Hiburan bagi Orang yang Terkena Musibah


Musibah kadang menyisakan rasa jengkel.
Penyebab musibah kadang jadi sasaran celaan.

Akan tetapi, bila hamba Allah sudah paham bahwa musibah beserta penyebabnya itu adalah takdir, yang sudah ditetapkan oleh-Nya,
Maka seharusnya dia bersabar atas takdir Allah,
Pasrahkan semua urusan kepada Allah,
Karena itulah sikap yang diperintahkan Allah bagi setiap hamba-Nya yang tertimpa musibah.

Allah Ta’ala berfirman,

مَآ أَصَابَ مِن مُّصِيبَةٍ إِلاَّ بِإِذْنِ اللَّهِ وَمَن يُؤْمِن بِاللَّهِ يَهْدِ قَلْبَهُ

“Tidak ada suatu musibah pun yang menimpa seseorang kecuali dengan seizin Allah.” (QS. At-Taghabun: 11)

Rasa jengkel (al-jaz’u) adalah lawan dari sifat sabar (ash-shabru).
Sifat sabar adalah jembatan untuk meraih sifat ridha.

Oleh sebab itu, tidak ada kebaikan sedikit pun dalam sifat lemah (al-‘ajzu) dan sifat jengkel (al-jaz’u).

Kadang kita lihat sebagian orang yang beragama,
Jika mereka dizalimi atau mereka melihat kemungkaran, lalu tidak ada orang yang menolong mereka,
Sudahlah mereka kalah,
Tak bersabar pula.
Jiwanya pun menjadi lemah,
Rasa jengkel pun memenuhi dadanya.

Dalam Shahih Muslim terdapat hadits riwayat Abu Hurairah dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, bahwa beliau shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

المؤمن القوي خير وأحب إلى الله من المؤمن الضعيف، وفي كل خير.
احرص على ما ينفعك ، واستعن بالله ، ولاتعجز.
وإن غلبك أمر فلاتقل لو أني فعلت كذا لكان كذا وكذا،
ولكن قل قدر الله وماشاء فعل ، فإن لو تفتح عمل الشيطان

Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah dibandingkan mukmin yang lemah; pada keduanya terdapat kebaikan (karena mereka semua tetaplah mukmin, pen.).

Bersemangatlah mengerjakan apa pun yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan Allah, dan jangan sampai lemah!

Andai keinginanmu tak tercapai, jangan katakan, ‘Andai saya lakukan ini dan itu maka pasti akan begini dan begitu.’

Akan tetapi, katakanlah, ‘Qadarullahi wa ma sya’a fa’ala (ini adalah ketetapan Allah; segala sesuatu yang Dia kehendaki aka Dia lakukan).’

Ucapan ‘andai’ akan membuka jalan bagi setan.” (HR. Muslim, 4:2502)

1474184941281

Barang siapa ingin menjadi orang yang bersikap ridha, hendaklah dia tahan dirinya dari sikap:

  • jengkel (al-jaz’u),
  • mengeluh (al-hal’u),
  • bersungut-sungut (at-tasyki),
  • menggerutu, dan
  • perbuatan anggota badan yang tidak pantas.

Bila dia tahan dirinya dari sikap-sikap itu maka demikianlah wujud ketegarannya dalam menerima takdir Allah dan hukum syariat-Nya.

Meski demikian, bukan berarti dia harus membuat hatinya mati rasa, tidak boleh memiliki emosi, atau tidak boleh menyimpan kesan terhadap sebuah peristiwa.

Namun, yang diharapkan dari seorang mukmin adalah …

Dia menahan dirinya, jangan sampai perasaannya terhadap musibah itu menjatuhkannya ke jurang kesalahan dan membuat hatinya mengeras.
Sebagai seorang mukmin, sepatutnya dia menghadapinya dengan sikap sabar dan tegar.

Emosi yang meletup-letup ketika menghadapi musibah bukanlah sifat orang yang ridha terhadap ketetapan dan takdir Allah.

*
Diterjemahkan secara bebas dari Majallah Jami’ah Ummul Qura’, 5:429 (diakses dari Al-Maktabah Asy-Syamilah)

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *