Si Mata “Tembus Pandang” yang Sangat Cerdas


kisah islam hud-hud-sulaiman

Ini hanyalah setitik dari hikmah yang menakjubkan didalam Al-qur’an yang mulia. Sebuah kisah tentang seekor burung hud-hud yang ketika itu menjadi salah satu anggota pasukan Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam.

Diantara keistimewaan burung hud-hud yang diberikan Allah adalah penglihatan tajam untuk menyibak kegelapan bumi demi mencari sumber air didalamnya. Hal ini dijelaskan dalam riwayat Ibnu Katsir dari Ibnu’Abbas -radhiyallahu ‘anhu- bahwasanya “Hud-hud adalah insinyur yang memberitahukan tempat air kepada Sulaiman ‘alaihissalaam. Bila sulaiman ‘alaihissalaam tengah berada di padang pasir, ia mencarinya.

Lantas hud-hud melihat air untuknya di kedalaman bumi, sebagaimana seseorang melihat air di permukaan bumi. Hud-hud tahu berapa jarak kedalamannya dari permukaan tanah. Bila ia telah menunjukkan keberadaan air, selanjutnya sulaiman ‘alaihissalaam memerintahkan pasukan jin untuk menggali tempat tersebut sampai air keluar dari
sumbernya. Suatu hari Sulaiman tiba di hamparan tanah nan luas, ia pun memeriksa rombongan burung untuk melihat hud-hud. Namun ia tidak mendapatinya.

Nabi Sulaiman berkata:

“Kenapa aku tidak melihatnya? Ataukah dia termasuk yang tidak hadir?”

Kata ‘am’ (ataukah) disini ‘munqhati’ (terputus), berarti ‘bal’ (bahkan). Jadi maknanya,

“Bahkan dia tidak hadir, pergi tanpa izin dariku.” Dan firman Allah, “Dan dia memeriksa burung-burung..” (An-Naml [27]:20)

mengandung petunjuk untuk para pemimpin akan wajibnya memeriksa kondisi rakyat dan memperhatikan mereka. Hud-hud, kendati bertubuh mungil, tidak luput dari perhatian Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam. Semoga Allah merahmati Umar radhiyallahu ‘anhu karena mengatakan, “Kalaulah seekor bighal dipantai eufrat tersandung, sungguh aku khawatir bila Allah menanyakannya kepada Umar.”

Manakala Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam memastikan ketidakhadiran hud-hud, ia mengucapkan “Sungguh aku akan benar-benar mengazabnya dengan keras atau benar-benar aku akan menyembelihnya..” (Yakni membunuhnya) kecuali jika benar-benar dia datang kepadaku dengan alasan yang terang.” Yakni hujjah yang jelas dan alasan yang bisa
diterima. Artinya, nabi sulaiman ‘alaihissalaam akan menjatuhkan salah satu dari dua sangsi ini dengan asumsi tidak ada hal ketiga. Yaitu bukti yang jelas dan alasan yang kuat lagi masuk akal (atas ketidakhadirannya).

Bagaimana Jawaban Hud-hud?

Ketika hud-hud datang dari kepergiannya yang di ungkapkan Al-Qur’an melalui firman-Nya, “Maka tidak lama kemudian (datanglah Hud-hud), lalu ia berkata, “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui. Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan. Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang
memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana (‘arsy) yang besar. Aku (burung hud-hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi dari jalan Allah, maka mereka tidak
mendapat petunjuk. Mereka juga tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan di bumi dan yang mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan kamu nyatakan. Allah, tidak ada tuhan melainkan Dia, Tuhan yang mempunyai ‘Arsy yang agung.” (Qs. An-Naml [27]:22-26)

Inilah inti dari tulisan ini, runutan kalimat yang digunakan oleh burung hud-hud yang mengagumkan. Layaknya seorang yang ahli dalam bernegosiasi, hud-hud mengawali kalimat pertamanya dengan berusaha memancing perhatian Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam bahwa dirinya telah mengetahui informasi-informasi yang tidak diketahui Nabi Sulaiman
‘alaihissalaam yaitu “Aku telah mengetahui sesuatu yang belum engkau ketahui.”

Kemudian ia membuat Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam semakin penasaran bercampur heran dengan ‘kalimat kedua’ : “Aku datang kepadamu dari negeri Saba’ membawa suatu berita yang meyakinkan.” Dalam kalimat ini hud-hud mengabarkan bahwa ia datang membawa suatu berita dari negeri nan jauh disana yang kebenarannya dapat dipertanggungjawabkan. Negeri itu adalah Saba’ terletak di Yaman. Jarak antara negeri ini dan Syam membutuhkan perjalanan beberpaa malam.

Selanjutnya hud-hud mulai berbicara penuh percaya diri dan yakin akan kebenaran berita dan informasinya. Ia mulai memerinci apa yang ia globalkan dan menjelaskan apa yang ia samarkan agar Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam tak lagi penasaran dan hilang kekagetannya terhadap pengetahuan hud-hud yang tak diketahuinya. Maka hud-hud mengatakan
kalimat ketiga: “Sungguh, kudapati ada seorang perempuan yang memerintah mereka, dan dia dianugerahi segala sesuatu serta memiliki singgasana (‘arsy) yang besar” (Qs. An-Naml [27]: 23)

Ia menceritakan kepada Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam perihal ratu saba’ ini, yaitu Balqis binti Syarhabil atau Syurahil, dari keturunan Ya’rub bin Qahtaan. Pada zamannya, Balqis telah diberi segala sesuatu yang dibutuhkannya terkait kebesaran, kekuasaan dan kerajaannya. Kemudian hud-hud beralih menggambarkan dan menyanjung singgasana (‘arsy) ratu Saba’ ini. Barangkali ungkapannya bahwa singgasana ini ‘besar’ didasari kemegahan yang ia saksikan sendiri. Dikatakan, singgasana ini terbuat dari emas murni. Panjangnya 80 hasta, lebarnya 40 hasta, dan tingginya 80 hasta. Dihiasi permata, yaqut merah dan zabarjad. Singgasana ini dikelilingi 7 rumah dan di setiap rumah ada pintu yang tertutup.

Selanjutnya, burung hud-hud yang tak berakal ini menyangsikan bahwa nikmat melimpah yang dimiliki Balqis ini seharusnya membawa pemiliknya kepada mengesakan Sang Pencipta dan bersyukur pada-Nya. Namun, amat disayangkan, ternyata Balqis menjadikan nikmat-nikmat ini sebagai sarana untuk mengkufuri Allah, Sang Pemberi Nikmat, menentang ayat-ayat-Nya dan mengingkari jasa-jasa-Nya. Hal ini diungkapkan hud-hud dengan luga di kalimat keempat: “Aku (burung hud-hud) dapati dia dan kaumnya menyembah matahari, bukan kepada Allah; dan setan telah menjadikan terasa indah bagi mereka perbuatan-perbuatan (buruk) mereka, sehingga menghalangi dari jalan Allah, maka mereka tidak
mendapat petunjuk.” (An-Naml [27]:24)

Disini huf-hud menegaskan bahwa Balqis kufur terhadap nikmat-nikmat Allah. Ia dan kaumnya menyembah matahari selain Allah. Selanjutnya hud-hud menerangkan bahwa faktor yang menyebabkan mereka melakukan penyembahan ini adalah setan dimana setan telah membuat mereka memandang baik perbuatan menyembah matahari. Akibatnya, mereka terperdaya dan dikuasai setan. Maka melalui penghias-penghias oleh setan ini, selanjutnya menghalangi mereka dari jalan terang yang mengantarkan kepada Allah, yaitu jalan keimanan, tauhid dan penyucian kepada Allah. Karenanya mereka sesat dan tidak mendapat petunjuk. Sungguh menakjubkan, hewan yang mungkin kita anggap remeh dan tak berakal ini tahu bahwa Allah lah pencipta dan hanya Dia yang patut disembah. Adanya manusia yang menyembah selain Allah membuatnya terheran-heran. Jelas ini adalah bentuk cemoohan yang berat. Bukan kah aneh jika makhluq yang berakal justru menyembah makhluq tak berakal?

Kemudian hud-hud menertawakan kaum tersebut dalam kalimat kelima. Ia mengejek akal dan pikiran mereka, serta memuji dan menyanjung Allah subhaanahu wa ta’ala. Ia berkata: “Agar mereka tidak menyembah Allah yang mengeluarkan apa yang terpendam di langit dan dibumi dan yang\ mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan” (An-Naml [27]:25)

Qatadah berkata, maksud dari ‘yang terpendam’ (Al ka’bu) adalah rahasia. Dikatakan pula, yang terpendam didalam bumi adalah harta simpanannya (minyak bumi, barang tambang dll) dan tumbuhan-tumbuhannya. Artinya, Allah menampakkan barang-barang yang
tersimpan dan tersembunyi di langit dan bumi sebagaimana Dia mengetahui apa yang mereka sembunyikan dan apa yang mereka nyatakan.

Setelah hud-hud menyebut Allah dengan sifat yang menunjukkan keagungan kemampuan-Nya dan kebesaran kekuasaan-Nya, serta kewajiban mentauhidkan-Nya dan mengkhususkan ibadah kepada-Nya ia lalu menutup dengan kalimat keenamnya dengan mengatakan: “Allah, tiada ilah yang disembah kecuali Dia, Rabbyang mempunyai ‘Arsy yang besar” (An-Naml[27]: 26)
Hud-hud mendeklarasikan pengakuan tiada ilah yang berhak disembah selain Allah. Dia-lah Rabb yang mempunyai ‘Arsy yang agung, yang Arsy-nya sendiri menyandang keagungan dan kemuliaan.

Diantara kecerdasannya, hud-hud telah menyebut kata ‘Arsy dua kali, yang pertama ‘arsy bilik Balqis, dan yang kedua adalah ‘Arsy Allah. Namun ia menyatakan ‘arsy Balqis dalam bentuk nakiroh (umum) dan untuk ‘Arsy Allah yang Agung, ia menyatakan dalam bentuk ma’rifat (khusus) karena ‘Arsy Allah adalah makhluq yang paling besar. Tujuannya adalah untuk menjelaskan bahwa tidak sepantasnya ‘Arsy Allah disandingkan dengan ‘arsy siapapun. Sampai sini, selesailah perkataan burung hud-hud

Setiap umat dari makhluq-makhluq Allah memiliki bahasa yang menjadi ciri khasnya. Disini Al-Qur’an Al kariim menceritakan percakapan hud-hud dengan Nabi Sulaiman ‘alaihissalaam yang telah diterjemahkan ke dalam bahasa arab. Ini membenarkan firman Allah:

“Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat juga seperti kamu..” Qs Al-An’am [6]: 38

Disarikan dari “Ketika alam Bertasbih” Dr. Musa Al-Khathib.
Judul Asli: Du’aaul Hasyarat wat Thair wal jibaal fil Qur’aanul Kariim.
Penerbit: Kiswah Media. Solo: 2010

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *