Bagaimana Aku Melarang Kemunkaran, Sedang Aku Masih Bermaksiat?


menasehati

Meninggalkan dosa bukanlah syarat untuk nahi munkar, bahkan sesama pelaku maksiatpun harus saling bernahi munkar sesama mereka. Sebagaimana sesama orang beriman tetap dianjurkan untuk beramar ma`ruf meski ia sendiri belum mempraktekkannya. Jadi, mencegah kemunkaran tetap harus ditegakkan meski ia sendiri masih melakukannya, akan tetapi dengan demikian ia masih menyisakan cacat dalam dirinya akibat dari ucapan yang bertolak belakang dengan perbuatannya itu.

Abu Darda radhiyallahu `anhu berkata: ”Boleh jadi aku mengajak kalian pada suatu kebaikan sedang aku sendiri belum melakukannya, namun aku berharap Allah mencatatnya sebagai suatu kebaikan bagiku.” (Siyar A`laamin Nubala` II/335)

amar makruf nahi mungkar

Kalau ada orang yang sedang mendengarkan musik melihat orang lain ikut mendengarkannya, maka ia harus tetap melarang orang itu dari perbuatan haram ini, meskipun ia sendiri masih terlibat dengannya. Karena dengan mendiamkan kemunkaran itu justru terkumpul padanya dua kemunkaran:

Pertama: Perbuatannya yang mendengarkan musik
Kedua: Membiarkan orang lain ikut dalam kemunkaran tersebut tanpa dicegah.

Jadi, orang yang melihat kemunkaran namun tidak melarangnya berarti telah menolong orang tersebut semakin larut dalam dosanya. Karena mendiamkan suatu dosa berarti memberi kesan baik baginya dimata manusia, sedang menjauhi kemunkaran merupakan konsekuensi dari sikap mengingkari dengan hati.

**

Dikutip dari “Langkah Pasti Menuju Bahagia” Dr. Abdul Muhsin bin Muhammad Al Qasim. Penerbit Daar An-Naba`, Surakarta

catatan redaksi:

Meskipun masih tergelincir melakukan kemaksiatan, hendaknya selalu merasa bersalah dan menyesal atas kekurangannya ini. Serta senantiasa memperbaharui taubat dan berusaha berubah menjadi lebih baik. Simak penjelasan dalam artikel:  Haruskah Menjadi Sempurna Untuk Bisa Menasehati?

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *