Hikmah Allah Menciptakan Syahwat pada Diri Manusia


hikmah diciptakan syahwat

Oleh: Saami ibn Khalid Al-Hamuud

Jenis-jenis makhluk ditinjau dari sisi keberadaan syahwat

Di antara hal yang mengagumkan dari makhluk Allah Ta’ala, bahwasanya Dia menciptakan makhluk menjadi tiga kelompok dilihat dari sisi adanya syahwat.

Ibnul Qayyim rahimahullaahu Ta’ala berkata, “Qatadah berkata,

خلق الله سبحانه الملائكة عقولا بلا شهوات ، وخلق البهائم شهوات بلا عقول ، وخلق الانسان وجعل له عقلا وشهوة ، فمن غلب عقله شهوته فهو مع الملائكة ، ومن غلبت شهوته عقله فهو كالبهائم

Allah Subhanahu wa Ta’ala menciptakan malaikat  dalam keadaan berakal tanpa syahwat. Dia menciptakan hewan-hewan ternak dengan syahwat tanpa akal. Dan Dia menciptakan manusia dan menjadikan untuknya akal dan syahwat. Barangsiapa yang akalnya mengalahkan syahwatnya, maka dia bersama (golongan) malaikat. Dan barangsiapa syahwatnya mengalahkan akalnya, maka dia seperti hewan-hewan ternak.” (Uddatush Shaabiriin,1:15)

Faidah dari perkataan tersebut, bahwa diciptakannya syahwat pasti akan menimbulkan dampak.

Ibnul Qoyyim –rahimahullahu– berkata,

الحكمة الإلهية اقتضت تركيب الشهوة والغضب في الانسان … فلا بد من وقوع الذنب والمخالفات والمعاصي ، فلا بد من ترتب آثار هاتين القوتين عليهما ولو لم يخلقا في الإنسان لم يكن إنساناً بل كان ملكاً ، فالترتب من موجبات الانسانية ، كما قال النبي :” كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون

“Hikmah ilahiyah menunjukkan adanya syahwat dan sifat marah pada diri manusia… Maka, manusia pasti akan terjerumus dalam dosa, penyimpangan dan kemaksiatan. Melekatnya pengaruh kekuatan dua sifat itu pun menjadi sebuah keharusan. Andai dua sifat tersebut tidak diciptakan pada diri manusia, maka mereka tidak akan menjadi manusia, melainkan malaikat. Maka, keberadaan dua sifat tersebut (syahwat dan marah) termasuk dari tabiat manusia. Sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam, “Setiap anak  Adam pasti sering berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang berbuat kesalahan adalah yang selalu bertaubat.” (Miftahu Darissa’adah, 1:297)

 

tingkat manusia mengendalikan syahwat
Hikmah diciptakannya syahwat pada diri manusia

Ahlul ilmi menyebutkan beberapa hikmah berkenaan penciptaan syahwat pada diri manusia, diantaranya:

  1. Untuk memperbanyak dan menjaga keturunan.

Ibnul Qayyim rahimahullaahu ta’ala berkata berkenaan dengan Adam dan Hawa,

ثم لما أراد الله سبحانه أن يذرّ نسلهما في الأرض ويكثره وضع فيهما حرارة الشهوة ونار الشوق والطلب وألهم كلا منهما اجتماعه بصاحبه فاجتمعا على أمر قد قدر

“Ketika Allah menghendaki keturunan mereka berdua berkembang dan menjadi banyak di bumi. Maka Allah karuniakan pada mereka berdua gejolak syahwat, gelora kerinduan, hasrat untuk menikah (jima’) dan mengilhami masing-masing dari mereka untuk berkumpul dengan pasangannya. Maka, keduanya berkumpul untuk suatu urusan yang telah ditetapkan”. (At-Tibyan fi Aqsamil Qur’an, 1: 205)

  1. Sebagai cobaan dan ujian

Ibnul Qayyim rahimahullah berkata,

فلم تقو عقول الأكثرين على إيثار الآجل المنتظر بعد زوال الدنيا على هذا العاجل الحاضر المشاهد ، وقالوا : كيف يباع نقد حاضر وهو قبض باليد بنسيئة مؤخرة وُعِدنا بحصولها بعد طي الدنيا وخراب العالم ، ولسان حال أكثرهم يقول : خذ ما تراه ودع شيئا سمعت به فساعد التوفيق الإلهي من علم أنه يصلح لمواقع فضله فأمده بقوة إيمان وبصيرة رأى في ضوئها حقيقة الآخرة ودوامها وحقيقة الدنيا وسرعة

Kebanyakan orang yang berakal tidak akan mampu mendahulukan sesuatu yang akan datang yang masih ditunggu setelah hancurnya dunia ini d iatas sesuatu yang ada sekarang, yang terlihat.

Merekapun berkata, ‘Bagaimana mungkin sesuatu yang tunai, hadir, dan langsung diterima dengan tangan dijual dengan penangguhan yang di akhirkan. Kami diberi janji mendapatkan balasan tersebut setelah perputaran dunia dan hancurnya alam semesta.’

Keadaan mereka ini sama saja dengan mengatakan, ‘Ambil apa saja yang engkau lihat dan tinggalkan apa yang engkau dengar tentangnya.’ Maka yang mampu menolong (seseorang) hanyalah taufiq dari Allah. Barangsiapa yang mengetahui bahwa dirinya akan menjadi baik karena keutamaan taufiq, maka ia akan melengkapi taufiq tersebut dengan kekuatan iman dan bashirah. Ia akan melihat di dalam cahaya bashirah, hakikat akhirat dan keabadiaannya serta hakekat dunia dan begitu cepat kerusakannya. (Syifaul’aliil, 1: 265)

Oleh karena itu ditanyakan kepada Umar Bin Khattab, “Manakah yang lebih utama, Seseorang yang syahwatnya tidak pernah muncul dalam pikirannya, dan tidak pernah terlintas dalam bayangannya ataukah seseorang yang jiwanya merindukan berbuat maksiat kemudian ia meninggalkannya karena Allah ?”

Kemudian Umar menjawab,

إن الذي تشتهى نفسه المعاصي ويتركها لله عز وجل من الذين امتحن الله قلوبهم للتقوى لهم مغفرة وأجر عظيم

“Sesungguhnya orang-orang yang jiwanya menginginkan kemaksiatan kemudian ia meninggalkan kemaksiatan tersebut karena Allah, mereka itulah termasuk orang yang diuji hatinya oleh Allah untuk bertakwa. Bagi mereka ampunan dan pahala yang besar.” (Al Fawaid, 1:110)

 

meninggalkan maksiat karena Allah

 

  1. Agar seorang hamba menghadap diri kepada Allah dan menghinakan diri di hadapan-Nya.

Terjatuhnya seorang hamba ke dalam dosa karena pengaruh syahwat, termasuk diantara sebab taubat, penyesalan, kepasrahan, dan kerendahan diri kepada Allah.

Ibnul Qayyim juga berkata,

العبد قد بلي بالغفلة والشهوه والغضب ، ودخول الشيطان على العبد من هذه الابواب الثلاثة ، فإذا أراد الله بعبده خيرا فتح له من ابواب التوبة والندم والانكسار والذل والافتقار والاستعانة به وصدق اللجأ إليه ودوام التضرع والدعاء و التقرب إليه بماأمكن من الحسنات ما تكون تلك السيئة به رحمة ، حتى يقول عدو الله: يا ليتنى تركته ولم أوقعه .

“Seorang hamba diuji dengan kelalaian, syahwat, amarah dan masuknya setan kedalam (jiwa) hamba melalui ketiga pintu ini. Jika Allah menghendaki kebaikan pada seorang hamba, Allah akan membukakan pintu-pintu taubat, penyesalan, kepasrahan, kerendahan, rasa butuh kepada Allah, permohonan perlindungan kepada Allah (dari setan), benar-benar bersandar, selalu tunduk, berdoa dan mendekatkan diri kepada Allah dengan segala bentuk kebaikan yang mungkin dilakukan. Dengan amalan tersebut keburukan-keburukan mendatangkan rahmat. Sehingga musuh Allah akan berkata, “Andai saja aku meninggalkannya dan tidak pernah menetap pada dirinya.”

Inilah maksud ucapan sebagian salaf:

إن العبد ليعمل الذنب يدخل به الجنة ويعمل الحسنة يدخل بها النار .

“Seorang hamba melakukan dosa yang menjadi penyebab dia masuk surga, dan dia melakukan kebaikan yang justru menjadi penyebab dia masuk neraka.”

Mereka berkata, “Bagaimana bisa?”

Ulama salaf menjawab,

يعمل الذنب فلا يزال نصب عينيه منه مشفقا وجلا باكيا نادما مستحيا من ربه تعالى ناكس الراس بين يديه منكسر القلب له، فيكون ذلك الذنب انفع له من طاعات كثيرة بما ترتب عليه من هذه الامور التي بها سعادة العبد وفلاحه حتى يكون ذلك الذنب سبب دخوله الجنة . ويفعل الحسنة فلا يزال يمن بها على ربه ويتكبر بها ويرى نفسه ويعجب بها ويستطيل بها ويقول : فعلت وفعلت فيورثه من العجب والكبر والفخر والاستطالة ما يكون سبب هلاكه .

“Dia berbuat dosa, namun kemudian di depan kedua matanya selalu terbayang rasa mengiba kepada Rabb-nya dan takut kepada-Nya. Dia menangis. Dia menyesal. Dia malu kepada Rabb-nya. Kepalanya tertunduk di hadapan Rabb-Nya, dengan hati yang pecah berkeping-keping.

Dengan begitu, dosa yang dia lakukan justru membawa manfaat yaitu dengan semakin giat berbuat ketaatan sebanyak-banyaknya (demi menebus dosa-dosanya, pen.), dengan segala bentuk amal shalih yang bisa mengantarkan seorang insan menuju kebahagiaan dan kemenangan hakiki. Akhirnya, dosa yang pernah ia perbuat menjadi penyebab dirinya masuk surga.

(Sebaliknya), dia mungkin saja melakukan kebaikan, kemudian senantiasa merasa telah berjasa kepada Rabb-nya dan muncul rasa angkuh di hatinya. Dia kagum terhadap dirinya sendiri dan takjub atas amal kebaikan yang telah dia lakukan. Terus saja dia begitu, bahkan dia berkata, “Saya sudah berbuat begini. Saya sudah berbuat begitu.” Akhirnya, sikapnya yang demikian mewariskan rasa takjub, sikap angkuh, sikap berbangga diri, dan perasaan yang terus bermunculan itu menjadi ‘jembatan’ baginya menuju kebinasaan.” (Al-Wabilush Shayyib, 1:14)

 

dosa yang membawa pelakunya ke surga

 

  1. Agar seorang hamba mempunyai gairah untuk mendapatkan ganjaran dan kecintaan terhadap akherat karena balasan di akherat lebih sempurna dari syahwat di dunia.

Sesungguhnya jika manusia telah merasakan kelezatan-kelezatan dunia, niscaya dia akan mencoba merasakan hal lain yang lebih utama. Adapun kelezatan yang sempurna di akhirat, maka sepantasnya lebih besar lagi keinginan mencari kelezatan tersebut.

**

Sumber: http://www.saaid.net/gesah/sami/38.htm
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah Wanitasalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *