

“Atauakah mereka menciptakan diri mereka sendiri?”

Yaitu apakah mereka menciptakan diri mereka sendiri. Ini teori yang kedua.

Adapun teori yang ketiga tidak disebutkan dalam ayat ini karena jika teori pertama dan kedua tertolak maka tidak ada pilihan kecuali pada teori yang ketiga.

Dalam sebuah hadis diceritakan ada salah seorang musyrikin yang mendengar ayat ini kemudian masuklah keimanan ke dalam hatinya.
Beliau adalah Jubair Ibnu Muth’im radhiyallahu’anhu. Sebagaimana disebutkan dalam Shahih Bukhari, tatkala itu beliau sebagai tawanan perang Badar sementara Nabi shallallahu’alaihi wasallam saat itu shalat Maghrib lalu membaca surah Ath-Thuur dan melewati ayat tersebut. Jubair mendengarkannya dan berkata sembari menggambarkan kondisi dirinya ketika itu,

كاد قلبي أن يطير، ومنذ ذلك الوقت وقر الإيمان في قلبي

“Seakan-akan hatiku terbang (mendengar ayat itu). sejak saat itu keimanan bersemayam dalam hatiku.” (Al-Fath 2:274 dalam kitab Shalat dan 6:168 dalam kitab Jihad)

Beliau seorang yang lisannya fasih berbicara dan sangat menguasai sastra Arab, sehingga ia paham tentang makna ayat terebut maka asuklah keimanan dalam hatinya.

***
Sumber:
Buku Induk Aqidah Islam (Terjemah Syarah Aqidah Wasitiyah).
Hushulul Ma’mul Bi Syarh Tsalatsatul Ustsul, Syaikh Abdullah bin Shalih Al-Fauzan.
Disusun Tim Redaksi Wanitasalihah.com
Artikel wanitasalihah.com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *