Kebahagiaan Suami Terletak Pada Keshalihahan Istri


Istri Shalihah

Pemenuhan istri terhadap hak-hak suami dan penjagaannya terhadap adab-adab pergaulan rumah tangga, bukan satu-satunya faktor yang mampu membangkitkan kebahagiaan di seluruh sisi rumah dan semua urusan kehidupan rumah tangga. Keshalihan istri, kelurusan agama dan akhlaknya, secara umum adalah faktor penting untuk menguasai kunci cinta di dalam hati suami.

Hal itu berdasarkan alasan bahwa istri shalihah memandang mempergauli suami secara patut sebagai ibadah, yang dibaliknya ia mengharapkan pahala besar dari Allah. Bukan semata-mata bertujuan mendapat hati suami. Selanjutnya, ia ikhlas memelihara pergaulan ini untuk suaminya, baik saat ia ada atau tidak ada, tulus mengungkapkan perasaan kepada suami, ucapannya, kasih sayangnya, nasihatnya dan dalam melayani rumah tangganya.

Keshalihan istrilah yang membuat penunaiannya pada hak-hak suami, baik yang wajib maupun sunnah, sebagai penunaian yang dipenuhi kasih sayang dan keikhlasan. Sebab, ia mengerti betul pahala yang diterima seorang istri yang taat dan memelihara hak-hak suami. Pun dengan keshalihan ini, berarti ia melaksanakan sabda Rasulullah shallallahu ’alaihi wa sallam,

”Apabila wanita menunaikan shalat lima waktu, puasa bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya dan menaati suaminya, maka dikatakan padanya, ’Masuklah surga dari pintu manapun yang engkau inginkan’.” (HR. Ahmad)

Ia mengerti bahwa keshalihan mencakup menjalankan shalat, puasa, menjaga kemaluan dan menaati suami. Ia juga tahu bahwa dengan terhimpunnya perkara-perkata ini pasti mengantarkannya ke surga, dimana ia masuk melalui pintu surga mana pun yang dikehendakinya.

Inilah yang memacu dirinya rela berkorban dalam melayani suami, persis seperti motivasi yang mendorongnya memunanikan shalat tepat waktu, puasa pada bulan Ramadhan dan menjaga kehormatannya.

Dan manakala suami mengetahui ibadah yang dikerjakan istri dengan manaati, berbakti dan menyayangi dirinya, pasti ia bertambah sayang padanya dan semaking lengket dengannya. Sebab, ia paham sikap hormat isti pada dirinya tidak saja didasari naluri alamiah yang bisa tergerus seiring perjalanan waktu, atau goyah di saat tak berdaya dan diterpa ujian, tapi penghormatan tersebut dilandasi pondasi yang kuat dan prinsip teguh. Tak goyah oleh terpaan badai kondisi betapa pun beratnya. Itulah ketakwaan kepada Allah.

Batas minimal keshalihan pribadi seorang wanita adalah ia menunaikan hak-hak wajib suami, menjauhi perbuatan zalim dan tidak menyakitinya.

Wanita, betapa pun lemah dirinya di hadapan suami, ia juga sangguh sanggup menyakiti pasangannya, andai ia mau melakukannya. Tipu daya wanita itu bagai rahasia yang tersembunyi rapat dalam tabiatnya, hanya Allah yang mengetahui. Sepanjang usia sejarah kaum laki-laki dibuat bingung mengungkap rahasia ini.

Firman Allah ta’ala:
إِنَّهُ مِنْ كَيْدِكُنَّ إِنَّ كَيْدَكُنَّ عَظِيمٌ
“Sesungguhnya (kejadian) itu adalah diantara tipu daya kamu, Sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.” (QS. Yusuf: 28)

Dalam ayat tersebut terdapat isyarat akan besarnya tipu daya yang dimiliki wanita pada umumnya.

***

Diambil dari buku “Suami Shalih Aku Merindukanmu”, Syaikh Nada Abu Ahmad dan Abul Hasan bin Muhammad Al-Faqih, penerbit Kiswah Media

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *