Memahami Tiga Prinsip terkait Nama-Nama dan Sifat-Sifat Allah Pendahuluan Seseorang dapat mengenali sesuatu melalui tiga cara: melihat langsung sesuatu tersebut, melihat sesuatu yang serupa dengannya, atau memperoleh informasi tentangnya dari orang yang tepercaya. Mengenali Allah melalui cara pertama adalah mustahil, karena Allah Yang Maha Esa tidak dapat dilihat dalam kehidupan dunia ini. Demikian pula, cara kedua juga mustahil, karena tidak ada seorang pun dan tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya. Oleh karena itu, satu-satunya jalan untuk mengenal-Nya adalah melalui cara ketiga, yaitu memperoleh informasi dari Nabi Muhammad ﷺ yang kemudian diwariskan dari para sahabat kepada tabi’in dan generasi-generasi setelahnya. Untuk memudahkan umat memahami hal ini, para ulama Islam menyusun pengetahuan tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah ke dalam sejumlah kaidah dasar. Secara khusus, Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin menjelaskan tiga prinsip utama dalam kitabnya Al-Qawa’id Al-Mutsla. Prinsip-Prinsip Terkait Nama-Nama Allah Seluruh nama Allah adalah nama-nama yang paling sempurna Seluruh nama Allah adalah husna (حسنى), yang berarti berada pada puncak kesempurnaan. Allah berfirman, وَلِلَّهِ ٱلْأَسْمَآءُ ٱلْحُسْنَىٰ “Dan Allah memiliki nama-nama yang paling indah.” (QS. Al-A’raf: 180) Nama-nama-Nya mencakup kesempurnaan tertinggi tanpa tandingan maupun sekutu. Karena itu, meskipun makhluk memiliki nama yang sama dengan sebagian nama Allah, hakikat nama tersebut berbeda dari nama-nama-Nya. Sebagai contoh, Allah memiliki nama Al-‘Alim (العليم), Yang Maha Mengetahui, dengan pengetahuan yang sempurna. Adapun makhluk juga memiliki pengetahuan, namun sangat terbatas. Nama-nama Allah terdiri atas nama sekaligus sifat Nama-nama Allah mengandung petunjuk tentang zat-Nya, sedangkan sifat-sifat-Nya mengandung petunjuk tentang makna. Sebagai contoh, nama Ar-Rahman (الرحمن) menunjukkan nama Allah itu sendiri sekaligus menunjukkan sifat rahmat-Nya. Oleh karena itu, nama ini dapat digunakan dalam doa, seperti: “Wahai Ar-Rahman, limpahkanlah rahmat-Mu kepadaku.” Nama Allah mencakup tiga makna jika bersifat transitif, dan dua makna jika bersifat intransitif Nama-nama Allah terbagi menjadi dua: transitif dan intransitif. Nama transitif mencakup tiga hal: Penetapan nama Allah. Penetapan sifat yang terkandung di dalamnya. Penetapan konsekuensi dari sifat tersebut. Adapun nama intransitif hanya mencakup dua hal: Penetapan nama Allah. Penetapan sifat yang terkandung di dalamnya. Contohnya, nama Al-Ghafur (الغفور) mencakup: Penetapan nama Al-Ghafur. Penetapan sifat ampunan (maghfirah). Penetapan bahwa Allah mengampuni hamba-hamba-Nya. Adapun nama Al-‘Aliy (العلي) mencakup penetapan nama Allah sebagai Yang Maha Tinggi dan penetapan sifat ketinggian-Nya (al-‘uluw). Penunjukan nama dan sifat Allah memiliki tiga bentuk Tiga bentuk tersebut adalah: Dalalah al-muthabaqah (petunjuk keseluruhan) Dalalah at-tadhammun (petunjuk sebagian) Dalalah al-iltizam (petunjuk implikatif) Sebagai contoh, nama Allah Ar-Razzaq (الرزاق) mencakup: Dalalah al-muthabaqah. Menunjukkan zat Allah sebagai Ar-Razzaq beserta sifat memberi rezeki. Dalalah at-tadhammun. Menunjukkan salah satu unsur dari makna tersebut. Dalalah al-iltizam. Menunjukkan sifat-sifat lain yang terkait, seperti ilmu dan pendengaran Allah. Secara khusus, dengan memahami dalalah tersebut, seseorang dapat memperoleh pengetahuan yang lebih luas tentang nama-nama dan sifat-sifat Allah melalui telaah terhadap dalil. Nama-nama Allah bersifat tauqifiyah (berdasarkan wahyu) Dasar prinsip ini adalah firman Allah dalam QS. Al-A’raf: 33, قُلْ اِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْاِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَاَنْ تُشْرِكُوْا بِاللّٰهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهٖ سُلْطٰنًا وَّاَنْ تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ “Katakanlah, ‘Sesungguhnya Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan keji, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, dosa, kezaliman tanpa alasan yang benar, mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu, dan mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.’” Karena itu, nama-nama Allah hanya boleh ditetapkan berdasarkan wahyu. Nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu Dalam sebuah doa yang diajarkan Nabi ﷺ kepada para sahabat disebutkan bahwa terdapat nama-nama Allah yang: Allah tetapkan bagi diri-Nya sendiri. Allah ajarkan kepada sebagian makhluk-Nya. Allah turunkan dalam Al-Qur’an. Allah simpan dalam ilmu gaib di sisi-Nya. Ini menunjukkan bahwa nama-nama Allah tidak terbatas pada jumlah tertentu. Penyimpangan (ilhad) terhadap nama-nama Allah Ilhad terhadap nama-nama Allah berarti menyimpangkannya dari makna yang benar. Penyimpangan ini terbagi menjadi dua bentuk: Menolak nama-nama Allah. Menyerupakan nama-nama Allah dengan nama makhluk. Kedua bentuk ini diharamkan. Prinsip-Prinsip terkait Sifat-Sifat Allah Seluruh sifat Allah sempurna tanpa kekurangan Terdapat empat bentuk penyimpangan besar dalam pembahasan nama dan sifat Allah: At-tahrif (menyelewengkan makna). At-ta’thil (menolak). At-takyif (menanyakan bagaimana). At-tamtsil (menyerupakan). Ibnu Taimiyah berkata: “Termasuk iman kepada Allah adalah beriman terhadap apa yang Allah sifatkan bagi diri-Nya dalam Al-Qur’an dan apa yang Rasul-Nya sifatkan bagi-Nya, tanpa penyelewengan, penolakan, penentuan bentuk, maupun penyerupaan.” Pembahasan sifat Allah lebih luas daripada pembahasan nama-Nya Setiap nama Allah mengandung sifat. Namun tidak semua sifat Allah ditetapkan sebagai nama. Oleh karena itu, pembahasan sifat lebih luas daripada pembahasan nama. Sifat Allah terbagi menjadi dua kategori a. Sifat tsubutiyah (positif) Yaitu sifat yang ditetapkan bagi Allah. Contohnya: ilmu, rahmat, kekuasaan. b. Sifat salbiyah (negatif) Yaitu sifat yang dinafikan dari Allah karena mengandung kekurangan. Contohnya, Allah menafikan sifat mengantuk dan tidur dalam Ayat Kursi. Sifat tsubutiyah terbagi menjadi dua a. Sifat dzatiyah Sifat yang melekat pada zat Allah. Contoh: wajah Allah (الوجه) b. Sifat fi’liyah Sifat yang terkait dengan kehendak Allah. Contoh: turunnya Allah ke langit dunia pada waktu tertentu. Sifat-sifat Allah juga bersifat tauqifiyah Sebagaimana nama-nama Allah, sifat-sifat-Nya hanya dapat diketahui melalui wahyu. Tidak ada ruang bagi akal manusia untuk menetapkannya secara mandiri tanpa petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah. Prinsip-Prinsip terkait Dalil Nama dan Sifat Allah Dalil untuk memahami nama dan sifat Allah adalah Al-Qur’an dan As-Sunnah. Keduanya harus dipahami sesuai makna zahirnya tanpa melakukan penyelewengan (tahrif). Kendati demikian, kemampuan berpikir manusia berbeda-beda, sehingga sebagian orang mungkin memahami suatu nash dengan baik sementara sebagian lainnya tidak. Secara umum, teks-teks syariat dipahami berdasarkan makna literalnya, kecuali jika Nabi ﷺ menjelaskan adanya makna majazi (figuratif). Sebagai contoh, lafaz “di bawah pengawasan-Ku” dalam QS. Thaha: 39 dipahami sebagai bentuk makna majazi. Kesimpulan Beriman kepada nama-nama dan sifat-sifat Allah merupakan bentuk ibadah yang sangat agung dan dipuji oleh Allah. Oleh karena itu, untuk memahaminya, seorang Muslim wajib berpegang teguh pada petunjuk Al-Qur’an dan As-Sunnah, serta merujuk kepada penjelasan para ulama yang berilmu dan tepercaya. ** Oleh: Athirah Mustadjab Referensi Fath Rabbil Bariyyah. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Al Qasim: Muassasah Asy-Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Al-Khairiyyah. Al-Qawaid Al-Mutsla. Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin. Al Qasim: Muassasah Asy-Syeikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin Al-Khairiyyah. Al-Musnad. Ahmad bin Hanbal. Beirut: Muassasah Ar-Risalah. Al-Aqidah Al-Wasitiyyah. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah. Riyadh: Maktabah Al-Ma’arif. May 30, 2026 by WanitaSalihah 0 comments 6 viewson Aqidah Share this post Facebook Twitter Google plus Pinterest Linkedin Mail this article Print this article Tags: Prinsip Nama dan Sifat Allah Previous: Masa Haid dan Ciri- Cirinya