Pesan Nabi: Menikahlah dengan Wanita yang Penyayang


Wanita Penyayang

Seorang istri yang penyayang yaitu perempuan yang mengasihi dan mencintai suaminya, serta mengerahkan segenap kemampuan untuk membuatnya ridha.

Seorang istri yang penyayang selalu berusaha memperhatikan suaminya, meliputinya dengan kasih sayang, cinta dan perhatian, bersungguh-sungguh untuk patuh dan mendapat ridhanya, demi terwujudnya tujuan utama pernikahan yaitu ketentraman.

Allah ta’ala berfirman,

فَجَعَلْنَاهُنَّ أَبْكَارًا (٣٦)عُرُبًا أَتْرَابًا (٣٧)

“Lalu Kami jadikan mereka perawan-perawan yang penuh cinta dan sebaya umurnya.” (Qs. Al Waqi’ah: 36-37)

(Al ‘Arub adalah istri yang mencintai suaminya)

Banyak hadits yang menegaskan keharusan memperhatikan adanya sifat ini pada diri seorang perempuan, diantaranya adalah:

Pertama, Abu Dawud meriwayatkan, bahwasanya Ma’qil bin Yasar berkata, Bahwasanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

تَزَوَّجُوا الوَدُوْدَ الوَلُوْدَ, فَإِنِّي مُكَاثِرُ بِكُمُ الأُمَمَ

“Menikahlah dengan perempuan yang penyayang dan subur, sebab aku membanggakan banyaknya jumlah kalian kepada seluruh umat.”

Kedua, Bukhari dan Muslim meriwayatkan hadits dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

نساء قريش خير نساء ركبن الإبل : أحناه على طفل في صغره ، وأرعاه على زوج في ذات يده

“Kaum perempuan Quraisy adalah sebaik-baik kaum perempuan yang mengendarai unta. Mereka paling menyayangi anak-anak selagi masih kecil, dan paling menjaga harta benda suami.”

Nabi shallallahu ’alaihi wa sallam menyifati mereka sebagai perempuan yang penuh kasih sayang, mencintai dan bersikap lembut kepada anak-anak mereka, kemudian mereka memperhatikan kondisi suami, mengasihinya dan ikut mengurangi bebannya. Masing-masing perempuan dari mereka, menjaga harta suami, memeliharanya dengan amanah dan menjauhkan diri dari tindakan menghambur-hamburkannya. Jika suami sedang mengalami kesusahan, ia menjadi penolong dan sandaran baginya, bukan menjadi musuh dan pengacau.

Ketiga, Seorang perempuan yang penuh dengan kasih sayang bersikap patuh kepada suaminya, tidak menyelisihi suami terkait diri dan hartanya, dengan melakukan tindakan-tindakan yang tidak disukai suami.

Iman an-Nasai dan Hakim meriwayatkan hadits yang dinyatakan hasan oleh al-Albani, dari Abu Hurairah radhiyallah ’anhu, ia bertanya, ”Siapakah perempuan yang paling baik?” Nabi Muhammad shallallahu ’alaihi wa sallam menjawab,

الَّتِي تَسُرُّهُ إِذَا نَظَرَ وَتُطِيعُهُ إِذَا أَمَرَ وَلَا تُخَالِفُهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهَا بِمَا يَكْرَهُ

”Istri yang menyenangkah hati suami bila dipandang, yang menaati jika diperintah, dan tidak menyelisihi suami terkait dirinya sendiri dan hartanya dengan melakukan tindakan yang tidak disukai suami.”

Keempat, Baihaqi meriwayatkan dari Abu Uzainah as-Shadafi bahwasanya nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

خَيْرُ نِسَاءِكُمُ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ، الْمُوَاتِيَةُ الْمُوَاسِيَةُ، إِذَا اتَّقَيْنَ اللهَ

”Sebaik-baik istri kalian adalah perempuan yang penyayang, banyak melahirkan anak, sejalan lagi pandai menghibur (suaminya), apabila ia bertakwa kepada Allah.”

Kelima, Nasa’i meriwayatkan hadits dari Ibnu Abbas dan disebutkan oleh Albani dalam kitab Silsilah ash Shahihah, bahwasanya nabi shallallahu ’alaihi wa sallam bersabda,

نِسَاءِكُمْ مِنْ أَهْلِ الْجَنَّةِ الْوَدُوْدُ الْوَلُوْدُ الْعَؤُوْدُ عَلَى زَوْجِهَا، الَّتِي إِذَا غَضِبَ جَاءَتْ حَتَّى تَضَعَ يَدَهَا فِي يَدِ زَوْجِهَا وَتَقُوْلُ: لاَ أَذُوْقُ غَمْضًا حَتَّى تَرْضَى

”Istri kalian yang termasuk penghuni surga adalah perempuan yang penyayang, banyak melahirkan anak, memberi manfaat kepada suami, yang apabila suami marah maka ia datang kemudian meletakkan tangannya pada tangan suami dan berkata, ”Aku tidak merasakan tidur nyenyak hingga kamu ridha.”

Perempuan yang penyayang adalah perempuan yang dikenal memiliki karakter mencintai dan mengasihi suaminya, serta mengerahkan segenap kemampuannya demi meraih ridha suami. Sehingga, ia dikenal sebagai perempuan dengan emosi yang stabil, pembawaan yang tenang, terjauh dari penyimpangan psikologis, mengasihi anak-anak, dan memelihara hak suami.

Adapun jika seorang perempuan tidak memiliki sifat demikian, ia akan banyak membangkang dan memposisikan diri di atas suami, serta sulit untuk dikendalikan lantaran kebinalan perangainya. Sehingga, hal ini merusak kehidupan pernikahan, bahkan menghancurkannya, setelah tidak mungkin lagi terwujud ketenangan jiwa bagi suami disebabkan tingkah laku istri.

***

Tipe Suami Istri Penenteram Hati, karya Syaikh Nada Abu Ahmad, Penerbit Kiswah. (Judul Asli, Man Takhtarin? Man Takhtar?)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.