Larangan Menyebarkan Rahasia Ranjang


larangan menceritakan rahasia ranjang

Pertanyaan:

Saya bercerita kepada saudara perempuan saya dan suaminya tentang rasa sakit yang sangat ketika saya bersenggama (berjima’) ketika awal menikah. Apakah tindakan saya ini termasuk hal yang terancam hukuman dari Allah? Apakah ada tolak ukur tertentu tentang ucapan atau perbincangan yang terlarang seputar rahasia ranjang dengan pasangan, atau larangan itu berlaku mutlak untuk semua jenis perbicangan tentang “hubungan ranjang”? Karena obrolan tentang hubungan ranjang sudah biasa diperbincangkan para wanita, yang tujuannya semata untuk menambah pengetahuan.

Jawaban:

Alhamdulillah, was shalatu was salamu ’ala Rasulillah, amma ba’du,

Terdapat larangan dalam islam untuk menyebarkan rahasia ranjang.

Diriwayatkan dari Abu Sa’id Al-Khudri; beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam,

إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا

‘Termasuk orang yang kedudukannya paling buruk di sisi Allah pada hari kiamat adalah seorang lelaki yang berhubungan dengan istrinya, kemudian dia menyebarkan rahasia ranjang mereka kepada orang lain.” (HR. Muslim, no. 1437)

An-Nawawi rahimahullah mengatakan,

Dalam hadis ini terdapat dalil haramnya seorang lelaki menyebarkan percumbuan yang dia lakukan bersama istrinya, dan bercerita dengan detail. Atau istri bercerita rahasia ranjangnya. Baik bentuknya gerakan maupun rayuan. (Syarh Shahih Muslim, 10:9).

Kendati demikian, jika diperlukan, misalnya untuk menjelaskan hukum syar’i mengenai suatu perkara yang berhubungan dengan rahasia ranjang tersebut, atau untuk nasihat, dalam rangka mengantisipasi bahaya bagi pasangan suami-istri, atau alasan lain yang diperbolehkan syariat, maka perbincangan itu tidak masalah dilakukan.

Hanya saja, bila memungkinkan, mengemukakan permasalahan seputar “hubungan ranjang” secara tersirat itu lebih baik dibandingkan menjelaskannya dengan bahasa yang lugas. Mengemukakan dengan ungkapan yang umum itu lebih baik daripada menjelaskannya secara terperinci.

Salah satu referensi yang menunjukkan hal tersebut adalah hadits yang diriwayatkan Aisyah – istri Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Asiyah radhiyallahu ‘anha berkata,

إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ ؟ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ ، أَنَا وَهَذِهِ ، ثُمَّ نَغْتَسِلُ

“Seorang sahabat bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tentang seorang lelaki yang menyetubuhi istrinya, lantas hal itu membuat tubuhnya ‘malas’ (tidak orgasme), maka apakah ia wajib mandi (mandi junub)?’

Tatkala itu, Aisyah tengah duduk (di dekat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam). (Menanggapi pertanyaan lelaki tadi), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, ‘Aku juga pernah mengalami itu. Aku dan dia ini (maksudnya, Nabi dan Aisyah juga pernah bersetubuh, tapi tidak orgasme), kemudian kami mandi.’” (HR. Muslim, no. 350)

An-Nawawi rahimahullah Ta’ala menjabarkan,

“Hadits tersebut menunjukkan bolehnya mengungkapkan rahasia ranjang dengan cara demikian, meskipun istri hadir di sana, jika menceritakan topik tersebut memang ada manfaatnya dan tidak menyakitinya. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan dengan ungkapan demikian, semata agar maksud beliau lebih mudahdipahami.” (Syarh Shahih Muslim, 4:42)

Mengenai masalah menceritakan “rahasia ranjang”, juga terdapat hadits yang diriwayatkan dari Ikrimah,

أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ، فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ القُرَظِيُّ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ ، فَشَكَتْ إِلَيْهَا ، وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا ، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا – قَالَتْ عَائِشَةُ : مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى المُؤْمِنَاتُ ؟ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا. قَالَ: وَسَمِعَ أَنَّهَا قَدْ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَجَاءَ وَمَعَهُ ابْنَانِ لَهُ مِنْ غَيْرِهَا ، قَالَتْ: وَاللَّهِ مَا لِي إِلَيْهِ مِنْ ذَنْبٍ ، إِلَّا أَنَّ مَا مَعَهُ لَيْسَ بِأَغْنَى عَنِّي مِنْ هَذِهِ – وَأَخَذَتْ هُدْبَةً مِنْ ثَوْبِهَا – فَقَالَ : كَذَبَتْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَأَنْفُضُهَا نَفْضَ الأَدِيمِ ، وَلَكِنَّهَا نَاشِزٌ ، تُرِيدُ رِفَاعَةَ …

“Seorang lelaki dari bernama Rifa’ah mentalak (menceraikan) istrinya. Kemudian wanita ini dinikahi Abdur Rahman bin Az-Zabir Al-Qurazhi.

Aisyah berkata, ‘Dia (wanita tersebut) memiliki kerudung hijau. Dia mengadukan ke Aisyah, dan menampakkan kulitnya yang kehijauan (frigid).

Tatkala Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam datang, dan biasa para wanita suka saling mendukung – Aisyah berkata, ‘Aku belum pernah melihat wanita-wanita mukminah seperti ini. Sungguh kulitnya lebih ‘hijau’ dibandingkan pakaiannya.’”

Ikrimah melanjutkan ceritanya,

Ketika Abdur Rahman bin Az-Zabir mendengar bahwa istrinya hendak lapor kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, dia-pun menyusul datang dengan membawa dua anak laki-lakinya dari istrinya yang lain. Untuk membuktikan, dia lelaki jantan.

Wanita tersebut mengadukan suaminya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam,

‘Demi Allah, dia tidak membuat kesalahan kepadaku. Hanya saja, dia tidak punya sesuatu yang bisa memuaskanku, selain seperti ini.” – dia pun memegang ujung kainnya.’ Maksud wanita ini, punya Abdurrahman loyo.

Abdurrahman langsung menyanggah,

‘Dia bohong! Demi Allah, wahai Rasulullah … sungguh aku sudah benar-benar ‘menggoyangnya’ seperti goyangnya bumi, tapi dia durhaka (kepadaku). Dia masih ingin dengan Rifa’ah (mantan suaminya).’” (HR. Bukhari, no. 5825)

Pada riwayat yang lain disebutkan,

وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَابْنُ سَعِيدِ بْنِ العَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الحُجْرَةِ لِيُؤْذَنَ لَهُ ، فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ: يَا أَبَا بَكْرٍ ، أَلاَ تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَمَا يَزِيدُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى التَّبَسُّمِ

“Sementara Abu Bakar tengah duduk di sisi Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, sedangkan Ibnu Sa’id bin Al-Ash duduk di dekat pintu kamar Nabi untuk menyampaikan sesuatu kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Khalid memutuskan untuk memanggil Abu Bakar, “Abu Bakar, tidakkah engkau menghalanginya agar dia tidak vulgar menceritakan rahasia ranjangnya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? (Menyaksikan suami-istri yang mengadu itu), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hanya tersenyum.” (HR. Bukhari, no. 6084; Muslim, no. 1433)

Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tidak mengingkari wanita itu serta suami keduanya atas rahasia ranjang yang mereka ungkapkan. Tindakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam ini menunjukkan bolehnya menceritakan rahasia ranjang ketika itu memang dibutuhkan. Dalam kasus tersebut, kebutuhannya adalah menghentikan percekcokan antara suami-istri itu.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu Ta’ala berkata, “Senyum Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam itu menggambarkan keheranan beliau. Boleh jadi senyum beliau itu karena lugasnya si wanita mengungkapkan hal yang biasanya malu diungkapkan oleh para wanita. Mungkin pula beliau tersenyum karena melihat betapa lemahnya akal wanita, yang beliau saksikan dalam diri wanita yang marah kepada suami keduanya itu, serta betapa inginnya ia kembali kepada suami pertamanya. Dari hadits tersebut bisa pula diambil pelajaran bahwa bolehnya hal itu (yaitu, menceritakan rahasia ranjang ketika memang dibutuhkan).” (Fathul Bari, 9:466)

Ibnul Mulqan rahimahullahu Ta’ala – dalam At-Taudhih, 27:653 – menyebutkan beberapa pelajaran dalam hadits tersebut:

Pertama, Wanita boleh menuntut suaminya di hadapan penguasa (atau pihak yang berwewenang dalam hal ini, misalnya Pengadilan Agama, pen.) bila suami hanya memberinya sedikit “nafkah batin”. Hendaknya dia ungkapkan masalah tersebut secara jelas dan lugas, dan dia tidak dicela.

Kedua, Jika suami dipanggil oleh penguasa (atau pihak yang berwewenang) untuk menanggapi tuntunan istrinya, dia berhak menjelaskan duduk perkara sebenarnya dari sudut pandangnya dan dia berhak membela dirinya.”

Syaikh Muhammad bin Utsaimin rahimahullahu Ta’aladalam Syarh Bulughul Maram, 4:548 – menjelaskan hadits Abu Sa’id di atas (hadits riwayat Muslim, no. 1437), “Hadits tersebut menunjukkan haramnya menyebarkan hal ini, yaitu rahasia ranjang antara dirinya dan istrinya …. Bahkan, hadits tersebut menunjukkan bahwa tindakan (penyebaran) itu adalah dosa besar, karena adanya ancaman (dari Allah atas tindakan tersebut). Namun berlaku pengecualian, yaitu selama ada kebutuhan untuk menjelaskan hukum syar’i (yang terkait dengan rahasia ranjang) tersebut …. Kemudian beliau (Imam Muslim, pen.) membawakan hadits riwayat Aisyah di atas (yaitu tentang lelaki Rifa’ah dan mantan istrinya) serta hadits lainnya. Selanjutnya, beliau (Imam Muslim, pen.) mengatakan, ‘Berdasarkan hal ini, jika memang ada manfaat syar’i untuk menceritakan (rahasia ranjang) itu maka tidak mengapa. Itu boleh. Adapun bila rahasia ranjang itu diceritakan sekadar untuk menyebar desas-desus atau bahan gunjingan, maka itu haram (terlarang).”

*

Sumber: Situs Islam Sual wa Jawab (diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid), tautan http://islamqa.info/ar/234096

Penerjemah: Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

***

السؤال:

قلت لاختي وزواجها قريب أني تألمت بشدة من الجماع في أول زواجي ، فهل فعلي هذا داخل في الوعيد ؟ وهل هناك ضابط فيما يتعلق بالكلام في الجماع أم هو محرم كله ، لأنه قد يقع الكلام في ذلك بين الأخوات، وقد يكون في سبيل الإرشاد فقط .

الجواب :

الحمد لله

جاء النهي عن نشر أسرار الجماع بين الزوجين .

فعن أَبي سَعِيدٍ الْخُدْرِيّ ، قال : قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: ( إِنَّ مِنْ أَشَرِّ النَّاسِ عِنْدَ اللهِ مَنْزِلَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ ، الرَّجُلَ يُفْضِي إِلَى امْرَأَتِهِ ، وَتُفْضِي إِلَيْهِ ، ثُمَّ يَنْشُرُ سِرَّهَا ) رواه مسلم (1437).

قال النووي رحمه الله تعالى :

وفي هذا الحديث تحريم إفشاء الرجل ما يجري بينه وبين امرأته من أمور الاستمتاع ، ووصف تفاصيل ذلك ، وما يجري من المرأة فيه من قول أو فعل ونحوه انتهى . شرح صحيح مسلم (10 / 9) .

ولكن إذا احتيج لذكر شيء من ذلك لبيان الحكم الشرعي أو لنصيحة أو لدفع خصومة بين الزوجين ونحو ذلك فإنه لا بأس به .

وإذا أمكن التعريض في هذا فهو أولى من التصريح ، وإذا أمكن أن يذكر الأمر على سبيل العموم والإجمال فلا يذكر التفصيل .

ومما يدل على هذا :

عَنْ عَائِشَةَ ، زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ: ( إِنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الرَّجُلِ يُجَامِعُ أَهْلَهُ ثُمَّ يُكْسِلُ هَلْ عَلَيْهِمَا الْغُسْلُ ؟ وَعَائِشَةُ جَالِسَةٌ . فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِنِّي لَأَفْعَلُ ذَلِكَ ، أَنَا وَهَذِهِ ، ثُمَّ نَغْتَسِلُ ) رواه مسلم (350) .

قال النووي رحمه الله تعالى :

فيه جواز ذكر مثل هذا، بحضرة الزوجة ، إذا ترتبت عليه مصلحة ، ولم يحصل به أذى ، وإنما قال النبي صلى الله عليه وسلم بهذه العبارة ليكون أوقع في نفسه انتهى . شرح صحيح مسلم (4 / 42) .

ومن ذلك أيضا :

عَنْ عِكْرِمَةَ : ( أَنَّ رِفَاعَةَ طَلَّقَ امْرَأَتَهُ ، فَتَزَوَّجَهَا عَبْدُ الرَّحْمَنِ بْنُ الزَّبِيرِ القُرَظِيُّ ، قَالَتْ عَائِشَةُ : وَعَلَيْهَا خِمَارٌ أَخْضَرُ ، فَشَكَتْ إِلَيْهَا ، وَأَرَتْهَا خُضْرَةً بِجِلْدِهَا ، فَلَمَّا جَاءَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – وَالنِّسَاءُ يَنْصُرُ بَعْضُهُنَّ بَعْضًا – قَالَتْ عَائِشَةُ : مَا رَأَيْتُ مِثْلَ مَا يَلْقَى المُؤْمِنَاتُ ؟ لَجِلْدُهَا أَشَدُّ خُضْرَةً مِنْ ثَوْبِهَا. قَالَ: وَسَمِعَ أَنَّهَا قَدْ أَتَتْ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، فَجَاءَ وَمَعَهُ ابْنَانِ لَهُ مِنْ غَيْرِهَا ، قَالَتْ: وَاللَّهِ مَا لِي إِلَيْهِ مِنْ ذَنْبٍ ، إِلَّا أَنَّ مَا مَعَهُ لَيْسَ بِأَغْنَى عَنِّي مِنْ هَذِهِ – وَأَخَذَتْ هُدْبَةً مِنْ ثَوْبِهَا – فَقَالَ : كَذَبَتْ وَاللَّهِ يَا رَسُولَ اللَّهِ ، إِنِّي لَأَنْفُضُهَا نَفْضَ الأَدِيمِ ، وَلَكِنَّهَا نَاشِزٌ ، تُرِيدُ رِفَاعَةَ … ) رواه البخاري (5825) .

وفي رواية ( وَأَبُو بَكْرٍ جَالِسٌ عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَابْنُ سَعِيدِ بْنِ العَاصِ جَالِسٌ بِبَابِ الحُجْرَةِ لِيُؤْذَنَ لَهُ ، فَطَفِقَ خَالِدٌ يُنَادِي أَبَا بَكْرٍ: يَا أَبَا بَكْرٍ ، أَلاَ تَزْجُرُ هَذِهِ عَمَّا تَجْهَرُ بِهِ عِنْدَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ؟ وَمَا يَزِيدُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى التَّبَسُّمِ ) رواه البخاري (6084) ومسلم (1433) .

فعدم إنكار النبي صلى الله عليه وسلم على المرأة وعلى زوجها بما صرّحا به من أسرار الجماع : دليل على جواز ذلك عند الحاجة ، والحاجة هنا هي دفع تلك الخصومة.

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله تعالى :

وتبسّمه صلى الله عليه وسلم كان تعجبا منها ، إما لتصريحها بما يستحيي النساء من التصريح به غالبا ، وإما لضعف عقل النساء ؛ لكون الحامل لها على ذلك شدة بغضها في الزوج الثاني ، ومحبتها في الرجوع إلى الزوج الأول ، ويستفاد منه جواز وقوع ذلك انتهى . فتح الباري (9 / 466) .

وقال ابن الملقن رحمه الله تعالى :

وفيه: أن للنساء أن يطلبن أزواجهن عند الإمام بقلة الوطء ، وأن يعرضن بذلك تعريضًا بينًا كالصريح ، ولا عار عليهن في ذلك .

وفيه : أن للزوج إذا ادعي عليه بذلك أن يخبر بخلاف ويعرب عن نفسه انتهى من كتابه التوضيح (27 / 653) .

وقال الشيخ محمد بن عثيمين رحمه الله في شرحه لبلوغ المرام (4/548) عند شرحه لحديث أبي سعيد المتقدم :

والحديث يدل على تحريم هذا العمل ، أن ينشر الإنسان السر بينه وبين زوجته …. بل يدل على أنه من الكبائر ، لأن فيه وعيداً ، ويستثنى من ذلك : ما دعت الحاجة إليه لبيان حكم شرعي … ثم ذكر حديث عائشة المتقدم وغيره ، ثم قال : وعلى هذا ؛ فإذا اقتضت المصلحة الشرعية أن يُذكر ما لا يُنشر فإن ذلك لا بأس به ، جائز ، أما ما يفعله على سبيل التندر والتفكه فهذا حرام انتهى .

والله أعلم .

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *