Ketika Jatuh Cinta


cinta

Jatuh cinta biasa menyambangi hati setiap insan. Hal ini telah menjadi fitrah setiap manusia yang menyukai hal-hal tertentu. Cinta pada harta, kendaraan, anak-anak dan barang-barang tertentu yang disenanginya. Seperti pada firman Allah subhanahu wa ta’ala berikut ini,

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali-Imran: 14)

Cinta tanpa pengendali keimanan sering menimbulkan masalah berupa kerasnya hati. Cinta seperti ini terkadang menjerumuskan pelakunya ke dalam kemaksiatan bahkan kekafiran. Hati yang telanjur jatuh cinta terkadang tidak mengindahkan peringatan dan nasihat dari orang lain. Karena hatinya telanjur cinta dan tertutupi cinta buta. Akibat tidak menjaga pandangan, padahal menundukkan pandangan telah dianjurkan dalam agama islam.

Dalam kisah berikut, Anda bisa perhatikan dampak buruk cinta yang tidak dikendalikan, akibat tidak menjaga pandangan.

Kisah ini disebutkan Ibnul Qoyyim,

“Diriwayatkan bahwasanya dahulu di kota Mesir ada seorang pria yang selalu ke masjid untuk mengumandangkan adzan dan iqomah serta untuk menegakkan shalat. Nampak pada dirinya cerminan ketaatan dan cahaya ibadah. Pada suatu hari pria tersebut naik di atas menara seperti biasanya untuk mengumandangkan adzan dan di bawah menara tersebut ada sebuah rumah milik seseorang yang beragama nasrani. Pria tersebut mengamati rumah itu lalu ia melihat seorang wanita yaitu anak pemilik rumah itu.

Diapun terfitnah (tergoda) dengan wanita tersebut lalu ia tidak jadi adzan dan turun dari menara menuju wanita tersebut dan memasuki rumahnya dan menjumpainya.

Wanita itupun berkata, “Ada apa denganmu, apakah yang kau kehendaki?”,

Pria tersebut berkata, “Aku menghendaki dirimu”,

Sang wanita berkata, “Kenapa kau menghendaki diriku?”,

Pria itu berkata, “Engkau telah menawan hatiku dan telah mengambil seluruh isi hatiku”,

Sang wanita berkata, “Aku tidak akan memenuhi permintaanmu untuk melakukan hal yang terlarang”,

Pria itu berkata, “Aku akan menikahimu”,

Sang wanita berkata, “Engkau beragam Islam adapun aku beragama nasrani, ayahku tidak mungkin menikahkan aku denganmu”,

Pria itu berkata, “Saya akan masuk dalam agama nasrani”,

Sang wanita berakta, “Jika kamu benar-benar masuk ke dalam agam nasrani maka aku akan melakukan apa yang kau kehendaki”.

Maka murtadlah pria itu, dan pindah ke dalam agama nasrani agar bisa menikahi sang wanita. Diapun tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut. Tatkala di tengah hari tersebut (hari dimana dia baru pertama kali tinggal bersama sang wanita di rumah tersebut-pen) dia naik di atas atap rumah (karena ada keperluan tertentu-pen) lalu ia pun terjatuh dan meninggal. Maka ia tidak menikmati wanita tersebut dan telah meninggalkan agamanya”. (Ad-Da’ wad Dawa’ hal 127)

Hati yang telah tertawan tidak sanggup untuk beranjak pergi dari orang yang dicintainya. Kebahagiaan dalam hatinya hanya ketika ia membicarakan kekasihnya. Kerinduan pada sang kekasih adalah pelipur laranya. Jatuh cinta yang salah menyebabkan ia mati dalam keadaan suul khatimah. Berhati-hatilah menaruh cinta dan kecintaan dalam hati.

Penyusun: Arviani Ardillah
Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Sumber rujukan:
http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/jagalah-pandanganmu.html

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *