Melongok Rumah Orang Tanpa Ijin


Mengintip rumah orang lain

Allah ta’ala berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَدْخُلُوا بُيُوتًا غَيْرَ بُيُوتِكُمْ حَتَّى تَسْتَأْنِسُوا وَتُسَلِّمُوا عَلَى أَهْلِهَا

”Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin dan memberi salam kepada penghuni rumahnya” (Qs. An Nuur: 27)

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam menegaskan, alasan diharuskan meminta izin adalah karena dikhawatirkan orang yang masuk akan melihat aurat pemilik rumah.

Beliau shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

انما جعل الاستئذان من اجل البصر

”Sesungguhnya diberlakukan nya meminta izin (ketika masuk rumah orang lain) adalah untuk (menjaga) penglihatan” (HR. Al Bukhari, dalam Fathul Baari, 11/24).

Pada saat ini,dengan berdesakannya bangunan dan saling berdempetan gedung-gedung serta saling berhadap-hadapannya antara pintu dengan pintu, jendela dengan jendela, menjadikan kemungkinan besar saling mengetahui isi rumah tetangga kian besar. Ironisnya, banyak yang tidak mau menundukkan pandangannya, malah yang terjadi terkadang dengan sengaja, mereka yang tinggal di gedung yang lebih tinggi, dengan leluasa memandangi lewat jendela mereka ke rumah-rumah tetangga yang lebih rendah. Ini adalah satu pengkhianatan terhadap hak-hak tetangga, sekaligus sarana menuju hal yang diharamkan. Karena perbuatan tersebut, kemungkinan terjadi bencana dan fitnah. Dan disebabkan oleh amat bahayanya akibat tindakan ini, syariat islam membolehkan mencongkel mata orang yang suka melongok dan melihat isi rumah orang lain.

Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

من اطلع في بيت قوم بغير اذنهم فقد حل لهم ان يفقؤوا

“Barangsiapa melongok rumah suatu kaum dengan tanpa izin mereka, maka halal bagi mereka mencongkel mata orang tersebut” (HR. Muslim, 3/1699).

Dalam riwayat lain dikatakan,

ففقؤوا عينه فلا دية له ولا قصاص

”Kemudian mereka mencongkel matanya, maka tidak ada diyat (ganti rugi) untuknya, juga tak ada qishash baginya” (HR. Imam Ahmad, 2/385; Shahihul Jami’, 6022).

***

Dikutip dari buku “Dosa-Dosa Yang Dianggap Biasa”, Karya: Syaikh muhammad Shaleh Al- Munajid, Penerbit: Darul Haq.

WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *