Ketika Hidup Tak Semanis Gula


sabar

Musim tidak selalu semi..
Langit tidak selalu cerah..
Bunga tidak selalu bermekaran..
Begitulah kehidupan, tidak selalu terasa manis..

Ada kalanya jatuh. Ada kalanya sakit. Ada kalanya kehilangan. Ada kalanya terhimpit. Namun sejatinya ada sebuah senjata yang bisa merubah semuanya menjadi selalu terasa manis. Senjata itu adalah kelebihan yang hanya dimiliki oleh orang-orang beriman dan tidak dimiliki selainnya.

Kesabaran. Ya… senjata itu adalah sabar.

Berbahagialah Menjadi Seorang Mukmin

Berbahagialah menjadi seorang mukmin karena Allah benar-benar Maha Adil. Allah memberi kesempatan kepada semua orang untuk bisa masuk surga. Allah tidak menciptakan surga hanya untuk orang kaya. Lantas kenapa orang miskin harus bersedih? Orang kaya bisa bersedekah dan berinfak di jalan Allah dengan kelapangan hartanya. Semua orang mengakui keutamaan tersebut. Tetapi ternyata orang miskin juga bisa. Seorang istri yang sabar dan qanaah terhadap suaminya yang pas-pas an. Dia tetap tersenyum, menahan diri dari mengeluh, cemberut dan merengek. Ternyata itu juga sebuah keutamaan. Ternyata itu juga sebuah ladang pahala..

Pun Allah tidak menciptakan surga hanya untuk orang sehat. Lantas kenapa orang sakit harus bersedih? Orang sehat, dengan badannya yang kuat bisa melakukan banyak amal yang tidak bisa dilakukan orang sakit. Semua orang mengakui keutamaan tersebut. Tetapi ternyata orang sakit juga bisa. Seorang yang sakit tak berdaya. Dia bersabar dengan sakitnya. Ternyata itu juga sebuah keutamaan. Ternyata itu juga sebuah ladang pahala. Tidak ingatkah kita tentang kisah seorang wanita penghuni surga? Siapakah dia?

Dari Atha bin Abi Rabah, ia berkata, Ibnu Abbas berkata padaku,

“Maukah aku tunjukkan seorang wanita penghuni surga?”

Aku menjawab, “Ya”

Ia berkata, “Wanita hitam itulah yang datang kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu berkata, ‘Aku menderita penyakit ayan (epilepsi) dan auratku tersingkap (saat penyakitku kambuh). Doakanlah untukku agar Allah Menyembuhkannya.’

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, ‘Jika engkau mau, engkau bersabar dan bagimu surga, dan jika engkau mau, aku akan mendoakanmu agar Allah Menyembuhkanmu.’

Wanita itu menjawab, ‘Aku pilih bersabar.’ Lalu ia melanjutkan perkataannya, ‘Tatkala penyakit ayan menimpaku, auratku terbuka, doakanlah agar auratku tidak tersingkap.’

Maka Nabi pun mendoakannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lantas apa yang membuat kita resah..?

Kita semua mempunyai kesempatan yang sama untuk bisa masuk surga. Tidak usah khawatir. Allah tidak menuntut kita untuk membuat suatu keadaan, harus kaya, harus sehat, atau harus apa. Kita hanya berusaha saja. Adapun takdir bagaimana, itu semua wewenang Allah Rajanya manusia. Kita hanya dituntut untuk menyikapi takdir tersebut. Bagaimana seandainya Allah menakdirkan kita mendapat kelapangan atau sebaliknya, tertimpa kesempitan.

عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَلِكَ ِلأَحَدٍ إِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْراً لَهُ

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR. Muslim)

Duhai jiwa.. bersabarlah
Karena kesabaran selalu berbuah manis..

Berbahagialah menjadi seorang mukmin..
Karena semua keadaan baik lapang atau sempit bisa membuat hatinya bahagia..

Sabar Terhadap Takdir

Sabar terhadap takdir Allah berarti menahan hati dari perasaan marah, kesal, dan dongkol terhadap ketentuan Allah. Menahan lisan dari berkeluh kesah dan menggerutu akan takdir Allah. Menahan anggota badan dari bermaksiat seperti menampar wajah, menyobek pakaian, (atau membanting pintu, piring) dan perbuatan lain yang menunjukkan sikap ‘tidak terima’ terhadap keputusan Allah.

Kesabaran Itu Ada Batasnya (?)

Kata orang, “Sabar itu ada batasnya”, atau “Habis sudah kesabaranku!”, “Masak disuruh sabar terus??”.

Benarkah sabar ada batasnya?

Sabar adalah pedang yang tidak akan tumpul, tunggangan yang tidak akan tergelincir dan cahaya yang tidak akan padam. Sabar adalah lautan yang tidak bertepi. Karenanya pahalanya pun tidak bertepi dan tidak berbatas.

إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ

”Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.” (Q.S az-Zumār:10)

Sebagaimana diketahui bahwa al-Jaza’u min jinsil ‘amal (balasan itu sesuai dengan amalnya) maka kesabaran itu tidak ada batasnya sebagaimana Allah memberi pahala terhadap kesabaran tanpa ada batasnya.

Kalaulah Tidak Diuji

Sabar tidaklah semudah ketika kita mengucapkannya. Karenanya Allah memberi ujian kepada manusia berupa musibah, kesusahan dan kesempitan. Kalaulah tidak diuji, tentu semua orang akan mengaku dirinya bersabar. Tapi dengan ujian itulah, akan nampak dan tersaring siapa yang benar-benar bersabar dan siapa yang sabar hanya menjadi ucapan di bibirnya.

Seorang yang tertimpa musibah namun tidak bisa bersabar, dia seperti mendapat dua musibah, yaitu musibah itu sendiri dan musibah karena dia kehilangan pahala kesabaran.

Maka bersabarlah tatkala musibah itu datang. Semoga Allah mengampuni dosa-dosa kita karenanya. Semoga Allah mengangkat derajat kita karenanya. Semoga kita lulus ujian sebagai orang yang benar-benar beriman karena kesabaran merupakan bagian dari iman.

أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لا يُفْتَنُونَ (٢)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ (٣)

”Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan:”Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta. (Qs. Al-‘Ankabut: 2-3)

Wallahu a’lam

***

Penulis: Ummu Said

Sumber: Majalah Usroti, Edisi 5 th I, Penerbit KB Tarbiyatul Athfal

Related Post

One comment
  1. أم فاطمة

    17 June , 2014 at 1:52 pm

    جزاك الله خيرا…

    Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *