Menghadiahkan Pahala Bacaan Al Qur’an untuk Mayit


Fatwa Syaikh Abdul Aziz Abdullah bin Baz rahimahullah

Pertanyaan:

Apakah menghadiahkan pahala bacaan Al Qur’an untuk mayit termasuk bid’ah dan tidak disepakati oleh empat imam madzab? Lalu apa saja amalan yang bermanfaat bagi mayit?

Jawaban:
Membaca Al Qur’an dan mengirimkan pahalanya untuk mayit, hukumnya diperselisihkan para ulama. Diantara mereka berpendapat boleh dan dianjurkan. Mereka menegaskan  bahwasanya bacaan Al Qur’an sampai kepada mayit dan dapat memberi manfaat kepada mereka. Pendapat ini dikenal dikalangan madzab Imam Ahmad dan Al Jama’ah. Bahkan sebagian ahlul ilmi menyatakan pendapat ini adalah pendapat mayoritas ulama. Al Imam Ibnul Qayyim menetapkan pendapat ini dalam kitab beliau” Ar Ruh” dengan penjelasan yang panjang lebar.

Sebagian ulama lainnya berpendapat bahwasanya mengirim pahala bacaan Al  Qur’an kepada mayit tidak akan sampai dan juga tidak disyariatkan.
Inilah pendapat yang diriwayatkan dari As Syafi’i rahimahullah dan sejumlah ulama salaf. Pendapat inilah yang paling benar karena tidak adanya dalil akan perbuatan ini. Ibadah itu sifatnya tauqifiyyah (harus dengan dalil). Menghadiahkan pahala kepada mayit termasuk ibadah sehingga tidak diperbolehkan seseorang melakukannya kecuali dengan dalil. Kami tidak mengetahui satu dalil pun secara jelas mensyariatkan kirim pahala shalat atau kirim pahala baca Al Qur’an untuk mayit.

Pendapat terkuat dan paling benar tidak ada syariat kirim pahala bacaan Al Qur’an untuk mati dan untuk selain mereka. Yang dianjurkan adalah mendoakan mereka, memohonkan ampun untuk mereka, memohonkan rahmat untuk mereka, bersedekah atas nama mereka.

Akan tetapi kami tidak katakan bahwa hukum kirim pahala bacaan Al Qur’an adalah bid’ah, juga tidak kami katakan haram. Kami katakan, pendapat (kedua) inilah yang paling utama dan lebih hati-hati karena memiliki sisi kekuatan (pendalilan).

Para ulama yang memperbolehkan amalan ini, mereka mengqiyaskan bacaan Al Qur’an dengan doa dan sedekah. Mereka mengatakan, “Sebagaimana diperbolehkan berdoa untuk mayit, bersedekah atas nama mayit maka tidak ada larangan bagi kita membaca Al Qur’an dan menghadiahkan pahalanya untuk mereka, atau kita shalat lalu kita hadiahkan pahala shalat untuk mereka, atau saat kita thawaf lalu kita hadiahkan pahala thawaf untuk mereka.”
Pendapat ini memiliki sisi kuat dalam mengqiyaskan antara satu ibadah dengan ibadah yang lain. Akan tetapi kaidah syariat mengatakan tidak ada qiyas untuk perkara ibadah. Ibadah adalah perkara tauqifiyyah. Oleh karenanya kami katakan pendapat yang mengatakan tidak akan sampai pahala bacaan Al Qur’an adalah pendapat yang paling utama, paling kuat, paling hati-hati bagi seorang mukmin. Namun kami tidak katakan amalan tersebut bid’ah, tidak juga haram. Karena khilaf diantara para ulama tentang masalah ini sangat masyhur. (Fatawa Nur Ala Darb)

***
Sumber: http://www.alifta.net/fatawa/fatawaDetails.aspx?BookID=5&View=Page&PageNo=1&PageID=3982
Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah wanitasalihah.com
Artikel wanitasalihah.com

137 – حكم إهداء ثواب قراءة القرآن للميت
س : هل قراءة القرآن وجعل ثوابه للميت بدعة ولم تقره المذاهب الأربعة ؟ فما هو الشيء إذا الذي ينفع الميت ؟
ج : قراءة القرآن وتثويبها للموتى فيها خلاف بين العلماء ، منهم من أجازها واستحبها ، وقال : إنها تصل إلى الأموات وتنفعهم وهذا هو
(الجزء رقم : 14، الصفحة رقم: 197)
المعروف في مذهب أحمد والجماعة ، بل حكاه بعض أهل العلم ، بل هو قول جمهور العلماء ، وقرره ابن القيم رحمه الله في كتاب الروح ، وأطال في ذلك ، وقال آخرون من أهل العلم : إن تثويب القراءة للموتى لا تلحق ولا تشرع ، إن تثويب القراءة للميت لا يشرع ولا يلحق الميت ، وهو المروي عن الشافعي رحمه الله والجماعة من السلف ، وهذا أصح لعدم الدليل ، لأن العبادات توقيفية ، والتثويب للموتى نوع من العبادة ، فلا ينبغي أن يفعل إلا بدليل ، ولا نعلم دليلا واضحا في شرعية أن يصلي الإنسان عن غيره أو يقرأ عن غيره ، فالأرجح والأولى عدم التثويب للموتى وغيرهم ، ولكن يدعو لهم ويستغفر لهم ، ويترحم عليهم ، ويتصدق عنهم لا بأس ، ولكن لا نقول : بدعة ولا نقول : محرم نقول : هذا هو الأولى والأحوط ، لأن القول الثاني له حظه من القوة ، والذين قالوا بجوازه قاسوه على الدعاء وقاسوه على الصدقة ، قالوا : كما يجوز أن ندعو له ونتصدق عنه فلا مانع من أن نقرأ ونثوب له القراءة ، أو نصلي ونثوب له الصلاة ، أو نطوف ونثوب له الطواف ، فالقول له حظ من القوة في قياس العبادات بعضها على بعض ، ولكن القاعدة الشرعية أن العبادات لا قياس فيها ، وأنها توقيفية فلهذا قلنا : إن القول بعدم التثويب أولى وأرجح وأحوط للمؤمن ، ولكن لا نقول : إنه بدعة ، ولا نقول : إنه محرم بل مسألة خلاف بين أهل العلم مشهورة .

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *