Untaian Tausiyah dari Sahabat Ali Bin Abi Thalib


Nasihat ALi Bin Abi Thaib

Bismillah.

Alhamdulillah, shalawat dan salam semoga selalu melimpah kepada Rasulullah, keluarganya dan para pengikutnya hingga akhir zaman.

Kawan, tulisan kali ini mengetengahkan sebuah catatan sejarah dari zaman tertentu yang mengandung nasehat yang sangat dalam. Mengalir sejuk dari lisan mulia sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu. Semoga apa yang tertuang ini menjadi penyejuk hati kita yang rindu dengan untaian-untaian nasehat berharga….

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma, ia berkata, “Umar telah berkata kepada Ali radhiyallahu ‘anhu, ’Nasehatilah aku, Abu Hasan!’ Ali berkata, ’Jangan jadikan keyakinanmu menjadi keraguan, ilmumu menjadi kebodohan, dan dugaanmu menjadi haq. Dan ketahuilah tidak ada jatah bagimu dari dunia ini kecuali apa yang telah diberikan kepadamu hingga punah, atau yang kamu kenakan hingga lapuk.’ Umar bin Khathathab radhiyallahu ‘anhu berkomentar, ’Anda benar wahai Abu Hasan!’ ” (Al-Kanz, jilid 8, hal. 221)

Baihaqi meriwayatkan dari sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu bahwa satu waktu beliau berkata kepada Umar bin Khaththab radhiyallahu ‘anhu, “Wahai Amirul Mukminin, Jika Anda merasa senang mengikuti jejak dua orang kawanmu terdahulu (Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dan Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu) maka janganlah berangan-angan panjang, makanlah tetapi jangan sampai kenyang, pendekkanlah kainmu, tamballah pakaianmu, jahit sendiri terompahmu, nicaya Anda bertemu dengan keduanya.” (Al-Kanz,  jilid 8, hal. 219)

Abu Nuaim mencatat dalam kitabnya Al-Hilyah  hal 75 dari Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu, ia berkata “Kebaikan itu bukanlah karena harta dan anakmu banyak. Tapi kebaikan itu bila ilmumu banyak, rongga kasih sayangmu luas, dan merasa bangga beribadah kepada Rabb-mu. Bila Anda telah melakukan kebajikan, Anda memuji Allah. Dan bila Anda melakukan kesalahan, Anda memohon ampun dari-Nya. Dunia ini tidak memberikan kebaikan apapun kecuali kepada dua jenis; seseorang berbuat dosa tapi langsung ditebusnya dengan bertaubat kepada Allah dan orang yang bersegera dalam urusan kebaikan. Amal yang dilandasi takwa tak akan menyusut, bagaimana ia akan menyusut sedangkan Allah menerimanya?!” (Al-Kanz, jilid 8, hal. 221)

Ibnu Asakir meriwayatkan dari Uqbah bin Abi Shahbah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, ”Tatkala Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu baru saja ditikam oleh Ibnu Muljam, masuklah menghadap kepada Hasan radhiyallahu ‘anhu dalam keadaan menangis. Ali radhiyallahu ‘anhu bertanya kepada anaknya, “Apa yang membuatmu menangis wahai anakku?” Hasan radhiyallahu ‘anhu menjawab, ”Betapa aku tidak menangis padahal ayah kini telah memasuki hari pertama dari kehidupan akhirat dan hari terakhir dari kehidupan dunia.” Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu berkata, ”Wahai anakku, camkanlah empat dari empat perkara yang dengannya kamu selamat.” Hasan radhiyallahu ‘anhu bertanya, ” Apakah itu wahai Ayahanda?” Khalifah Ali menjawab, “Sesungguhnya kekayaan terbesar adalah akal, sehina-hina kefakiran adalah kebodohan, seliar-liar kebuasan adalah sikap ujub, dan semulia-mulia kedermawanan adalah akhlak yang mulia.” Hasan radhiyallahu ‘anhu berkata, “Wahai Ayahanda, ini empat yang pertama, ajarkan pula kepadaku empat yang lainnya.” Khalifah Ali radhiyallahu ‘anhu menjawab, “Hati-hati berkawan dengan orang bodoh karena mungkin ia ingin mendatangkan manfaat bagimu tapi justru mara bahaya yang dilakukannya. Jauhilah berkawan dengan pembohong karena ia akan menggambarkan dekat apa yang sesungguhnya jauh dan menjauhkan apa yang sesungguhnya dekat. Dan jangan pula berteman dengan orang kikir karena ia akan menyingkirkan barang yang sangat kamu butuhkan. Dan jangan pula berkawan dengan orang fajir karena ia akan menjualmu dengan harga murah.” (Al-Kanz,  jilid 8, hal. 236)

***

Sumber: Taushiyah Ruhiyah Sahabat, Penerbit Pustaka Islami

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *