Yang Disyari’atkan Ketika Turun Hujan


adab ketika hujan

Saudariku yang shalihah, alhamdulillah musim hujan kembali tiba. Udara yang tadinya tercampur debu dan asap, kini berganti menjadi bersih dan sejuk, masyaallah. Semua ini adalah rahmat dan karunia dari Allah ‘azza wa jalla untuk kita.

Saudariku, sebagaimana kita ketahui bahwa dengan turunnya hujan selain untuk membersihkan udara juga mendatangkan keberkahan dan manfaat yang begitu banyak bagi makhluk-makhluk di bumi. Allah menerangkan manfaat dan keberkahan hujan kepada makhluk-Nya di beberapa ayat pada kitab-Nya yang mulia.

Allah Ta’ala berfirman yang artinya:

“Dan Kami turunkan dari langit air yang diberkahi (banyak manfaatnya) lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang di ketam, dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun-susun, untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). Seperti itulah terjadinya kebangkitan“. (QS. Qaaf 9-11)

Allah Ta’ala menyebutkan hujan sebagai sesuatu yang suci dan rahmat dan menamakannya sebagai rizki dengan firman-Nya:

مِنَ السَّمَآ ِٕ مِنْ رِزْقٍ فَأَحْيَا بِهِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَمَاأَنْزَلَ اللّٰهُ

“Dan rizki (hujan) yang diturunkan Allah dari langit lalu dihidupkan-Nya dengan air hujan itu bumi sesudah matinya.” (QS. Al-Jaatsiyah: 5)

Imam al-Baghawi rahimahullah berkata: ”Yaitu, hujan yang menyebabkan adanya rizki-rizki hamba.” (Tafsiirul Baghawi VI/157).

Ketika turun hujan kita disyari’atkan mengucapkan :

اَللّٰهُمَّ اجْعَلْهُ صَيِّبًا نَافِعًا

“Ya Allah, jadikanlah hujan ini hujan yang bermanfaat.”
Ini berdasarkan hadits ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa ketika melihat hujan, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengucapkan doa tersebut di atas (Shahiihul Bukhari (II/21), Kitab Al Istisqaa’, Bab Maa Yuqaalu idzaa Matharat)

Selain itu, disyariatkan juga mengucapkan: ”Kami dihujani lantaran karunia dan rahmat dari Allah”, berdasarkan hadits yang terdapat dalam ash-Shahiihain bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata kepada para shahabat beliau pada hari yang malamnya mereka diguyur hujan:

“Apakah kalian mengetahui apa yang difirmankan oleh Rabb kalian? Mereka menjawab: ”Allah dan Rasul-nya yang lebih mengetahui.” Beliau bersabda, Dia berfirman: ”Diantara hamba-hamba-Ku terdapat orang yang beriman kepada-Ku dan kafir. Orang yang berkata: ”Kami dihujani lantaran karunia dan rahmat dari Allah”, maka dialah orang yang beriman kepada-Ku dan kafir terhadap bintang- bintang. Sedangkan orang yang berkata: ”Kami dihujani lantaran bintang ini dan itu”, maka dialah orang yang kafir terhadap-Ku dan beriman terhadap bintang-bintang.”(Shahih Bukhari dan Muslim, keduanya meriwayatkan dari Zaid bin Khalid al-Juhani)

Disunnahkan berhujan-hujanan ketika turun hujan dan mengeluarkan kendaraan dan pakaiannya ketika turun hujan.

Hal tersebut ditunjukkan oleh hadits yang terdapat dalam ash Shahiihain dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu mengenai istisqaa’ Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada hari jum’at, di dalamnya disebutkan: ”… kemudian belum lagi beliau turun dari mimbar, aku melihat hujan telah membasahi jenggot beliau.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik radhiyallahu anhu, ia berkata: ”Kami diguyur hujan ketika kami sedang bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, lalu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyingkap pakaiannya hingga hujan mengenainya. Kami bertanya: ”Wahai Rasulullah, mengapa engkau melakukan hal itu? Beliau menjawab: ”Karena hujan itu baru saja diturunkan oleh Rabbnya.” (Syarhun Nawawi li Shahiih Muslim VI/195)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dalam kitab al-Adabul Mufrad bahwasanya ketika langit menurunkan hujan, Ibnu ‘Abbas radhiyallahu ‘anhu berkata: ”Hai pelayan, keluarkan pelanaku, keluarkan pakaianku.” Kemudian ia membaca :

وَنَزَّلْنَا مِنَ السَّمَآ ِٕ مَآ ٕ ً مَّبٰرَكًا

“Dan kami turunkan hujan dari langit air yang diberkahi (banyak manfaatnya)….” (QS. Qaaf: 9)

Demikian, semoga bermanfaat.

***
Disarikan dari buku Tabbaruk Memburu Berkah (dengan sedikit tambahan dari redaksi WanitaSalihah.com)
Penulis Dr. Nashir bin ‘Abdurrahman bin Muhammad al-Judai’
Penerbit Pustaka Imam Syafi’i Jakarta
Judul asli: At Tabarruk Anwaa’uhu wa Ahkaamuhu
Penerbit Daar Ibnil Jauzi
Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *