Memakai Sandal Termasuk Ibadah


Saudariku, kebanyakan diri kita tidak menyadari perkara yang kita anggap sepele dalam kehidupan sehari-hari namun sejatinya merupakan ibadah yang bernilai tinggi disisi Allah Ta’ala jika kita niatkan mengikuti sunnah Rasul shallallahu’alaihi wasallam saat melakukannya. Bahkan dengan menjalankan perintah dan menjauhi larangan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sekecil apapun itu menjadi sebab datangnya kecintaan Allah kepada hamba tersebut serta limpahan ampunan atas dosa dan kesalahan yang ia perbuat.

Allah Subhanahu wa Ta’ala sendiri yang menjamin hal ini dalam firmanNya

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah akan mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian“. Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Al Imran: 31)

Kunci kesuksesan seorang hamba adalah dengan mengikuti Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Tak terkecuali mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam dalam memakai sandal.

Banyak kaum muslimin tidak mengetahui bahwa memakai sandal bisa menjadi salah satu sarana ibadah pendekatkan diri kepada Allah. Karena memakai sandal termasuk dalam perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam.

Dari Jabir radhiyallahu’anhu, tatkala dalam suatu peperangan beliau mendengar Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

استكثروا من النعال فإن الرجل لا يزال راكبا ما انتعل

“Perbanyaklah memakai sandal. Sesungguhnya seseorang akan senatiasa berkendaraan selama dia memakai sandal.” (HR. Muslim No. 2096)

An Nawawi rahimahullah menjelaskan maksud hadis diatas,

معناه أنه شبيه بالراكب في خفة المشقة عليه ، وقلة تعبه ، وسلامة رجله مما يعرض في الطريق من خشونة وشوك وأذى ونحو ذلك . وفيه استحباب الاستظهار في السفر بالنعال وغيرها مما يحتاج إليه المسافر ، واستحباب وصية الأمير أصحابه بذلك .

“Maksud hadis ini bahwa orang memakai sandal itu serupa dengan orang berkendaraan dalam hal ringan saat menghadapi kesulitan, hanya sedikit kelelahan, kakinya selamat dari gangguan di jalan, baik jalan berkerikil, berduri dan gangguan lainnya. Di dalam hadis ini terdapat anjuran melindungi kaki dengan sandal atau benda yang lainnya yang dibutuhkan seorang musafir saat berpergian serta disunnahkan bagi kepala rombongan (safar) berwasiat kepada anggotanya untuk memakai sandal (karena mengikuti sunnah Nabi shallallahu’alaihi wasallam). (Syarhun Nawawi Ala Muslim)

Perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam diatas minimal hukumnya sunnah.
Ash Shan’ani berkata,

فإن الأمر إذا لم يحمل على الإيجاب فهو للاستحباب

  “Suatu perintah jika tidak dibawa kepada hukum wajib maka hukumnya mustahab (sunnah).” (Subulus Salam,  4/157)

Madzab Hambali menilai hukum memakai sandal adalah sunnah.

Al Bahuti berkata,

ويسن استكثار النعال  لحديث مسلم عن جابر مرفوعا استكثروا من النعال فإن أحدكم لا يزال راكبا ما انتعل قال القاضي يدل على ترغيب اللبس للنعال لأنها قد تقيه الحر والبرد والنجاسة

“Disunnahkan untuk sering-sering memakai sandal berdasarkan hadis marfu’ dari Jabir radhiyallahu’anhu diatas. Al Qadhi berkata,
‘Hadis ini menunjukkan anjuran memakai sandal karena dapat menjaga seseorang dari suhu panas, dingin dan najis. (Kisyaful Qina’, 1/285)

Sandal Nabi shallallahu’alaihi wasallam

Sebuah hadis diriwayatkan Bukhari dalam Shahih nya menceritakan bagaimanakah sandal Nabi shallallahu’alaihi wasallam itu?

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ جُرَيْجٍ أَنَّهُ قَالَ لِعَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ يَا أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ رَأَيْتُكَ تَصْنَعُ أَرْبَعًا لَمْ أَرَ أَحَدًا مِنْ أَصْحَابِكَ يَصْنَعُهَا قَالَ وَمَا هِيَ يَا ابْنَ جُرَيْجٍ قَالَ رَأَيْتُكَ لَا تَمَسُّ مِنْ الْأَرْكَانِ إِلَّا الْيَمَانِيَّيْنِ وَرَأَيْتُكَ تَلْبَسُ النِّعَالَ السِّبْتِيَّةَ وَرَأَيْتُكَ تَصْبُغُ بِالصُّفْرَةِ وَرَأَيْتُكَ إِذَا كُنْتَ بِمَكَّةَ أَهَلَّ النَّاسُ إِذَا رَأَوْا الْهِلَالَ وَلَمْ تُهِلَّ أَنْتَ حَتَّى كَانَ يَوْمُ التَّرْوِيَةِ قَالَ عَبْدُ اللَّهِ أَمَّا الْأَرْكَانُ فَإِنِّي لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَمَسُّ إِلَّا الْيَمَانِيَّيْنِ وَأَمَّا النِّعَالُ السِّبْتِيَّةُ فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَلْبَسُ النَّعْلَ الَّتِي لَيْسَ فِيهَا شَعَرٌ وَيَتَوَضَّأُ فِيهَا فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَلْبَسَهَا وَأَمَّا الصُّفْرَةُ فَإِنِّي رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَصْبُغُ بِهَا فَأَنَا أُحِبُّ أَنْ أَصْبُغَ بِهَا وَأَمَّا الْإِهْلَالُ فَإِنِّي لَمْ أَرَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُهِلُّ حَتَّى تَنْبَعِثَ بِهِ رَاحِلَتُهُ

Dari ‘Ubaid bin Juraih,  ia berkata kepada Abdullah bin Umar,
Wahai Abu Abdirrahman, aku melihatmu melakukan empat hal yang tidak kulihat seorangpun dari sahabatmu melakukannya!”
Apa sajakah itu wahai Ibnu Juraij?” Tanya Abdullah Ibnu Umar.
Ibnu Juraij menjawab, “Aku melihat anda tidak menyentuh rukun-rukun (Ka’bah) kecuali rukun Yamani, aku melihat anda mengenakan sandal terbuat dari kulit, aku melihat anda mengecat (rambut) dengan berwarna kuning, dan saat manusia di Makkah melakukan talbiyah setelah melihat hilal aku melihat anda tidak melakukannya kecuali pada hari tarwiyah?”
‘Abdullah bin ‘Umar pun menjelaskan,
“Adapun tentang rukun Ka’bah, sungguh aku tidak pernah melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengusapnya kecuali rukun Yamani.
Sedangkan mengenai sandal dari kulit, sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga mengenakan sandal kulit yang tidak berbulu, dan berwudhu dengan tetap mengenakannya, dan aku suka bila tetap mengenakannya.
Adapun tentang warna kuning, sungguh aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mencelup dengan warna tersebut dan aku juga suka melakukannya.
Dan tentang talbiyah, sungguh belum pernah aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertalbiyah kecuali setelah kendaraannya melaju (menuju Mina).
” (HR. Bukhari No. 166)

Disunnahkan adakalanya jalan kaki tanpa alas

Berdasarkan hadis Fadhalah bin Ubaid,

إن رسول الله صلى الله عليه و سلم كان ينهانا عن كثير من الإرفاه. كان النبي صلى الله عليه و سلم يأمرنا أن نحتفي أحيانا

Bahwasanya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam melarang kami untuk terlalu sering berhias. Beliau shallallahu’alaihi wasallam juga memerintahkan kami adakalanya jalan kaki tanpa alas. (HR. Ahmad No. 23969 dan Abu Dawud no. 4160 dengan sanad shahih)

Perintah Nabi shallallahu’alaihi wasallam memperbanyak memakai sandal tentu tidak lah bertentangan dengan hadis diatas. Memperbanyak memakai sandal itu dianjurkan pada saat kondisi jalan berbahaya, banyak duri, jalan berbatu dan hambatan lain terlebih bila seseorang sedang safar. Namun bila kondisi jalan aman tidak ada gangguan yang lebih utama seseorang adakalanya memakai sandal adakalanya  melepasnya. Hal ini sebagaimana dijelaskan Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah dalam Syarh Bulughil Maram. Wallah ta’ala a’lam.
وصلى الله على نبينا محمد وعلى آله وصحبه وسلم

****
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Sumber:
Syrahun Nawawi Ala Muslim,  Darul Khair.
Www.ahlalhadeeth.com
www.kulalsalafiyeen.com

Artikel wanitasalihah.com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *