Andil Muslimah dalam Menekan Angka Pemerkosaan: Secercah Nyala untuk Yuyun


mengapa cinta salafi

Masalah pemerkosaan tengah jadi perbincangan yang mengemuka di berbagai lapisan masyarakat. Salah satu kasus terhangat adalah peristiwa yang menimpa Yuyun, seorang siswi SMP di Bengkulu.

Fenomena tindak pemerkosaan dilatarbelakangi oleh banyak kemungkinan – pendidikan, kemiskinan, miras, dan sebagainya. Kompleksitas ini menuntut kerja sama dari semua komponen bangsa untuk menekan angka pemerkosaan hingga ke level terendah. Pemerintah, tokoh agama, para pendidik, hingga masyarakat secara umum bisa ikut membantu.

Anda, sebagai muslimah, sebenarnya bisa turut andil dalam menekan angka pemerkosaan. Berikut ini beberapa hal yang bisa Anda lakukan:

1. Berhijab secara syar’i.

Syariat Islam mendidik kaum wanitanya untuk menutupi aurat. Manfaatnya bukan hanya untuk menjaga kehormatan wanita, namun untuk membantu para lelaki menjaga pandangan dan syahwatnya.

Bisa saja, seorang wanita menampakkan bagian auratnya secara vulgar. Lalu, ada lelaki yang melihatnya. Bila iman lelaki ini lemah, sewaktu syahwatnya bangkit, dia mungkin saja melecehkan atau bahkan memerkosa wanita lain yang ditemuinya di tempat lain.

Si A (wanita) yang tampil vulgar. Si B (lelaki) melihat si A, lalu bangkitlah syahwat si B. namun, si B tak punya “kesempatan” terhadap si A. Akhirnya, ketika si B mendapati si C (wanita) di tempat lain, si C inilah yang menjadi korban syahwat si B.

Ketika Anda, wahai wanita muslimah yang dirahmati Allah, mengenakan hijab secara syar’i sesuai dengan syarat-syarat hijab yang dituntunkan dalam Islam, itu artinya Anda telah membantu melindungi wanita-wanita yang lain agar tidak menjadi mangsa syahwat lelaki.

2. Tidak ber-selfie ria.

Salah satu daya pikat wanita adalah wajah dan tubuhnya. Secara naluri, seorang wanita ingin tampil menarik dan cantik. Islam memahami hal tersebut. Oleh karenanya, betapa besar pahala seorang istri yang berhias untuk suaminya. Sebaliknya, betapa besar dosa seorang wanita yang berhias untuk menarik perhatian lelaki lain (yang bukan suaminya).

Dahulu, perlu jumpa langsung untuk memamerkan kecantikan. Namun hari ini, cukup dengan kamera, kecantikan seorang wanita sudah bisa dinikmati lelaki dari belahan dunia mana pun. Foto-foto yang berseliweran di internet, dari manakah sumbernya kalau bukan dari hasil jepretan? Entah setelah itu si cantik mengunggah sendiri fotonya untuk mendapat “kepuasan batin”, atau foto itu diunggah oleh orang lain.

Dengan menjaga diri dari hobi selfie-selfie, sebenarnya para wanita muslimah telah membantu menjaga kehormatan wanita lain. Sama seperti logika poin pertama di atas; si A (wanita) ber-selfie. Lalu si B (lelaki) bangkit syahwatnya karena melihat wajah atau postur tubuh si A. Si B tak kuasa menahan syahwatnya, lalu akhirnya dia berbuat keji terhadap wanita lain yang dijumpainya di jalan.

Keimanan perlu terus kita perkuat. Bahwa ada Allah di langit sana yang senantiasa mengawasi kita. Ada atau tak ada pujian penduduk bumi, bila ada pujian Allah untuk ketakwaan kita maka niscaya itu sudah lebih dari cukup.

Apalah guna dipuji hanya untuk kulit yang mulus, asesoris yang berkilau, dan barang bermerek yang bisa hilang dan musnah!

Bila kita, sebagai muslimah, masih merasa dahaga dengan sanjungan dan pujian, berarti ada sesuatu yang mesti dibenahi dalam …
– shalat kita,
– zikir kita,
– tilawah kita,
– ilmu-agama kita,
– dan hati kita.

3. Menasihati kawan yang suka ber-selfie.

Salah satu bentuk kecintaan sesama muslimah adalah tanashuh (saling menasihati). Setelah kita tahu betapa selfie itu tak mendatangkan manfaat – malah menimbulkan madharat – maka sangat baik bila kita menasihati kawan kita yang masih suka ber-selfie. Tentunya, nasihat ini disampaikan dengan menjaga adab dalam menasihati, misalnya: menggunakan bahasa yang santun dan menasihati empat mata (bukan di depan orang banyak).

4. Menyelenggarakan acara bagi-bagi hijab gratis.

Manfaat hijab banyak sekali. Seorang muslimah yang mengenakan hijab telah menaati Allah dan Rasul-Nya.

Acara bagi-bagi hijab gratis merupakan kegiatan yang bermanfaat, insyaallah. Betapa tidak, melalui acara itu, para muslimah dibantu untuk menjaga kehormatannya. Yang dahulunya masih terbuka auratnya, kini seluruh tubuhnya tertutup dengan pakaian syar’i. Yang dahulunya masih suka hijab yang berhias motif di sana-sini, kini telah menyederhanakan pakaiannya agar tak lagi termasuk tabarruj.

5. Menyemarakkan lingkungan sekitar Anda dengan kegiatan yang positif.

Selain dengan hijab, para wanita muslimah bisa menyemarakkan lingkungan sekitar tempat tinggalnya dengan kegiatan positif. Untuk anak usia prasekolah hingga SD bisa diselenggarakan kegiatan TPA (Taman Pendidikan Al-Quran). Untuk remaja putri, bisa diselenggarakan pelatihan prakarya, pelatihan menulis, dan kegiatan lain yang bermanfaat. Ibu-ibu dan lansia juga bisa dibuatkan kegiatan yang berfaedah.

Ada baiknya bila masyarakat setempat juga menyelenggarakan kegiatan untuk remaja putra dan bapak-bapak.

Ingatlah, bila setiap orang sibuk dengan kegiatan yang positif, insyaallah hal-hal negatif akan sirna dengan sendirinya.

Ini saja yang dapat kita ulas kali ini. Semoga bermanfaat.


Penulis: Athirah Mustadjab
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *