Negeri Afrika yang Penduduknya 100% Muslim


Negara ini terletak di bagian barat laut Afrika. Ia adalah Mauritania. Pesisir Mauritania menghadap ke Samudra Atlantik. Letaknya di antara Sahara Barat di bagian utara dan negara Senegal di Selatan.

Mauritania pada masa kuno merupakan daerah yang hijau dan subur. Menurut para arkeolog, suku Berber dan Negro telah hidup berdampingan puluhan ribu tahun yang lalu sebelum padang pasir menyebar menuju arah selatan.

Pada abad ke-3 dan ke-4, suku Berber mengembara ke arah selatan untuk menghindari perang di daerah utara, dengan menggunakan jasa transportasi unta, dan lama-kelamaan mereka membentuk sebuah konfederasi Sanhadja. Mereka berdagang dari daerah utara ke selatan yaitu ke Imbuktu, Mali, untuk berdagang emas, budak, dan gading, untuk ditukar dengan garam, tembaga, dan pakaian.

Rute perdagangan ini akhirnya dijadikan rute penyebaran Islam di Afrika Barat. Islam berkembang di Mauritania secara sempurna ketika Bani Al-Murabitun menguasai Mauritania pada abad ke-11, dan berhasil menaklukkan Sudanese Kingdom dari Ghana, yang akhirnya menyebar sampai ke seluruh Afrika Utara dan akhirnya menaklukkan Spanyol.

Mauritania adalah negara bekas jajahan Perancis. Mempunyai luas wilayah sekitar 1.030.700 km persegi, beriklim panas, kering, dan berdebu. Negara seluas itu hanya berpenduduk 2.998.563 jiwa (pada Juli 2004) yang 100% beragama Islam. Etnis terbesar adalah Berber (White Moor/Beydane dan Black Moor/Haratine) sebanyak 70%, selebihnya terdiri dari suku Halpulaar (Fulani), Soninke, dan Wolof.

Bahasa nasional mereka adalah bahasa Arab Hassaniya, yaitu bahasa Arab dengan campuran kata-kata Berber. Bahasa Perancis dan bahasa lokal, seperti Pulaar, Soninke, dan Wolof juga resmi digunakan.

Separuh penduduk Mauritania masih bergantung pada pertanian dan peternakan sebagai mata pencarian. Untuk menunjang perekonimian, pemerintah Mauritania menggali sumber daya alam, yaitu biji besi, untuk dieskpor. Pada Februari 2000, Mauritania dikategorikan sebagai negara miskin dan banyak utang. Pada tahun 2001 pula, eksplorasi minyak mulai digalakkan untuk membantu pemasukan devisa.

Selain minyak bumi, Mauritania juga menghasilkan emas, bji besi, tembaga, gips, dan garam, sedangkan produk pertaniannya adalah gandum, kurma, jagung, hasil peternakan, dan beras. Hasil industrinya hanya berkisar pada produk perikanan, biji besi, dan gips.

Negara yang beribu-kotakan Nouakchott ini juga mengembangkan pariwisata guna memperoleh devisa negara yang cukup besar. Dengan memanfaatkan keunikan antara Lautan Atlantik yang luas dengan Gurun Sahara yang gersang. Keberadaan 259 spesies burung di pantai Mauritania sangat menarik minat para peneliti.

Mauritania bukan negara sekuler, seperti kebanyakan negara lainnya di kawasan benua hitam, karenanya tak mengherankan jika bahasa nasional Mauritania adalah bahasa Arab, di samping bahasa Perancis dan bahasa lokal, seperti Pulaar, Soninke, dan Wolof yang juga banyak digunakan oleh penduduk Mauritania.

Menutup tulisan tentang Mauritania, ada sebuah keajaiaban alam di negara ini, ia adalah “Eye of The Sahara” (Mata dari Sahara), yaitu bentuk permukaan spektakuler yang terdapat di Mauritania, tepatnya pada bagian barat laut Gurun Sahara. Eye of The Sahara ini berukuran sangat besar, dengan diameter 30 mil sehingga terlihat sangat mencolok dari luar angkasa. Formasi unik ini diperkirakan berasal dari hantamaan meteorit yang kuat, namun saat ini ahli geologis percaya bahwa ini adalah hasil dari uplift dan erosi. Penyebab bentuknya yang bundar masih menjadi misteri. Subhanallah.

**

Disalin dari Majalah Kinan, Edisi 7, Th. VI.

Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *