Ulbah bin Zaid: Kedermawanan Sang Faqir


Ummar bin Khattab

Oleh: Ustadz Armen Halim Naro rahmatullah alaih

Ketika itu, musim paceklik sedang melanda kota Madinah. Ekonomi kaum muslimin sedang sulit. Musim panas sedang berada di puncaknya. Angin musim itu juga membawa hawa panas, debu-debu berterbangan mengotori atap-atap dan halaman rumah penduduk kota Madinah, kulit terasa diiris, mata perih seperti diteteskan air cuka pada luka.

Bagi penduduk Madinah, musim panas seperti itu biasanya mereka lebih memilih istrirahat di rumah atau tinggal di kebun mereka sambil memetik kurma muda, yang kebetulan sedang ranum-ranumnya, karena pohon kurma memang berbuah pada musim panas. Tahun tersebut bertepatan dengan tahun kesembilan hijrah, satu bulan sebelum meghadapi bulan Ramadhon.

Akan tetapi bagi mereka, perkembangann kondisi politk Islam di Madinah sebagai dampak dari pengiriman surat-surat Rasulullah shallallah’alaihi wasallam kepada semua raja yang dikenal oleh bangsa Arab, menambah panas keadaan. Bahwa telah tersebar berita akan persiapan bala tentara Ramawi –sebagai negera terbesar dan terkuat tatkala itu- dengan kerajaan Ghossasinah sebagai negara boneka Romawi di wilayah Syam. Sebagai tindak lanjut dari peperangan di Mu’tah yang sangat terkenal itu, Romawi tidak puas dengan hasil yang mereka peroleh dalam peperangan tersebut, apalagi ia adalah peperangan pertama Arab melawan kerajaan Romawi.

Tidak biasanya Rasulullah shalallahu’alaihi wasallam mengabarkan kepada para sahabat tentang tujuan mereka pada peperangan ini. Keberangkatan kali ini sangat jelas yaitu Tabuk. Daerah yang sangat jauh bagi bangsa Arab.
Para munafiqin gelisah dengan perjalanan jauh di musim itu. Mereka selalu mengatakan , “Seharusnya keberangkatan tidak di musim panas ini.”

Maka Allah Azza wa Jalla menurunkan ayat,

فَرِحَ الْمُخَلَّفُونَ بِمَقْعَدِهِمْ خِلَافَ رَسُولِ اللَّهِ وَكَرِهُوا أَنْ يُجَاهِدُوا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَقَالُوا لَا تَنْفِرُوا فِي الْحَرِّ ۗ قُلْ نَارُ جَهَنَّمَ أَشَدُّ حَرًّا ۚ لَوْ كَانُوا يَفْقَهُونَ

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut perang) itu, merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah, dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah dan mereka berkata: “Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini”. Katakanlah: “Api neraka jahannam itu lebih sangat panas(nya)” jika mereka mengetahui.(QS. At-Taubah: 81)

Suatu kali Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam hendak menguji salah seorang diantara mereka beliau berakata kepada Jad bin Qois,
“Wahai Jad, bagaimana menurutmu kita berperang dngan Banil Ashfar (yaitu Romawi)?”
Lantas iapun menjawab,
“Wahai Rasulullah ijinkan aku (untuk tidak berangkat) dan jangan jatuhkan aku ke fitnah. Demi Allah, kaumku tahu bahwa tak seorang pun yang mudah terfitnah dengan wanita melebihiku dan aku takut jika melihat wanita Romawi aku tidak tahan.”
Beliaupun berpaling dan mengatakan,
“Engkau telah aku ijinkan untuk tidak ikut berperang.”
Maka turunlah firman Allah Ta’ala,

وَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ ائْذَنْ لِي وَلا تَفْتِنِّي أَلا فِي الْفِتْنَةِ سَقَطُوا وَإِنَّ جَهَنَّمَ لَمُحِيطَةٌ بِالْكَافِرِينَ

“Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berilah aku izin (tidak pergi berperang) dan janganlah engkau (Muhammad) menjadikan aku terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah, bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan Sungguh, Jahannam meliputi orang-orang yang kafir.”(QS. At-Taubah: 49)

Ketika kaum muslimin mendengar seruan jihad, mereka berbondong-bondng datang memenuhi kota Madinah dari seluruh pelosok penjuru negeri. Beliau mengajak para dermawan untuk menginfakkan harta mereka demi keberangkatan pasukan prihatin ini. Dalam sejarah dikenal dengan Jaisyul ‘Usroh.

Adalah Ulbah Bin Zaid Al-Haritsi radhiyallahu’anhu, salah seorang sahabat Rasululah shallallahu’alaihi wasallam yang tidak memiliki apa-apa di atas dunia ini. Ia seorang fakir dari suku Anshor dari kabilah Aus. Ia menyaksikan kesibukan yang dilakukan kaum muslimn dari seluruh pelosok negeri tinggal dan menetap ditempat kelahirannya, yaitu Madinah, untuk menunggu hari keberangkatan.

Semua transaksi di pasar-pasar Madinah banyak perihal jual beli perlengkapan perang, kuda, unta, baju besi, pedang, panah, dan sebagainya dengan kesedihan yang mendalam.

Semuanya telah membeli perlengkapan perangnya. Sedangkan dirinya, apa yang telah ia persiapkan? Dia sendiri tidak memiliki apa-apa. Kalau hendak membeli, dengan apa dibeli? Uang satu dirham pun tak punya.
Apalagi pagi itu beliau mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menyampaikan, “Barangsiapa yang mempersiapkan ‘Jaisyul Usroh’, untukny surga.” Semakin panas dingin badannya mendengar sabda Nabi shallalllahu’alaihi wasallam dengan melihat keadaan dirinya, kebetulan dalam peperangan ini beliau tidak menerima mujahid kecuali dengan perlengkapan perang dan kendaraan yang dimiliki.

Pada salah satu hari dalam masa persiapan, Ulbah melihat Nabi shallallahu’alaihi wasallam duduk dikelilingi para sahabatnya. Tiba-tiba Abu Bakar radhiyallahu’anhu datang sambil membawa harta yang beliau punyai –jumlahnya 4000 dirham- lalu beliau letakkan di hadapan Rasululah shallallahu’alaihi wasallam. Nabi shallallahualaihi wasallam berkata kepadanya, “Apa yang engkau untuk sisakan untuk keluarga?
Abu Bakar radhiyallahu’anhu menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan RasuluNya.” Untuk beliau sabda Rasul yang mulia, “Tidak ada harta yang bermanfaat bagiku sepeti harta Abu Bakar.”

Umar radhiyallahu’anhu datang dengan membawa setengah hartanya. Utsman radhiyallahu’anhu membawa 1000 dinar dalam pakaiannya, lalu beliau taburkan di pangkuan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau mengaduk-ngaduknya dan berkata,
“Tidak ada yang membahayakan Ustman apa yang ia perbuat setelah ini.” Beliau juga menyumbang 1000 unta, kemudian masih kurang 50 ekor maka beliau tambah 50 ekor lagi.

Abdurrahman radhiyallahu’anhu membawa 200 uqiyah perak, lalu datanglah Abbas bin Abdul Muthallib, Thalhah, Sa’ad bin Ubadah, Muhammad bin Maslaah radhiyallahu’anhum, semuanya membawa harta mereka.

Ulbah juga melihat sahabat yang bukan golongan berada beinfak dengan apa yang ia miliki; Ashim bin Adi radhiyallahu’anhu memawab 90 wasaq dari kebun kurmanya, sebagian membawa dua mud, bahkan satu mud (sebanyak dua telapak tangan orang dewasa).

Tidak ada seorang pun yang tidak memberi kecuali orang munafiqin, pada mereka turun ayat,

الَّذِينَ يَلْمِزُونَ الْمُطَّوِّعِينَ مِنَ الْمُؤْمِنِينَ فِي الصَّدَقَاتِ وَالَّذِينَ لا يَجِدُونَ إِلا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُونَ مِنْهُمْ سَخِرَ اللَّهُ مِنْهُمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“(Orang-orang munafik) yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang (mencela) orang-orang yang hanya memperoleh (untuk disedekahkan) sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah: 79)

Melihat hal itu, pulanglah Ulbah dengan membawa semua kesedihannya. Ketika senja sudah menutupi bumi, dan malam pun telah larut, Ulbah belum bisa memejamkan matanya sekejap pun. Yang dapat ia lakukan hanyalah berbolak-balik ke kiri dan ke kanan diatas tikar tidurnya. Tiba-tiba terlintas suatu pikiran, mudah-mudahan akan mengurangi kegundahan hatinya, beliau berdiri mengambil wudhu lalu beliau shalat, lalu beliaupun menangis menumpahkan semua kesedihannya kepada Dzat yang memiliki isi langit dan bumi. Lalu berdoa sambil mengangkat kedua tangannya,

“Y Allah, Engkau memerintahkan untuk berjihad, sedangkan Engkau tidak memberikan kepadaku sesuatu yang dapat aku bawa berjihad bersama RasuluMu dan Engkau tidak memberikan di tangan RasulMu sesuatu yang dapat membawaku berangkat, maka saksikanlah sesungguhnya aku bersedekah kepada setiap muslim dari semua perbuatan dzalim mereka terhadap diriku dari perkara harta, raga atau kehormatan.”

Doa itu beliau ulang-ulang seakan-akan beliau berkata,
“ YA Allah, tidak ada yang dapat aku infakkan sebagaimana yang lainya telah berinfak. Kalau sekiranya aku punya seperti mereka punya, aku kan lakukan untukMu, demi jihad di jalanMu maka yang aku punya hanya kehormatan, kalau engkau bisa menerimanya maka saksikanlah bahwa semua kehormatanku telah aku sedekahan malam ini untukMu!”

Subhanallah…alangkah jernihanya doa tersebut keluar dari orang yang tak punya; sebuah kedermawanan dari mereka yang disebut papa.

Paginya, beliau shalat subuh berjamaah bersama Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Telah beliau lupakan air mata yang telah tertumpahkan diatas tikar shalatnya. Akan tetapi Allah Azza wa Jalla tidak menyia-nyiakannya, Dia kabarkan cerita tersebut kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melalui Jibril ‘alaihissalam.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasllam bersabada,
Siapa yang tadi malam telah bersedekah? Hendaklah dia berdiri!
Tidak seorangpun yang berdiri. Ulbah pun tidak merasa dirinya telah bersedekah, lalu Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam mendekatinya dan berkata, “

Bergembiralah Ulbah. Demi jiwa Muhammad yang berada di tanganNya, sungguh sedekahmu malam dini hari tadi telah ditetapkan sebagai sedekah yang diterima.”

Alangkah bahagianya Ulbah, doa yang beliau panjatkan tadi malam sebenarnya adalah upaya dan usaha dari orang yang tidak memiliki apa-apa. Kiranya Allah mendengar rintihan dan jeritannya.
Setelah kejadian itu, berkumpullah orang-orang yang senasib dengan Ulbah bin Zaid. Jumlah mereka kabertujuh atau berdelapan: Salim bin Umair, Abu Laila Al-Mazini, Amr bin Anamah, Salamah bin Shokhor, Irbadh bin Sariyah, Abdullah bin Mughoffal, Ma’qil bin Yassar radhiyallahu’anhum ajma’in.

Maka mereka megutus Abu musa Al-Asy’ari (Abdullah bin Qois) radhiyallahu’ahu agar menemui Rasulullah mengadukan perihal mereka.

Mari kita dengarkan penuturan Abu Musa radhiyallahu’anhu ketika beliau menghadap Nabi:
“Kawan-kawanku mengutusku menemui Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam agar aku memohon kepada Nabi supaya beliau dapat membawa mereka dalam Jaisyul ‘Usroh. Aku berkata,
Wahai Nabiyullah para sahabatku mengutusku agar engkau membawa mereka.’
Beliau menjawab,
‘Demi Allah aku tidak akan membawa kalian!’
Kebetulan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam sedang marah, sedangkan aku tidak tahu. Ada perasaan jangan-jangan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam murka kepadaku, sehingga aku keluar dalam keadaan sedih dari pelarangan Rasulullah.
Lalu aku ceritakan jawaban Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada mereka. Tidak seberapa lama, tbaa-tiba aku mendengar Bilal memanggil, ‘Mana Abdullah bin Qois?’ Akupun datang.
Ia berkata, ‘Temuilah Rasulullah shallallahu’alaihi wasllam.‘ Beliau berkata,
‘Ambillah dua unta ini, dua unta ini dan dan dua unta ini.’
Keseluruhannya enam unta yang telah beliau beli dari Sa’ad. Beliau melanjutkan,
‘Bawalah unta-unta ini kepada teman-temanmu. Dan katakan bahwa Allah Azza wa jalla atau Rasulullah membawa kalian denga unta-unta ini.’
(Setibanya di hadapan mereka) aku berkata,
‘Sesungguhnya Rasululah shallallahu’alaihi wasallam telah membawa kalian dengan unta-unta tersebut. Demi Allah Azza waJalla, aku tidak membiarkan kalian mengambilnya sampai kalian pergi denganku menemui orang yang telah mendengar perkataan Rasulullah ketika tadi pertama aku meminta kepada belia lalu beliau menyerahkan unta-unta tersebut kepadaku. Sehingga kalian tidak menyangka aku bercerita kepada kalian dengan sesuatu yang tidak beliau ucap.’
Mereka berkata kepadaku,
‘Demi Allah,engkau disisi kami adalah orang yang jujur dan kami akan melakukan apa yang engkau sukai.’
Lalu Abu Musa berangkat dengan sebagian mereka menemui orang yang mendengar perkataan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam kepada Abu Musa, lalu beliau menceritakan sesuai denga apa yang disampaikan Abu Musa.”

Saya (Ustadz Armen) berkata, “Semoga Allah merahmati Ulbah bin Zaid.

Dengannya kita belajar bahwa tidak selamanya memberi harus dengan materi. Bukankah Nabi yang mulia shallallahu’alihi wasallam mengatakan dalam banyak riwayat tasbih adalah sedekah, tersenyum adalah sedekah, hingga suapan makanan ke mulut istri adalah sedekah bahkan berhubungan badan denga istri agar terjaga kehormatannya adalah sedekah.
Permasalahannya kini, apakah sedekah-sedekah yang seluas dan sebanyak itu diterima Allah? Sudahkah kita niatkan semua pekerjaan kita untuk Sedekah? Sudahkah kita mengusahakannya?

***
Sumber: Majalah Al-Furqon Edisi 5 Tahun Ketujuh/ Dzulhijjah 1428H.
Wanitasalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *