Wanita yang Terancam Diperkosa, Bolehkah Bunuh Diri?


wanita-salihah-b12

Fatwa Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Munajjid hafidzahullah

Pertanyaan:

Saya dan teman saya seorang muslimah, pernah suatu ketika menghadapi situasi yang membuat kami khawatir akan kehormatan dan kehidupan kami yang terancam. Selama hidupku, belum pernah kami rasakan ketakutan seperti ketakutan di hari itu. Aku terus membaca ayat kursi, alhamdulillah tidak terjadi apa-apa pada diri kami. Tatkala mendengar keadaan kami diatas, sebagian orang mengatakan diperbolehkan bunuh diri ketika kebutuhan sangat mendesak seperti seorang wanita yang hampir diperkosa lebih baik wanita tersebut membunuh dirinya sendiri daripada kehilangan kehormatan diri, kehormatan suaminya dan keluarganya. Apakah bunuh diri pada kasus seperti ini diperbolehkan? Saya berharap Anda memberitahuku pendapat ulama tentang hal ini?

Jawaban:

Alhamdulillah,

Pertama,
Kami memuji kepada Allah Al-Karim yang telah menyelamatkan kalian berdua dari kejadian yang menyedihkan tersebut. Allah telah menjaga kalian berdua, kehormatan dan kehidupan kalian berdua. Wajib bagi kalian berdua nuntuk bersyukur kepada Allah Ta’ala Rabb kalian, itiqomahlah berada diatas ketaatan. Sungguh Allah telah memuliakan kalian berdua dengan nikmat yang agung.

Kedua,
Bunuh diri yang berarti seseorang membunuh dirinya sendiri termasuk dosa besar. Tidak diperbolehkan bagi seorangpun melakukannya. Tak peduli, bagamanipun kejamnya fakor yang mendorong untuk bunuh diri, bagaimanapun sulitnya situasi yang dialami seseorang. Hadis yang menyebutkan larangan bunuh diri berlaku umum. Tidak diperbolehkan mengecualikan keadaan terntentu dan mengeluarkannya dari keumuman larangan tanpa nash (dalil) yang bersumber dari wahyu yang ma’shum (terjaga).

Dari Abu Hurairah radhiyallahu’anhu dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

مَنْ تَرَدَّى مِنْ جَبَلٍ فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَهُوَ فِي نَارِ جَهَنَّمَ يَتَرَدَّى فِيهِ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا ، وَمَنْ تَحَسَّى سُمًّا فَقَتَلَ نَفْسَهُ فَسُمُّهُ فِي يَدِهِ يَتَحَسَّاهُ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا ، وَمَنْ قَتَلَ نَفْسَهُ بِحَدِيدَةٍ فَحَدِيدَتُهُ فِي يَدِهِ يَجَأُ بِهَا فِي بَطْنِهِ فِي نَارِ جَهَنَّمَ خَالِدًا مُخَلَّدًا فِيهَا أَبَدًا

“Barangsiapa yang menjatuhkan diri dari gunung kemudian bunuh diri dengannya maka dia telah melemparkan diri ke dalam neraka Jahannam kekal dikekalkan didalamnya selama-lamannya. Barangsiapa yang menegak racun dan (dengan sebab tersebut) ia membunuh dirinya sendiri maka (kelak) racun tersebut berada ditangannya iapun meminumnya di neraka Jahannam, kekal dikekalkan didalamnya selama-lamanya. Barangsiapa bunuh diri dengan besi, maka kelak ia menikam perutnya sendiri dengan besi ditangannya di neraka Jahannam kekal dikekalkan didalamnya selama-lamanya.” (HR. Bukhari no. 5442 dan Muslim n. 109)

Ketiga,
Wanita yang terancam diperkosa, wajib baginya untuk mempertahankan diri dari perbuatan dosa tersebut. Walaupun harus melakukan perbuatan yang mengarah pada pembunuhan pada si fajir pelaku kejahatan.
Sebagaimana ia juga wajib tahu bahwa seandainya Allah Ta’ala menakdirkan benar-benar terjadi pemerkosaan atas dirinya maka ia bukanlah seorang pezina, tidak ditegakkan hukuman had atasnya tanpa khilaf diantara para ulama, sejauh yang kita tahu.

Ibnu Abdil Bar rahimahullah berkata,
“Tidak ada perbedaan ulama salaf dan kholaf, sepanjang yang saya tahu bahwa seorang wanita yang dipaksa untuk berzina, tidak dikenakan hukuman had jika benar-benar ia dipaksa dan diperkosa.”

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda,

تجاوز الله عن أمتي الخطأ والنسيان وما استكرهوا عليه

Allah memaafkan dari umatku, kesalahan (yang tidak disengaja), lupa dan orang yang dipaksa melakukanya). (Al-Istidrak, 7:511)

Keempat,
Adapun terkait tentang seorang wanita bunuh diri karena pemerkosaan maka ada dua bentuk:
1. Dia bunuh diri sebelum terjadinya pemerkosaan karena ia yakin akan diperkosa.
2. Dia bunuh diri setelah terjadinya pemerkosaaan karena takut akan menanggung rasa malu pada diri, atau suaminya, keluarganya atau seluruhnya.

Pada dua keadaan diatas, seorang wanita tidak diperbolehkan bunuh diri. Keadaan diatas bukanlah alasan yang syar’i untuk membunuh dirinya sendiri. Sebaliknya ia harus membela diri dengan kekuatan apapaun yang ia miliki pada kasus pertama (diatas). Ia wajib bersabar atas ketetapan Allah Ta’ala yang berlaku atasnya. Hendaknya ia mengharap pahala kepada Rabbnya atas mussibah yang ia alami. Adapun pada kasus kedua maka wanita tersebut tidaklah berdosa dan tidak bisa disalahkan atas apa yang telah terjadi padanya bahkan wanita tersebut posisinya sebagai orang yang terdzalimi. Namun jika ia bunuh diri maka ia telah berbuat dzalim terhadap dirinya sendiri, dia berdosa dengan dosa yang besar.

Fatawa Darul Ifta’ Al-Mishriyyah (7:277) menegaskan,
Tidak diperbolehkan bagi wanita melakukan bunuh diri agar selamat dari aib zina. Karena bunuh diri merupakan tindakan yang sangat keji. Allah tidak akan menerimanya dan tidak ridha terhadapnya. Pada kondisi wanita semacam ini, dosa yang ia tanggung tidak lebih kecil dari dosa yang ditanggung orang yang membunuh jiwa yang Allah haramkan tanpa haq. Allah Ta’ala berfirman,

وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا

“Dan janganlah kamu membunuh dirimu; sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa:29)

Sabda Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam yang diriwayatkan Sayyidina Abu Hurairah radhiyallahu’anhu,

من قتل نفسه بحديدة فحديدته فى يده ينوجأ بها فى بطنه فى نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً ومن قتل نفسه بسم فسمه فى يده يتحساه فى نار جهنم خالدا مخلدا فيها أبدا ومن تردى من جبل فقتل نفسه فهو مترد فى نار جهنم خالداً مخلداً فيها أبداً

Barangsiapa yang bunuh diri dengan besi maka kelak ia akan perutnya dengan besi ditangannya di neraka Jahannam kekal dikekalkan dodalamnya selama-lamanya. Dan barangsiapa yang bunuh diri dengan racun maka kelak ia akan meneguk racun di tangannya di neraka Jahannam kekal dikekalkan didalamnya selama-lamanya. Barangsiapa yang bunuh diri dengan menjatuhkan diri dari gunung maka ia telah melemparkan diri ke nereka Jahannam kekal dikekalkan di delamnya selama-lamanya.”

Dari Jabir radhiyallahu’anhu,

أن رجلا قتل نفسه بمشاقص – المِشقص : سهم فيه نصل عريض – فلم يصلِّ عليه النبي صلى الله عليه وسلم

“Ada seorang laki-laki bunuh diri dengan Al- Masyaqish yaitu anak panah yang memiliki mata tobak yang lebar. Maka Nabi shallallahu’alaihi wasallam tidak menshalatinya.” (Hr. Al-Jama’ah selain Bukhari). Selesai-

Demikian pula yang difatwakan Syaikh Al-Albani rahimahullah. Dimana beliau ditanya,
“Jika seorang wanita diserang oleh sekelompok orang jahat dan mereka ingin melakukan perbuatan keji terhadap wanita tersebut (memperkosanya), apakah diperbolehkan bagi wanita tersebut bunuh diri karena takut menimpa dirinya?
Jawaban: Tidak boleh.(Silsilah Huda Wan Nur, Kaset no. 451)
Wallahua’lam

***
Sumber: https://islamqa.info/ar/144586
Diterjemahkan oleh Tim Penetjemah Wanitasalihah.Com
Wanitasalihah.Com

If you enjoyed this post, please consider leaving a comment or subscribing to the RSS feed to have future articles delivered to your feed reader.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *