Ketakutan Penduduk Makkah terhadap Islam dan Penolakan Mereka terhadap Dakwah Nabi Muhammad ﷺ Pendahuluan Kekuasaan merupakan alat utama untuk mengendalikan orang lain. Sejarah manusia selama berabad-abad menunjukkan bahwa keserakahan mendorong manusia bertindak tidak manusiawi dan kehilangan akal sehatnya. Penduduk Makkah menunjukkan reaksi yang serupa dengan manusia-manusia yang haus kekuasaan tersebut terhadap dakwah Nabi Muhammad ﷺ. Selama bertahun-tahun, mereka berupaya menghalangi dakwah beliau dengan berbagai cara, mulai dari pendekatan yang halus hingga tindakan yang kejam. Tentu saja, terdapat alasan-alasan di balik tindakan mereka tersebut. Sebelum Masa Kenabian Terdapat semacam kesepakatan tidak tertulis di kalangan penduduk Makkah mengenai akhlak mulia Muhammad bin Abdullah. Beliau tidak pernah meminum minuman keras, berzina, berdusta, maupun berlaku kejam terhadap orang lain. Sebaliknya, beliau dikenal sebagai sosok yang gemar menolong, menjaga hubungan kekerabatan, memberi makan orang yang lapar, dan bersedekah kepada kaum miskin. Bermula dari akhlak mulia tersebut, masyarakat Makkah memberinya gelar Al-Amin (orang yang terpercaya). Ketika wahyu pertama turun dan Nabi merasa ketakutan setelah didatangi Jibril, Khadijah menenangkan beliau seraya berkata, “Bergembiralah! Demi Allah, Allah tidak akan pernah menghinakanmu. Engkau senantiasa menyambung tali silaturahmi, selalu berkata benar, menolong orang miskin dan papa, memuliakan tamu, serta membantu mereka yang tertimpa musibah.” Selain akhlaknya yang luhur, Muhammad bin Abdullah juga berasal dari garis keturunan yang terhormat. Nasab beliau termasuk keluarga yang paling dihormati di tengah masyarakat Makkah. Kombinasi antara kepribadian beliau dan latar belakang keluarganya melindungi beliau dari berbagai gangguan pada masa mudanya. Muhammad muda menjalani kehidupannya sesuai dengan nilai-nilai yang diyakininya tanpa banyak dipertanyakan atau dicela oleh masyarakat sekitarnya. Pada Masa Kenabian Kehidupan damai Muhammad mulai terusik sejak wahyu pertama diturunkan kepadanya. Beliau mengajak kaumnya untuk memeluk Islam, dimulai dari orang-orang terdekat, kemudian meluas ke lingkup yang lebih besar. Ketakutan Kehilangan Kekuasaan Para pemimpin utama yang menentang dakwah Islam berasal dari kalangan bangsawan Quraisy. Dalam Al-Qur’an maupun hadis, nama-nama mereka sering disebut sebagai tokoh di balik perlawanan terhadap Nabi ﷺ dan para sahabatnya, seperti Abu Lahab, Abu Jahal, dan Uqbah bin Abi Mu’aith. Secara umum, penduduk Makkah—terutama kalangan bangsawan—takut kehilangan kekuasaan dalam tiga aspek utama. Kehilangan kekuasaan atas praktik keagamaan Selama bertahun-tahun, penduduk Makkah telah mengubah ajaran agama sesuai kehendak mereka. Mereka merasa bangga sebagai keturunan Nabi Ismail dan penjaga Ka’bah. Sebagai penguasa tempat paling mulia di Makkah, mereka menggunakan otoritasnya untuk mempertahankan ajaran-ajaran jahiliyah. Salah satu contohnya adalah mempertahankan keberadaan 360 berhala di sekitar Ka’bah. Banyaknya berhala tersebut menjadikan kawasan itu sebagai destinasi religius terkenal yang menarik banyak pengunjung dari berbagai daerah. Islam datang untuk mengembalikan ajaran hanifiyah, yaitu tauhidullah—mengesakan Allah tanpa mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Ajaran ini bertentangan langsung dengan praktik jahiliyah. Akibatnya, Nabi ﷺ dan para sahabat menyeru penduduk Makkah untuk menghancurkan berhala-berhala tersebut dan memurnikan ibadah mereka. Dikarenakan telah lama menikmati kekuasaan, mereka terus menolak seruan Nabi, sebab menerima Islam berarti melepaskan kendali mereka atas praktik keagamaan di Makkah. Kehilangan kekuasaan politik Dampak persoalan agama merembet ke ranah politik. Sebagai pusat ibadah, Makkah menarik berbagai kabilah untuk menjalin hubungan politik dengan penduduknya, khususnya para bangsawan Quraisy. Apabila suatu kabilah berpihak kepada musuh-musuh Quraisy, mereka dapat dilarang memasuki Makkah untuk beribadah di Ka’bah. Oleh karena itu, banyak kabilah berusaha menjaga hubungan baik dengan penduduk Makkah. Penghapusan praktik penyembahan berhala di Ka’bah secara tidak langsung akan melemahkan kekuasaan politik penduduk Makkah, baik di tingkat lokal maupun antarwilayah. Kehilangan kekuasaan ekonomi Sebagaimana burung berkumpul di sekitar sumber air, demikian pula harta beredar di pusat aktivitas manusia. Ketika orang-orang datang, maka perputaran uang terjadi di wilayah tersebut. Berbeda dengan Madinah atau daerah-daerah lain, Makkah tidak cocok untuk pertanian. Oleh sebab itu, penggerak utama ekonomi kota tersebut adalah perdagangan. Hal ini membuat penduduk Makkah khawatir kehilangan sumber penghasilan mereka akibat dakwah Nabi ﷺ. Bentuk-Bentuk Perlawanan Naluri manusia untuk memberontak muncul ketika merasa tertekan. Demikian pula penduduk Makkah. Mereka menolak dakwah Islam karena beberapa alasan berikut. Tidak ingin dicap sebagai pengkhianat suku karena meninggalkan agama leluhur Ini merupakan senjata utama yang digunakan para tokoh kafir yang keras kepala, seperti Abu Jahal dan Abu Lahab, untuk mempertahankan masyarakat Makkah dalam kesesatan ajaran nenek moyang mereka. Menjelang wafatnya Abu Thalib, Abu Jahal dan Abdullah bin Abi Umayyah terus mendesaknya dengan berkata, “Apakah engkau akan meninggalkan agama Abdul Muththalib?” Mereka ingin memastikan bahwa Abu Thalib tetap berpegang pada tradisi leluhur meskipun Nabi ﷺ berada di sisinya untuk membimbingnya menuju Islam. Tidak ingin dianggap lemah Keberanian (asy-syaja’ah) merupakan nilai yang sangat dihormati di kalangan Arab, termasuk masyarakat Makkah. Bagi mereka, menerima Islam dipandang sebagai tanda kelemahan, terutama bagi kaum bangsawan. Setelah wafatnya orang-orang terdekat beliau—kakek, paman, dan istri beliau—Nabi ﷺ tampak tidak memiliki pelindung kuat. Selain itu, pada awal dakwah, mayoritas pengikut beliau berasal dari kalangan lemah di Makkah. Kalaupun ada bangsawan yang masuk Islam, mereka belum cukup kuat untuk menghadapi kaum kafir Quraisy. Bahkan, ketika Islam berkembang pesat di masa berikutnya, kaum musyrik Makkah tetap keras kepala mempertahankan sikap mereka. Tidak ingin dikendalikan oleh seseorang yang dianggap bukan lagi bagian dari mereka Nilai-nilai yang dibawa Nabi ﷺ bertentangan dengan tradisi yang diwariskan di tengah masyarakat Makkah. Jika masyarakat Makkah bergantung pada penyembahan berhala secara agama, politik, dan ekonomi, maka Nabi justru menyeru mereka untuk meninggalkannya. Di samping itu, ketika masyarakat Makkah terbiasa dengan zina, minum khamar, membunuh bayi perempuan, menindas kaum lemah, dan melakukan riba, Nabi ﷺ menyeru mereka untuk meninggalkan semua itu. Beliau melakukan semua ini dengan menolak nilai-nilai jahiliyah kaumnya. Berawal dari dakwah itulah, Nabi ﷺ semakin tampak berbeda dari mayoritas masyarakatnya, sehingga masyarakat Makkah jahiliyah menganggap beliau bukan lagi bagian dari mereka. Bisa dilihat dari pandangan mereka bahwa menaati Nabi dan ajarannya dinilai sebagai bentuk penyerahan diri kepada kendali beliau. Secara umum, hal ini tidak dapat mereka terima. Kesimpulan Penduduk Makkah merasa takut terhadap dampak dakwah Islam terhadap kehidupan mereka, terutama dalam aspek agama, politik, dan ekonomi. Untuk menghadapi ketakutan tersebut, mereka menolak ajaran Nabi Muhammad ﷺ. Meskipun terdapat berbagai alasan di balik penolakan itu, semuanya berakar pada hawa nafsu dan kebodohan mereka. Referensi Al-Bukhari, A. A. (1414 H). Shahih Al-Bukhari. Damaskus: Dar Ibn Kathir. Ishaq, I. (1398 H). As-Sirah wal Maghazi. Beirut: Dar Al-Fikr. Qadir, A. I., ‘Ubaidi, A. ‘., & Maqrizi, T. A. (1420 H). Imta’ul Asma’. Beirut: Dar Al-Kutub Al-‘Alamiyyah. Thaha, A. A. (1433 H). Al-Aghshan An-Nadiyyah Syarh Al-Khulasah Al-Bahiyyah. Cairo: Dar Ibn Hazm. July 16, 2026 by WanitaSalihah 0 comments 17 viewson Kisah dan Tokoh Share this post Facebook Twitter Google plus Pinterest Linkedin Mail this article Print this article Tags: Penolakan Penduduk Mekah terhadap Dakwah Nabi, Sirah Nabawi Previous: Menjauhi Maksiat di Bulan Haram