Sekilas tentang Istilah Manhaj


manhaj jalan hidup

Manhaj – secara bahasa – artinya jalan. Allah Ta’ala berfirman,

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجاً

Bagi setiap umat di antara kalian, Kami berikan syir’ah (aturan) dan manhaj (jalan).” (QS. Al-Maidah: 48)

Shahabat Nabi, Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, menerangkan maksudnya adalah “jalan dan sunnah (tuntunan)”; lihat Mahaj As-Salaf Ash-Shalih fi Tarjih Al-Mashalih, hlm. 34, oleh Syaikh Ali Al-Halabi.

Dengan demikian, kita bisa simpulkan bahwa “manhaj” itu serupa dengan istilah metode atau jalan. Akan tetapi, yang dimaksud di sini adalah metode dan jalan beragama. Di dalamnya tercakup ilmu, amal, dan dakwah. Oleh sebab itu, kita mengenal adanya manhaj dalam thalabul ‘ilmi (menimba ilmu). Ada manhaj dalam beramal, sehingga dikenal istilah tafadhul bainal a’mal (perbedaan keutamaan amalan dan kriteria seperti apakah amalan yang benar menurut kacamata syariat. Kemudian kita juga mengenal istilah manhaj dalam hal dakwah, artinya bagaimana metode yang benar dalam berdakwah.

Manhaj ini pulalah yang terkadang disebut oleh Allah dalam Al-Quran dengan istilah sabilul mu’minin (jalan orang-orang beriman), sebagaimana dalam firman-Nya,

وَمَن يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِن بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءتْ مَصِيراً

Dan barang siapa yang menentang Rasul – sesudah jelas kebenaran baginya – sdan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahanam, dan Jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Apakah manhaj itu penting? Oh … tentu saja sangat penting. Bahkan, apabaila kita cermati ayat di atas ternyata Allah memberikan ancaman yang sangat keras kepada orang-orang yang menyimpang dari sabilul mu’minin, atau dengan kata lain menyimpang dari manhaj orang-orang beriman. Allah ancam siapa pun yang menyimpang dari jalan itu bahwa mereka akan terombang-ambing dalam kesesatan, dan di akhirat akan dijerumuskan ke dalam neraka Jahanam. Na’udzu billahi tsumma na’audzu billah.

**

Disalin dari buku “Inilah Jalanku: Jalan Rasulullah dan Para Shahabat dalam Beragama), April 2014, karya Abu Mushlih Ari Wahyudi, penerbit Pustaka Muslim, Yogyakarta.

Dipublikasikan ulang oleh WanitaSalihah.Com, dengan pengeditan bahasa.

Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *