Tiga Hikmah di Balik Tidak Pandainya Rasulullah Baca-Tulis


Allah ‘Azza wa Jalla berfirman,

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ رَسُولًا مِنْهُمْ يَتْلُو عَلَيْهِمْ آَيَاتِهِ وَيُزَكِّيهِمْ وَيُعَلِّمُهُمُ الْكِتَابَ وَالْحِكْمَةَ وَإِنْ كَانُوا مِنْ قَبْلُ لَفِي ضَلَالٍ مُبِينٍ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul di antara mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, mensucikan mereka dan mengajarkan mereka Kitab dan Hikmah (As Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya benar-benar dalam kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Jumu’ah:2)

*
KETERANGAN AYAT

PERTAMA

هُوَ الَّذِي بَعَثَ فِي الْأُمِّيِّينَ

“Dia-lah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf ….”

Imam Al-Qurthubi rahimahullah menuliskan dalam tafsir beliau mengenai ayat ini, “Ada yang berpendapat bahwa makna al-ummiyyun adalah ‘tidak mampu menulis’. Demikianlah keadaan bangsa Quraisy pada saar itu.”

Ibnu Abbas mengatakan, “Al-ummiyyun (yang dimaksud dalam ayat ini, pen.) adalah seluruh orang Arab, baik orang Arab yang pandai menulis maupun orang Arab yang tidak pandai menulis, karena mereka bukan termasuk ahlul kitab.”

Ada juga yang berpendapat bahwa “al-ummiyyun” artinya “orang yang tidak pandai menulis, yaitu Kaum Quraisy.”

Manshur meriwayatkan dari Ibrahim; yang menjelaskan, “Al-ummiyyun artinya orang yang pandai membaca tapi tidak pandai menulis.

KEDUA

رَسُولًا مِنْهُمْ


“Rasul di antara mereka ….”

“Rasul dari kalangan mereka” maksudnya “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”.

Al-Mawardi berkata, “Jika ada yang bertanya, ‘Ujian keimanan apa yang ada di balik pengutusan seorang nabi yang buta huruf? Jawabannya bisa dilihat dari tiga sisi:

1. Agar sama dengan kaum para nabi terdahulu.
2. Agar sama dengan salah satu kondisi bangsa Arab saat itu (yaitu buta huruf), sehingga Rasulullah semakin menyerupai kaumnya.
3. Untuk mencegah munculnya prasangka jelek dalam syariat yang diseru oleh Rasulullah, berupa kitab Al-Quran yang dibacanya dan al-hikmah (hadits) yang disampaikannya.


(*) Dirangkum dari Tafsir Al-Qurthubi, 18:91—92.

قوله تعالى: هو الذى بعث في الامين رسولا منهم يتلوا عليهم ءايته ويزكيهم ويعلمهم الكتاب والحكمة وإن كانوا من قبل لفى ضلل مبين 2 قوله تعالى: (هو الذى بعث في الاميين رسولا منهم) قال ابن عباس: الاميون العرب كلهم، من كتب منهم ومن لم يكتب، لانهم لم يكونوا أهل كتاب.

وقيل: الاميون الذين لا يكتبون. وكذلك كانت قريش.

وروى منصور عن إبراهيم قال: الامي الذي يقرأ ولا يكتب.

وقد مضى في ” البقرة ” (1).

(رسولا منهم) يعني محمدا صلى الله عليه وسلم.

قال الماوردي: فإن قيل ما وجه الامتنان فإن بعث نبيا أميا ؟ فالجواب عنه من ثلاثة أوجه: أحدها: لموافقته ما تقدمت به بشارة الانبياء.

الثاني: لمشاكلة حال لأحوالهم، فيكون أقرب إلى موافقتهم.

الثالث: لينتفي عنه سوء الظن في تعليمه ما دعى إليه من الكتب التي قرأها والحكم التي تلاها.

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Artikel WanitaSalihah.Com


Catatan Redaksi WanitaSalihah.Com:

1. Allah mengutus Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam kepada seluruh umat manusia, semua suku dan dan penganut agama apapun wajib tunduk kepada syariat yang beliau sampaikan.

2. Allah memilih beliau shallallahu ‘alaihi wasallam di antara seluruh manusia.

3. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah seorang yang buta huruf. Ada tiga hikmah mengapa Allah memilih orang buta huruf yang disebutkan oleh Al-Mawardi di atas.

4. Kita bisa melihat betapa Allah memiliki hikmah yang sangat luas, yang tidak mampu dijangkau oleh manusia. Dari sirah nabawi bisa kita perhatikan bahwa orang-orang yang mengikrarkan syahadat melihat kepada keluhuran akhlak beliau dan betapa beliau adalah manusia yang sama seperti kaumnya yang lain.

Beliau adalah manusia yang diutus kepada manusia. Syariat yang beliau ajarkan tentu bisa dikerjakan oleh manusia lainnya. Bayangkan andai yang diutus adalah orang yang cerdik pandai, bisa jadi orang-orang akan berkata, “Dia pandai tapi kami bodoh, sehingga dia bisa mengerjakan syariat itu tapi kami tidak bisa.”

5. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam awalnya buta huruf, sehingga ketika Malaikat Jibril mendatangi beliau di Gua Hira dan memerintahkannya untuk membaca, beliau shallallahu ‘alaihi wasallam menegaskan bahwa beliau tidak bisa membaca.

6. Ketika Allah Ta’ala telah mengangakat beliau sebagai Nabi, Allah Ta’ala mengutus Malaikat Jibril untuk mengajari beliau perihal Al-Quran dan al-hikmah (al-hadits). Lihatlah, seorang Nabi pun belajar, maka apa alasannya sehingga umatnya tidak mau belajar? Beralasan bahwa tidak tahu, maka tidak mengamalkan? Padahal bukanlah tidak tahu, tetapi tidak mau tahu.

7. Allah Ta’ala mengutus beliau shallallahu ‘alaihi wasallam yang buta huruf. Dengan kondisi itu pun, masih ada saja orang pada zaman beliau yang mengingkari Al-Quran – ada yang menuduh beliau shallallahu ‘alaihi wasallam mengarang Al-Quran. Bagaimana mungkin; bukankah beliau shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang buta huruf? Allah pun membantah tuduhan mereka, sebagaimana firman-Nya dalam surat Al-Haqqah, ayat 41-42.

8. Al-Quran adalah kalamullah, wahyu dari Allah. Al-hadits pun merupakan hikmah yang Allah Ta’ala wahyukan kepada beliau shallallahu ‘alaihi wasallam. Oleh sebab itulah, kita bisa menyaksikan bahwa – sejak zaman dulu sampai zaman sekarang – salah satu jalan terbesar untuk mendapatkan hidayah adalah dengan merenungi Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam.

Wallahu a’lam.

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *