Empat Jenis Rasa Cinta


cinta

Bismillah was shalatu was salamu ‘ala Rasulillah, amma ba’du,

Mencintai dan dicintai bagian yang tak terpisahkan dalam hidup. Tapi tunggu dulu, tidak semua cinta boleh disemaikan. Agar tidak terjebak dalam cinta yang dilarang, mari kita simak penjelasan macam-macam cinta berikut,

Cinta, bisa kita golongkan menjadi empat:

1. Cinta yang termasuk ibadah.

Itulah mencintai Allah dan mencintai semua yang dicintai oleh Allah.. Allah memuji kondisi para sahabat,

وَلَكِنَّ اللَّهَ حَبَّبَ إِلَيْكُمُ الْإِيمَانَ وَزَيَّنَهُ فِي قُلُوبِكُمْ

“Tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu.” (QS. Al-Hujurat: 7)

Allah juga memuji keadaan orang mukmin,

وَالَّذِينَ آمَنُواْ أَشَدُّ حُبّاً لِّلّهِ

“Adapun orang-orang yang beriman amat sangat cintanya kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

Kemudian disebutkan dalam hadis dari Anas radhiyallahu ‘anhu, bahwa Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

ثلاث من كن فيه وجد بهن حلاوة الإيمان أن يكون الله ورسوله أحب إليه مما سواهما وأن يحب المرء لا يحبه إلا لله وأن يكره أن يعود في الكفر كما يكره أن يقذف في النار

“Ada tiga hal yang bila ada dalam diri seseorang berarti ia akan merasakan manisnya iman: (a) Allah dan rasul-Nya lebia ia cintai dibandingkan selain keduanya; (b) ia mencintai seseorang senantiasa hanya karena Allah; (c) ia benci bila kembali dalam kekafiran setelah Allah menyelamatkannya sebagaimana ia benci bila dilempar ke dalam neraka.” (HR. Bukhari 16 dan Muslim 43)

2. Cinta yang termasuk kesyirikan.

Itulah bentuk mencintai sesuatu selain Allah sebagaimana layaknya cinta kepada Allah, atau lebih tinggi dari itu. Allah ta’ala berfirman,

وَمِنَ النَّاسِ مَن يَتَّخِذُ مِن دُونِ اللّهِ أَندَاداً يُحِبُّونَهُمْ كَحُبِّ اللّهِ

“Dan diantara manusia ada orang-orang yang menyembah tandingan-tandingan selain Allah; mereka mencintainya sebagaimana mereka mencintai Allah.” (QS. Al-Baqarah: 165)

3. Cinta yang termasuk maksiat.

Yaitu mencintai perkara yang haram, bid’ah, dan maksiat. Contoh: mencintai pelaku bid’ah, pengikut hawa nafsu, pelaku maksiat, serta jenis kecintaan terhadap segala hal yang sebenarnya bertentangan dengan syariat.

Allah mencela orang yang terlalu mencintai harta,

وَتُحِبُّونَ الْمَالَ حُبّاً جَمّاً

”dan kamu mencintai harta benda dengan kecintaan yang berlebihan.” (QS. Al-Fajr: 20)

Allah juga berfirman,

لاَ تَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَفْرَحُونَ بِمَا أَتَواْ وَّيُحِبُّونَ أَن يُحْمَدُواْ بِمَا لَمْ يَفْعَلُواْ فَلاَ تَحْسَبَنَّهُمْ بِمَفَازَةٍ مِّنَ الْعَذَابِ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ

“Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.” (QS. Ali Imran: 188)

4. Cinta Bagian dari Tabiat

Misalnya mencintai anak dan keluarga, mencintai diri sendiri, mencintai harta, dan berbagai bentuk cinta yang memang sudah menjadi tabiat dasar manusia.

Ketika seseorang tak lagi taat kepada Allah Ta’ala – dia tak menunaikan kewajiban-kewajibannya dalam Islam – karena dihalangi kecintaan jenis ini, berarti cinta yang manusiawi ini telah berubah menjadi cinta yang maksiat.

Terlebih ketika segenap hati, mencurahkan cinta yang manusiawi ini sehingga sebanding dengan kecintaannya kepada Allah – atau bahkan lebih kuat daripada cintanya kepda Allah – sehingga dia telah terjerembab dalam cinta yang syirik.

زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاء وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللّهُ عِندَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (*) قُلْ أَؤُنَبِّئُكُم بِخَيْرٍ مِّن ذَلِكُمْ لِلَّذِينَ اتَّقَوْا عِندَ رَبِّهِمْ جَنَّاتٌ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الأَنْهَارُ خَالِدِينَ فِيهَا وَأَزْوَاجٌ مُّطَهَّرَةٌ وَرِضْوَانٌ مِّنَ اللّهِ وَاللّهُ بَصِيرٌ بِالْعِبَادِ

“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia, dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga). Katakanlah: “Inginkah aku kabarkan kepadamu apa yang lebih baik dari yang demikian itu?”. Untuk orang-orang yang bertakwa (kepada Allah), pada sisi Tuhan mereka ada surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai; mereka kekal didalamnya. Dan (mereka dikaruniai) isteri-isteri yang disucikan serta keridhaan Allah. Dan Allah Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Ali Imran: 14-15)

Allah juga berfirman menceritakan peristiwa Yusuf bersama saudaranya,

إِذْ قَالُواْ لَيُوسُفُ وَأَخُوهُ أَحَبُّ إِلَى أَبِينَا مِنَّا

“(Yaitu) ketika mereka berkata: “Sesungguhnya Yusuf dan saudara kandungnya (Bunyamin) lebih dicintai oleh ayah kita dari pada kita sendiri.” (QS. Yusuf: 8)

Sumber: Qaulul Mufid fi Adillatit Tauhid, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab Al-Wushabi, 1427 H (2006 M), Dar Ibnu Hazm.

***

Penyusun: Tim WanitaSalihah.Com
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *