Pesan Penting untuk Para Pelukis, Animator, Desainer Grafis, Komikus, Ilustrator, dll.


Assalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh

(Nasihat berikut ini ditulis oleh) Sukainah Al-Albaniyah (Putri Syaikh Al-Albani) – semoga Allah memberi balasan kebaikan baginya serta bagi ayahandanya dan menempatkan ayahandanya di Surga Firdaus Al-A’la.

***

Suratku untuk Para Penggambar Makhluk Bernyawa

Bismillahirrahmanirrahim.

Sesungguhnya segala puji hanya milik Allah. Kita memuji-Nya, memohon pertolongan-Nya, dan memohon ampunan-Nya. Kita berlindung kepada-Nya dari keburukan jiwa kita dan dari keburukan perbuatan kita. Barang siapa yang diberi hidayah oleh Allah maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, sedangkan barang siapa yang dibiarkan sesat oleh Allah maka tidak ada yang mampu memberinya hidayah.

Saya bersaksi bahwa tidak ada tuhan yang berhak disembah selain Allah – hanya dia semata (yang berhak disembah); tiada sekutu bagi-Nya. Saya juga bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Nya dan rasul-Nya.

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dengan sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam. (QS. Ali Imran: 102)

“Wahai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhanmu yang telah menciptakanmu dari seorang diri; darinya Allah menciptakan istrinya; dan dari keduanya Allah memperkembang-biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasimu. (QS. An-Nisa’: 1)

“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan katakanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Barang siapa yang menaati Allah dan Rasul-Nya maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar.” (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Amma ba’du.

Sesungguhnya ucapan yang paling benar adalah kitabullah dan petunjuk terbaik adalah tuntunan Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam. Perkara terburuk adalah amalan yang dibuat-buat (dalam agama); setiap amalan yang dibuat-buat (dalam agama ini) adalah bid’ah; setiap bid’ah pasti sesat.

Amma ba’du.

Ini surat yang kutujukan bagi setiap orang yang telah mengirimkan surel (email) kepadaku, namun di dalam surelnya itu termuat gambar makhluk bernyawa. Surat dalam format apa pun; baik yang berupa tulisan ilmiah, nasihat, peringatan, tulisan yang menghibur, surat tentang perkara agama, surat perihal urusan dunia, dan lain-lain. Dengan sosok makhluk bernyawa yang dituangkan dalam satu gambar atau beragam gambar! Sosok berupa manusia atau makhluk bernyawa lainnya.

Sosok manusia apa pun; baik itu sosok seorang ulama yang terhormat atau masyarakat biasa, baik itu lelaki atau pun perempuan, baik itu orang muslim atau pun orang kafir.

Mengherankan sekali bila sebuah surat berisi peringatan tentang bahaya kesyirikan, tentang bahaya pemikiran kaum Yahudi, atau bahaya pemikiran kaum Nasrani, namun di dalam surat itu ada wasilah (perantara) menuju kesyirikan!

Mengherankan sekali bila sebuah surat menyerumu kepada ajaran Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, namun dalam surat itu juga termuat kemaksiatan!

Mengherankan sekali bila sebuah surat berisi peringatan tentang keharaman segala perkara (agama) yang tidak didasari dalil. Akan tetapi, surat itu justru menyebarkan perkara yang haram dari segala arah; perkara haram yang tidak memiliki dalil shahih sama sekali, melainkan hanya dalih semata!

Inbox surelku dipenuhi surat yang apatis semacam ini!

Saya semakin menyayangkan ketika gambar-gambar makhluk bernyawa disertakan saat mencantumkan ayat Al-Quran dan hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam! Sebagaimana kita lihat pada tulisan tentang keajaiban sains, atau ada orang yang ingin menyertakan gambar-gambar/ilustrasi-ilustrasi pada setiap ucapan, sampai-sampai seolah masyarakat tidak akan mampu memahami ucapan yang tertera bila tidak ada ilustrasi/gambar (makhluk bernyawa) yang menyertainya!

Jika saya memaparkan contoh yang lebih banyak lagi, tentu akan dibutuhkan waktu yang panjang (untuk menulis risalah/pesan ini). Oleh sebab itu, saya menulis pesan ini secara umum saja, “Pesanku untuk setiap orang yang menulis pesan dengan menyertakan gambar makhluk bernyawa di dalamnya.”

**

Bismillahirrahmanirrahim.

Disadur dari Kitabut Tauhid karya Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah.

Bab tentang Ancaman bagi Para Tukang Gambar

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu; beliau berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), ‘Siapa lagi yang lebih zalim dibandingkan orang yang menggambar makhluk seperti makhluk yang telah kuciptakan! Coba (bisakah) mereka ciptakan sebuah dzarrah, sebutir biji, atau sebuti gandum!”” (HR. Bukhari dan Muslim)

Juga diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Orang yang mendapatkan siksa paling pedih pada hari kiamat adalah orang yang meniru makhluk/ciptaan Allah.”

Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, “Saya mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Setiap tukang gambar akan masuk neraka. Setiap gambar yang dia buat akan dihidupkan, dan gara-gara gambar itu dia dimasukkan ke neraka jahanam.’”

Diriwayatkan pula oleh Bukhari dan Muslim, secara marfu’, dari Ibnu Abbas, “Barang siapa membuat sebuah gambar di dunia maka (pada hari kiamat kelak) ia akan diminta meniupkan roh pada gambar yang pernah dibuatnya, namun dia pasti tidak mampu melakukannya.”

Diriwayatkan oleh Muslim dari Abul Hiyaj, “Ali (bin Abi Thalib) berkata kepadaku, ‘Tidakkah engkau mau dibangkitkan (pada hari kiamat nanti) bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam? (Jika memang engkau mau seperti itu) maka jangan biarkan ada gambar melainkan musnahkanlah; dan jangan biarkan ada kuburan yang dimuliakan (dengan cara ditinggikan) melainkan ratakanlah.’”

Ada beberapa kesimpulan:

  1. Ancaman yang sangat berat bagi para tukang gambar.
  2. Peringatan terhadap ‘illat (latar belakang menggambar), yaitu sikap tidak beradab kepada Allah, karena Allah berfirman, “Siapa lagi yang lebih zalim dibandingkan orang yang sengaja menciptakan sesuatu yang menyerupai mahlukku.”
  3. Peringatan tentang kekuasaan Allah dan kelemahan manusia. Allah menantang, “Coba saja dia ciptakan sebuah dzarrah, sebutir biji, atau sebutir gandum!”
  4. Pernyataan yang jelas bahwa tukang gambar adalah orang yang mendapat azab/siksa paling pedih (pada hari kiamat).
  5. Allah akan menciptakan roh sejumlah gambar yang pernah dibuat oleh si tukang gambar. Dengan itu dia diazab di jahanam.
  6. Si tukang gambar akan disuruh meniupkan roh kepada gambar-gambar yang pernah dibuatnya.
  7. Perintah (dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam) untuk memusnahkan gambar-gambar bila menemukan makhluk bernyawa.

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah pernah ditanyai, “Apakah seorang guru boleh menggambar makhluk bernyawa sewaktu ia menyampaikan pelajaran untuk menjelaskan, sedangkan dia tahu tentang hadits-hadits shahih yang melarang pembuatan gambar makhluk bernyawa?”

Syaikh Ibnu Baz rahimahullah menjawab, “Seorang guru atau siapa pun tidak boleh menggambar makhluk bernyawa karena Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melaknat para tukang gambar, dan beliau shallallahu ‘alaihi wasallam memberitakan bahwa merekalah orang yang ditimpa azab yang paling pedih pada hari kiamat. Beliau shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyampaikan bahwa mereka akan diazab dan kepada mereka dikatakan, ‘Hidupkanlah gambar yang kalian buat itu!’

Penjelasan bisa diberikan tanpa perlu menggambar. Allah tidak menjadikan umat ini butuh kepada apa yang Allah haramkan ketika mengajar. Sarana yang mubah sudah sangat mencukupi bagi mereka yang takut kepada Allah dan senantiasa merasa diawasi oleh-Nya.

Semoga Allah memberi taufik kepada kami dan Anda sekalian serta kepada segenap kaum muslimin, untuk memahami ajaran agama in, teguh menjalankannya, dan terlindung dari segala bentuk ujian hidup. Dialah yang Maha Mendengar dan Maha Mengabulkan doa.

Wassalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

Tertanda,
Rektor Universitas Islam Madinah.

Tanya-jawab ini dinukil dari karya tulis Syaikh Ibnu Baz sewaktu beliau menjabat rektor Universitas Islam Madinah, no. 841, tanggal 25/3/1395 H.

Sumber: Majmu’ Fatawa wa Maqalat Mutanawwi’ah Al-Majlad Ats-Tsamin wal ‘Isyrun.

*

Terakhir, Imam Ahmad rahimahullah menuturkan sebuah nasihat yang sangat bagus. Menurut saya, nasihat tersebut sesuai dengan pembahasan yang kita ulas ini.

Beliau berkata,

“Jangan membebani diri kalian dengan hal yang tidak kalian ketahui. Jangan semata mengikuti opini pribadi. Jangan sibuk menyelami perkataan manusia secara mendalam. Jika engkau melakukan itu semua, engkau terjerumus pada bid’ah.

Keinginanmu untuk mengikuti kebenaran, namun bukan dengan jalan kebenaran, adalah kebatilan. Bila kamu berbicara tentang sunnah, tanpa mengikuti sunnah, maka itu juga termasuk bid’ah.”

(Al-Ibanah, karya Imam Ibnu Baththah, 2:541:679)

Orang-orang yang mengirimkan surat-surat kepada saya (tentang keimanan) sebenarnya ingin menyampaikan kebenaran, namun apakah mereka menempuh jalan kebenaran? Mereka ingin menyebarkan sunnah Nabi, namun tidakkah mereka menyebarkan sunnah Nabi dengan cara yang justru bertentangan dengan sunnah Nabi!

Selain itu, jika pengirim surat menilai surat yang dikirimnya itu bermanfaat bagi orang yang menerimanya, namun dia menyertakan gambar makhluk bernyawa di surat tersebut, maka dia dihadapkan pada dua pilihan jika memang dia ingin bertakwa kepada Allah:

  1. Hapuslah gambar itu dan biarkan tulisan di surat itu tetap ada.
  2. Buatlah gambar tersebut menjadi “cacat”, yaitu dengan membuang kepalanya; karena terdapat sabda Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Inti dari gambar ada di bagian kepalanya. Oleh sebab itu, jika kepalanya dipotong maka dia tidak lagi dinamakan gambar.” (Silsilah Ahadits Ash-Shahihah, no. 1921)

Dalam kitab tersebut, ayahanda saya rahimahullah (yaitu Syaikh Al-Albani) berkomentar,

“(Derajat) hadits tersebut diperkuat oleh hadits lain yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah, ‘Jibril mendatangiku ….’ Dalam hadits syahid (penguat) ini terdapat lafal, ‘Buanglah/hapuslah kepala patung yang terletak di dalam rumah. Bila (kepalanya sudah dipotong) maka bentuknya seperti batang pohon ….’ Hadits ini secara jelas menyebutkan (wajibnya) memotong bagian kepala sebuah gambar – yaitu patung makhluk bernyawa – sehingga bentuk tiga dimensi itu tidak lagi menyerupai gambar makhluk bernyawa.

Saya (Al-Albani) katakan, bahwa ini yang seharusnya dilakukan terhadap gambar yang berwujud bentuk tiga dimensi (misalnya, patung). Adapun gambar yang tertera di kertas atau tersulam di kain maka tidak boleh bila sekadar memberi jarak (memisahkan) pada leher sehingga seakan-akan leher (dan kepala) tersebut terpisah dari badan. Akan tetapi, yang harus dilakukan adalah menghapus seluruh kepala. Dengan demikian, wujud gambar pun berubah dan bentuknya seperti yang disabdakan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ‘Seperti batang pohon’.

Ingat baik-baik hal ini dan jangan sampai teperdaya dengan pendapat-pendapat yang dibawakan dalam sebagian buku/kitab fikih serta opini yang dibawakan oleh orang-orang yang mengambil pendapat tersebut dari orang-orang belakangan.”

Ketiga, janganlah mengirim surat kalau memang kita tak punya waktu maupun tekad untuk menghapus atau “merusak” (gambar yang terikut di surat tersebut).

Zaman sekarang, sebenarnya “merusak” gambar jauh lebih mudah (dibandingkan zaman dahulu). Kita bisa menghapusnya dengan perangkat yang mubah, yaitu dengan software (perangkat lunak) yang bernama Teorex Inpaint.

Semoga Allah melimpahkan kebaikan kepada mereka (para programmer software tersebut).

Akhir kata, tidak ada lagi alasan (untuk tidak menghapus/”merusak” gambar makhluk bernyawa), bagi setiap muslim/muslimah yang menginginkan kebaikan.

Wassalamu ‘alaykum warahmatullahi wabarakatuh.

***

Surat ini ditulis oleh Ustadzah Sukainah Al-Albaniyah.

Semoga Allah membalasnya dengan kebaikan.

Sumber: http://ajurry.com/vb/showthread.php?t=13784

Diterjemahkan oleh Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
(Dengan mengedit ejaan yang salah, yaitu “Toerex” menjadi “Teorex”, dan menghapus tautan yang sudah tidak valid).

Murajaah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

———–

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

كتبت سكينة الألباني جزاها الله خيرا ورحم الله أباها وأسكنه الفردوس الأعلى

رسالتي لمرسلي صور ذوات الأرواح

بسم الله الرحمن الرحيم

إِنَّ الحَمْدَ للهِ ؛ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لهُ.
وَأَشْهَدُ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ -وَحْدَهُ لاَ شَرِيكَ لَهُ-.
وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداً عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.
{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوتُنَّ إِلاَّ وَأَنْتُمْ مسْلِمُونَ} [آل عمران : 102].

{يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيراً وَنِساءً وَاتَّقُوا اللهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالأَرْحَامَ إِنَّ اللهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيباً} [النساء : 1].

{يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللهَ وَقُولُوا قَوْلاً سَدِيداً. يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزاً عَظِيماً} [الأَحزاب : 70-71].

أَمَّا بَعْدُ :

فَإِنَّ أَصْدَقَ الحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخيرَ الهَدْيِ هَدْيُ مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم، وَشَرَّ الأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَة.
أما َبَعْدُ :

فهذه رسالتي إلى كل مَن يرسل إلي بالبريد الإلكتروني رسالةً فيها صور ذوات أرواح، أيًا كان نوع الرسالة، علمية، توجيهية، تحذيرية، ترفيهية، دينية، دنيوية، إلخ.
وأيًا كان ذو الروح الذي في الصورة أو الصور! إنسانًا سويًا أو غيره

وأيًا كان الإنسان شيخًا جليلاً، أو شخصًا عاديًّا، رجلاً أو امرأة.. مسلمًا أو كافرًا

من العجائب أن تأتيك رسالة تحذّرك من الشرك ، من اليهود ، من النصارى ، ثم فيها ما هو وسيلة للشرك!

من العجائب أن تدعوك الرسالة إلى سُنة ، ولكنها ركبتْ مطيةَ معصية!

من العجائب أن تحذّرك الرسالة من أمرٍ ليس ثمة دليل على حرمته ، وتنشر بكل أريحية أمورًا على حرمتها ليس دليلاً بل أدلة!

تعب صندوق واردي من هذه اللامبالاة!

ويشتد أسفي إذا كانت صور ذوات الأرواح مرتبطةً بآيةٍ أو حديث! كما في كلام القائلين بالإعجاز العلمي، أو الذين يريدون أن يقحموا الصور في كل حديث حتى لا يكاد الناس
بعد ذلك يفهمون إلا إذا أُرفقت صورة!

وإذا رحت أضرب أمثلة؛ ضاع وقت كثير.. لهذا أعمم فأقول:
رسالتي إلى كل مَن يرسل رسالة بها صور ذوات أرواح:

بسم الله الرحمن الرحيم

مِن كتاب التوحيد للإمام محمد بن عبد الوهاب رحمه الله

باب ما جاء في المصورين

عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم:

“قال الله تعالى: وَمَنْ أَظْلَمُ مِمَّنْ ذَهَبَ يَخْلُقُ خَلْقًا كَخَلْقِي؟! فَلْيَخْلُقُوا ذَرَّةً ، أَوْ لِيَخْلُقُوا حَبَّةً ، أَوْ لِيَخْلُقُوا شَعِيرَةً” أخرجاه.
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ ـــــــ

ولهما عن عائشة رضي الله عنها: أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال:

” أَشَدُّ النَّاسِ عَذَابًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ الَّذِينَ يُضَاهُونَ بِخَلْقِ اللَّهِ”.
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ ــــــــــ

ولهما عن ابن عباس: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول:

” كُلُّ مُصَوِّرٍ فِي النَّارِ ، يَجْعَلُ لَهُ بِكُلِّ صُورَةٍ صَوَّرَهَا نَفْسًا يُعَذَّبُ بِها فِي جَهَنَّمَ”.

ولهما عنه مرفوعًا:

” مَنْ صَوَّرَ صُورَةً فِي الدُّنْيَا كُلِّفَ [يَوْمَ الْقِيَامَةِ] أَنْ يَنْفُخَ فِيهَا الرُّوحَ، وَلَيْسَ بِنَافِخٍ”.
ــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــــ ـــــــــــــ

ولمسلم عن أبي الهياج قال: “قَالَ لِي عَلِيُّ [بْنُ أَبِي طَالِبٍ]: أَلَا أَبْعَثُكَ عَلَى مَا بَعَثَنِي عَلَيْهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ؟ أَنْ لَا تَدَعَ صُورَةً إِلَّا طَمَسْتَهَا
وَلَا قَبْرًا مُشْرِفًا إِلَّا سَوَّيْتَهُ”.

فيه مسائل:

الأولى: التغليظ الشديد في المصورين.
الثانية: التنبيه على العلة، وهو ترك الأدب مع الله، لقوله: “ومن أظلم ممن ذهب يخلق كخلقي”.
الثالثة: التنبيه على قدرته، وعجزهم لقوله: “فليخلقوا ذرة أو حبة أو شعيرة”.
الرابعة: التصريح بأنهم أشد الناس عذابا.
الخامسة: أن الله يخلق بعدد كل صورة نفسا يعذب بها المصور في جهنم.
السادسة: أنه يكلف أن ينفخ فيها الروح.
السابعة: الأمر بطمسها إذا وجدت.

=============================

سئل سماحة الشيخ ابن باز رحمه الله :

هل يجوز للمدرس أن يصور ذوات الأرواح حين تدريسه معتبراً ذلك من وسائل الإيضاح، مع العلم بما جاءت به الأحاديث الصحيحة من تحريم تصوير ذوات الأرواح؟[1]

فأجاب رحمه الله:

ليس للمدرس ولا غيره تصوير ذوات الأرواح؛ لأن الرسول صلى الله عليه وسلم لعن المصورين، وأخبر أنهم أشد الناس عذاباً يوم القيامة، كما أخبر أنهم يعذَّبون ويقال لهم:
أحيوا ما خلقتم، والإيضاح ممكن بدون التصوير، ولم يحوج الله سبحانه الأمة في التعليم إلى ما حرم عليها، بل في الوسائل المباحة مقنع وكفاية لمن خاف الله وراقبه.
وفقنا الله وإياكم وسائر المسلمين للفقه في دينه والثبات عليه وأعاذ الجميع من مضلات الفتن إنه سميع مجيب. والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته.
رئيس الجامعة الإسلامية
[1] صدر من مكتب سماحته عندما كان رئيساً للجامعة الإسلامية برقم 841 وتاريخ 25/3/1395هـ.
مجموع فتاوى ومقالات متنوعة المجلد الثامن والعشرون

======================

وأخيرًا فللإمام أحمد – رحمه الله- نصيحة قيّمة، أراها تطابق هذا المقام، إذ قال:

” …. وإياك والتكلف لما لا تعرفه ، وتمحل الرأي ، والغوص على دقيق الكلام ، فإن ذلك مِن فِعلك بدعة ، وإنْ كنتَ تريد به السُّنّة
فإنّ إرادتَك للحق مِن غير طريقِ الحقِ باطلٌ ، وكلامَك على السُّنّة مِن غير السُّنّة بدعةٌ…..”. “الإبانة” للإمام ابن بطة (2/ 541/ 679)

فالذين يرسلون هذه الرسائل (الإيميلات) يريدون الحق، ولكن هل سلكوا (طريق الحق)؟ يريدون نشر السُّنة، فهل نفذوا لنشر السُّنّة مِن جادة السنة؟

وبعد.. فإنّه إذا كانت الرسالة مما يرى مُرسِلها أنها (مفيدة) لمن يرسلها إليهم، ولكنها تحتوي على صور ذوات أرواح؛ فإنه أمام خيارات إذا أراد أن يتقي الله:

الأول: أن يحذف الصور ويُبقي الكلامَ النافع.

الثاني: أن يطمس هذه الصور [ أي الرأس منها؛ لقوله صلى الله عليه وسلم: (الصورة الرأس ، فإذا قطع الرأس ، فلا صورة)
وهو في “سلسلة الأحاديث الصحيحة” (1921)،
وقال الوالد -رحمه الله- فيه:

“…. يشهد له قوله صلى الله عليه وسلم في حديث أبي هريرة : (أتاني جبريل …) الحديث، وفيه:
(فمُرْ برأس التمثال الذي في البيت يقطع فيصير كهيئة الشجرة …)، فهذا صريحٌ في أن قطع رأس الصورة أي التمثال المجسّم يجعله كَلا صورة.

قلت: وهذا في المجسم كما قلنا، وأما في الصورة المطبوعة على الورق أو المطرزة على القماش؛ فلا يكفي رسم خطٍّ على العنق ليظهر كأنه مقطوع عن الجسد
بل لابد مِن الإطاحة بالرأس، وبذلك تتغير معالم الصورة وتصير كما قال عليه الصلاة والسلام : (كهيئة الشجرة).

فاحفظ هذا، ولا تغترّ بما جاء في بعض كتب الفقه ومَن أخذها أصلاً مِن المتأخرين..”. ا.هـ ].

الثالث: أن لا يرسل الرسالة إذا لم يكن عنده وقت أو همّة لا للحذف ولا للطمس!.

وقد صار الطمس الآن أسهل بكثير، ويمكن المحافظة على معالم خلفية الصورة (المباحة) مع هذا البرنامج :

برنامج Toerex inpaint لحذف صور ذات الأرواح ، وصلت إليه عبر الرابط التالي، فجزاهم الله خيرًا:

http://www.salafsoft.com/vb/showthread.php?t=6811

لم يبق عذرٌ لمريد الخير!

والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته

كتبته الأستاذة سُكينة الألباني

جزاها الله اخيرا

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *