Memahami Takdir Buruk


Al-Allamah Ibnu ‘Ustaimin rahimahullah

إذا قال قائل : كيف تجمع بين قول النبي عليه الصلاة والسلام : (( وأن تؤمن بالقدر خيره وشره )) ، وقوله صلىٰ الله عليه وسلم : (( الشر ليس إليك )) ، فنفىٰ إن يكون الشر إليه ؟

Jika ada yang bertanya, “Bagaimana menggabungkan antara sabda Nabi shallallahu alaihi wasallam,

“Engkau beriman dengan takdir yang baik maupun yang buruk.”

Dengan sabda beliau,

“Keburukan bukan berasal dariMu.

فالجواب علىٰ هذا إن نقول : إن الشر المحض لا يكون بفعل الله أبدًا ، فالشر المحض الذي ليس فيه خيرًا لا حالاً ولا مآلاً لا يمكن إن يوجد في فعل الله أبدًا ، هذا من وجه ، لأنه حتىٰ الشر الذي قدره الله شرًا لابد إن يكون له عاقبة حميدة ، ويكون شرًا علىٰ قوم وخيرًا علىٰ آخرين

Maka jawaban kami atas pertanyaan ini,

Jika keburukan tersebut murni keburukan maka bukan merupakan perbuatan Allah selamanya.

Keburukan yang murni buruk sama sekali tidak ada kebaikan di dalamnya, di masa sekarang ataupu yang akan datang, maka mustahil di dapati pada perbuatan Allah selamanya.
Ini satu sisi, sisi yang lain karena apapun keburukan yang Allah takdirkan pasti mengandung kesudahan yang baik.

Keburukan itu bisa jadi buruk untuk satu kaum akan tetapi jadi kebaikan bagi kaum yang lain

أرأيت لو أنزل الله المطر مطرًا كثيرًا فاغرق زرع إنسان ، لكنه نفع الأرض وانتفعت به أمة ، لكان هذا خيرًا بالنسبة لمن انتفع به ، شرًا لمن تضرر به ، فهو خير من وجه وشر من وجه

Tidakkah engkau lihat, andai Allah turunkan hujan sangat lebat kemudian menenggelamkan ladang, manusia akan tetapi hujan tersebut bermanfaat bagi bumi dan umat keseluruhan. Maka banjir menjadi kebaikan di tinjau dari orang yang mendapatkan manfaatnya dan menjadi keburukan bagi orang yang mendapatkan bahayanya. Maka hujan lebat bisa menjadi kebaikan dan keburukan.

• – ثانيًا : حتىٰ الشر الذي يقدره الله علىٰ الإنسان هو خير في الحقيقة ، لأن إذا صبر واحتسب الأجر من الله نال بذلك أجرًا أكثر بأضعاف مضاعفة مما ناله من الشر ، وربما يكون سببًا للاستقامة ومعرفة قدر نعمة الله علىٰ العبد فتكون العاقبة حميدة

Kedua,

Apapun keburukan yang Allah takdirkan bagi manusia sejatinya adalah kebaikan. Karena seseorang jika bersabar dan mengharap pahala dari Allah niscaya ia akan memperoleh ganjaran yang berlipat lipat dari apa yang ia peroleh dari keburukan itu sendiri. Terkadang keburukan juga menjadi sebab seseorang istiqomah, mengenal kedudukan nikmat Allah atas seorang hamba maka ini semua memberi dampak yang baik.

Syarh Riyadhushshalihin, 1:479

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *