Ketika Pernikahan Mulai Berjalan Begitu-Begitu Saja


pernikahan

Dalam perjalanan sebuah biduk pernikahan, dengan berlalunya waktu, tak jarang kehidupan terasa menjadi sebuah rutinitas yang begitu-begitu saja. Pulang ke rumah sekedar menjadi  rutinitas bagi suami, tak lagi seperti dulu, rumah selalu menjadi tempat yang dirindukan. Begitu juga dengan istri, kedatangan suami tak lagi menjadi sesuatu yang spesial baginya. Semuanya sekedar menjalankan tugas dan rutinitas.

Kehidupan rumah tangga senantiasa memerlukan pembaruan. Benih cinta suami istri harus selalu disiram agar tetap bersemi. Kasih sayang dalam keluarga harus selalu dijaga, agar rumah dapat mendatangkan kebahagiaan bagi penghuninya. Kalau sudah begini, siapakah yang harus memulai memperbaiki?

Pembaruan adalah tugas bersama antara suami dan istri. Masing-masing punya peran tersendiri. Masing-masing dari suami istri harus mengerti dengan baik apa saja perannya dan apa yang bisa dia perbuat untuk perbaikan. Jika satu pihak bersikap aktif sementara pihak lain bersikap acuh, maka ini akan mematikan semua usaha dalam melakukan perbaikan. Sikap aktif suami harus diimbangi dengan sikap aktif dari pihak istri. Begitu juga sebaliknya.

Ada seorang istri yang jika mendekati suaminya, dan mencandainya dengan kata-kata indah dan ungkapan-ungkapan perasaan, suaminya berkata dengan wajah muram, “Bukan sekarang waktunya, saya sedang sibuk.” Dan jika suatu saat suami melontarkan kata-kata menarik di telinga istrinya, tapi bertepatan ketika istrinya sedang sibuk, maka ia tidak menanggapi suaminya.

Memperbaiki pernikahan memerlukan peran aktif masing-masing pasangan dalam menyambut perasaan pasangan terhadapnya, dengan penuh perhatian dan bahagia. Dan ini sebenarnya tidak begitu susah untuk dilakukan. Sesungguhnya saat yang jernih dalam kehidupan ini sepertinya jarang ditemukan. Maka orang yang cerdas adalah orang yang memanfaatkan saat-saat seperti ini dan tidak menyia-nyiakan.

Ketika suami atau istri mendapatkan penolakan atau sikap acuh secara terus-menerus dari pasangannya, maka ia akan membuatnya tidak mau lagi mendahului untuk melakukan langkah-langkah perbaikan.

***

Disusun oleh redaksi WanitaSalihah.Com dengan mengambil rujukan dari buku Agar Cinta Tak Pernah Layu, karya Muhammad Mahmud Al Qadhi, penerbit Mumtaza

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *