Mencela dan Mengkafirkan Para Sahabat Radhiyallahu ‘Anhuma


Syiah Mencela Sahabat Nabi

Mereka adalah kaum rafidhah (Syi’ah) yang dahulu dan yang sekarang, yang telah mencaci maki dan melemparkan berbagai macam tuduhan kemudian mengkafirkan para sahabat semuanya, kecuali beberapa para sahabat yang dapat dihitung dengan jari.

Rafidhah adalah agama buatan si Yahudi hitam Abdullah bin Saba’, seorang zindiq munafiq yang menyembunyikan keyahudiannya di belakang nama Islam. Tujuan dari maksud-maksud jahat si Yahudi hitam ini bersama anak cucunya dari para pengikutnya yang dahulu dan yang sekarang, bahkan yang ada di Indonesia sampai hari ini sejak terjadinya revolusi rafidhah di Iran oleh para ‘ayat’, tidak lain melainkan demi membatalkan dan menghancurkan agama Islam.

Persatuan kebencian, kemarahan, dendam dan dengki antara Yahudi, Majusi dan lain-lain terhadap Islam. Karena kalau para sahabat telah dikafirkan, maka batallah apa yang mereka bawa dan sampaikan (dakwahkan), yaitu Al Qur’an dan Sunnah. Kalau Al Qur’an dan Sunnah yang menjadi dasar hukum Islam telah dibatalkan, maka dengan sendirinya Islam pun menjadi batal. Dengan demikian mereka dapat istirahat dengan tenang dari Islam!

Benarlah apa yaang dikataakaan oleh al Imam Abu Zu’rah Ar Raaziy (194-264 H):

“Apabila engkau meliahat seorang yaang mencaci maki salah seorang sahabat Rasulullah shallallahu ‘alaaihi wasallam, maka ketahuilah sesungguhnya orang itu zindiq.Yang demikian karena sesungguhnya Rasuullah shallallahu ‘alaihi wasallam di sisi kami adalah haq dan Al Qur’an haq, sedangkan yang menyampaikan Al Qur’an ini dan sunnah kepada kita tidak lain adalah sahabat-sahabat Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wasallam. Dan yang mereka (kaum zindiq) kehendaki tidak lain ialah agar mereka dapat mencela persaksian-persaksian kami (terhadap keadilan para sahabat) agar mereka dapat membatalkan Al Kitab dan Sunnah. Padahal merekalah yang lebih berhak mendapat celaan dan mereka adalah kaum zindiq. (diriwayaatkan oleh Al Imam Al Khatib Al Baghdadiy di kitabnya Al Kifaayah fi Ilmi Riwaayah)

Sungguh keliru orang yang mengatakan bahwa tidak ada perbedaan antara sunni dan Syi’ah rafidhah kecuali sebagaimana perbedaan yang terjadi antara madzab yang empat (Hanafi, Maliki, Syafi’i dan Hambali) dalam masalah furu’iyyah ijtihadiyyah !?

Dengan sebab dasar kejahilan ini dan sejak berdirinya kekuasaan para ‘ayat’ di negeri mereka, maka pemimpin-pemimpin rafidhah segera menegakkan dua asas yang sangat penting untuk memasukkan Syi’ah rafidhah ke dalam agama Islam.

Pertama: Memasukkan Syi’ah menjadi salah satu madzab (madzab kelima) dari madzab-madzab yang ada di dalam Islam seperti tersebut di atas.

Kedua: Taqrib (pendekatan) antara sunnah dan Syi’ah.

كَلَّا ۚ إِنَّهَا كَلِمَةٌ هُوَ قَائِلُهَا

“Tidak sekali-kali ! Sesungguhnya itu hanyalah perkataan yang ia ucapkan saja.” (QS. Al Mu’minun: 100)

يُرِيدُونَ أَنْ يُطْفِئُوا نُورَ اللَّهِ بِأَفْوَاهِهِمْ وَيَأْبَى اللَّهُ إِلَّا أَنْ يُتِمَّ نُورَهُ وَلَوْ كَرِهَ الْكَافِرُونَ

“Mereka hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut mereka, padahal Allah tidak menghendaki kecuali menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang yang kafir membencinya.” (QS. At Taubah: 32)

Sementara itu rafidhah tetap dalam keyakinan agamanya dan tidak bergeser sedikitpun juga bahkan semakin bertaambah-tambah kekufurannya.

يَقُولُونَ بِأَلْسِنَتِهِمْ مَا لَيْسَ فِي قُلُوبِهِمْ

“Mereka mengucapkan dengan lidah-lidah mereka apa yang (sebenarnya) tidak ada (sama sekaali) di hati-hati mereka.” (QS. Al Fath: 11).

Itulah taqiyyah ! Dan taqiyyah adalah agamaa agamanya Syi’ah!

Demi menyebarkan agama mereka dengan lisan dan tulisan ke seluruh pelosok bumi khususnya di negeri kita ini, mereka telah menginfakkan harta-harta mereka dalam jumlah yang sangat besar sekali.

إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا يُنْفِقُونَ أَمْوَالَهُمْ لِيَصُدُّوا عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ

“Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu menginfakkan harata-harta mereka untuk menghalangi (manusia) dari jalan Allah..”. (QS. Al Anfaal: 36).

Kaum muslimin yang mengerti betul hakekat ajaraan Syi’ah baik secaarai ijmali (garis besarnya) maupun tafsili (terperinci), baik dilihat dari sisi naqli maupun aqli, niscaya akan mengatakan secara tegas, satu kemustahilan bisa terjadi pendekaatan (tarqib) antara Islam dengan Syi’ah. Karena Syi’ah adalah agama yang berdiri sendiri di luar Islam yang mengatasnamakaan Islam. Dan Syi’ah adalah sebodoh-bodohnya manusia dalam dalil-dalil naqliyyah dan aqliyyah diantara firqah-firqah yang menasabkan diri mereka kepada Islam padahal bukan Islam kecuali….

حَتَّىٰ يَلِجَ الْجَمَلُ فِي سَمِّ الْخِيَاطِ

“Sampai unta masuk ke lubang jarum”. (QS. Al A’raf: 40)

Ketahuilah, bahwa Syi’ah adalah agama di luar Islam. Perbedaan antara kita kaum muslimin dengan Syi’ah sebagaimaana berbedanya dua agama dari awal sampai akhir, yang tidak mungkin disatukan kecuali salah satunya meninggalkan agamanya.

Dikutip dari buku Al Masaa-il, Masalah-Masalah Dalam Agama (jilid 3), Penulis Ustadz Abdul Hakim bin Abdat (Abu Unaisah), Penerbit :Darus Sunnah,Jakarta timur

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *