Teh Hijau dan Teh Hitam Bisa Menghambat Penyerapan Zat Besi Mekanisme Teh Hijau dan Hitam Menghambat Penyerapan Zat Besi Teh yang diseduh dari Camellia sinensis, baik teh hijau maupun teh hitam, mengandung polifenol seperti katekin dan tannin yang dapat mengikat zat besi non-hem dan membentuk kompleks tidak larut. Hal ini berakibat pada penyerapan zat besi dari makanan berkurang secara signifikan. Efek ini terutama terlihat bila teh diminum bersamaan dengan makanan sumber besi nabati seperti sayuran hijau, kacang-kacangan atu sereal. Teh hitam cenderung lebih kuat menghambat penyerapan besi dibanding teh hijau karena kandungan tanninnya lebih tinggi – satu cangkir teh hitam saat makan bisa menurunkan penyerapan besi sekitar 60%, dan dua cangkir sampai ~67%. Bahkan dalam studi penyerapan dengan penanda besi, konsumsi teh terbukti mengurangi penyerapan besi dari fortifikasi NaFeEDTA lebih dari 85% pada perempuan muda baik yang status besinya normal maupun yang anemia. Sebaliknya, teh hijau juga memiliki efek menghambat, meskipun sedikit lebih ringan daripada teh hitam. Tingkat penghambatan dipengaruhi oleh berbagai faktor, termasuk komposisi diet, usia, jenis kelamin, status kesehatan, dan keberadaan penambah atau penghambat penyerapan zat besi lainnya dalam makanan. Mekanisme utama adalah gugus katekol di polifenol teh yang mengikat ion besi Fe^3+, sehingga menghalangi konversi ke Fe^2+ yang dapat diserap. Pada orang dengan cadangan besi cukup, sedikit teh mungkin tidak menyebabkan masalah besar. Namun, pada kelompok rentan dengan status besi marginal atau kebutuhan besi tinggi (misalnya wanita usia subur, ibu hamil, anak-anak), pengaruh negatif teh pada penyerapan besi menjadi lebih relevan. Peningkat dan penghambat utama ketersediaan hayati zat besi (Piskin dkk., 2022) Bukti Pengaruh Teh terhadap Status Besi dan Risiko Anemia Sejumlah penelitian terbaru menunjukkan keterkaitan konsumsi teh rutin dengan status besi yang lebih rendah dan meningkatnya risiko anemia defisiensi besi, terutama pada populasi rentan. Studi epidemiologis 2024 di Pakistan terhadap wanita usia reproduktif, n=356) menemukan prevalensi anemia jauh lebih tinggi pada peminum teh dibanding yang tidak. Terhadap sekitar 266 wanita peminum teh, 159 (60%) mengalami anemia (dari ringan hingga berat), sedangkan pada 90 wanita non-peminum teh, hanya 34 (38%) yang anemia dan tidak ada yang mencapai anemia berat. Analisis statistik menunjukkan asosiasi signifikan antara kebiasaan minum teh dan anemia (p < 0.05). (Sadik dkk., 2024). Demikian pula, tinjauan sistematis dan meta-analisis (2022) yang menggabungkan 7 studi observasional di berbagai negara menemukan bahwa ibu hamil yang memiliki kebiasaan minum teh berisiko hampir dua kali lipat lebih tinggi untuk mengalami anemia dibanding yang tidak minum teh (adjusted OR ~1,94; 95% CI 1,10–3,43). Hal ini mendukung anggapan bahwa konsumsi teh dapat berkontribusi terhadap anemia pada kelompok rentan seperti ibu hamil (Dania dkk., 2022) Bukti lain datang dari studi populasi besar di Jepang (Frontiers in Nutrition, 2023) yang melibatkan >10 ribu orang dewasa. Hasilnya menunjukkan konsumsi harian teh hijau yang tinggi berkorelasi dengan cadangan besi tubuh (serum ferritin) yang lebih rendah. Pada pria dan wanita pascamenopause, asupan teh hijau dan kopi yang lebih tinggi berkaitan dengan penurunan signifikan kadar ferritin, setelah mengontrol faktor-faktor lain. Pada wanita pramenopause, konsumsi teh hijau juga menunjukkan hubungan terbalik dengan ferritin (semakin banyak teh, semakin rendah cadangan besi), meskipun kopi tidak tampak berpengaruh pada kelompok ini. Menariknya, studi ini melaporkan bahwa pada wanita pascamenopause, peminum kopi ≥3 cangkir/hari memiliki prevalensi defisiensi besi (kadar ferritin sangat rendah) lebih tinggi daripada yang hampir tidak minum kopi. Tren serupa terlihat pada pengonsumsi teh hijau (peminum ≥3 cangkir cenderung lebih banyak yang defisiensi besi), walau dalam studi tersebut signifikansinya terbatas (CI cukup lebar) (Nanri dkk., 2023). Secara keseluruhan, temuan epidemiologis ini konsisten dengan hipotesis bahwa konsumsi teh (khususnya jika berlebihan atau berdekatan dengan waktu makan) dapat menurunkan status besi dan berpotensi meningkatkan risiko anemia defisiensi besi pada sebagian individu (Castillo-Ruiz dkk., 2025). Perlu dicatat bahwa tidak semua penelitian menemukan dampak klinis yang sama, tergantung konteks diet dan populasi. Sebagai contoh pada salah satu uji pada anak-anak di Afrika yang diberi teh hitam atau rooibos 400 mL tiap makan tidak mendapati perbedaan signifikan status besi antara kelompok setelah beberapa waktu (Breet dkk., 2025). Namun, peneliti mencatat ada kemungkinan faktor perancu seperti gizi buruk atau infeksi cacing yang menutupi efek teh. Sebaliknya, penelitian lain mendapati prevalensi anemia mikrositik jauh lebih tinggi pada bayi/anak yang rutin diberi teh dibanding yang tidak (32,6% vs 3,5%). Perbedaan hasil ini menunjukkan bahwa efek teh terhadap anemia mungkin muncul terutama bila konsumsi teh tinggi berlangsung pada diet yang memang rendah besi atau pada individu dengan kebutuhan besi tinggi (Castillo-Ruiz dkk., 2025). Komponen bioaktif utama teh (Camellia sinensis) (Castillo-Ruiz dkk., 2025). Penyusun Arviani Ardillah,S.Si. M.Si. Referensi: Ahmad Fuzi, S.F.; Koller, D.; Bruggraber, S.; Pereira, D.I.; Dainty, J.R.; Mushtaq, S. A 1-h time interval between a meal containing iron and consumption of tea attenuates the inhibitory effects on iron absorption: A controlled trial in a cohort of healthy UK women using a stable iron isotope. Am. J. Clin. Nutr. 2017, 106, 1413–1421. Alemdaroglu, N. C., Dietz, U., Wolffram, S., Spahn‐Langguth, H., & Langguth, P. (2008). Influence of green and black tea on folic acid pharmacokinetics in healthy volunteers: potential risk of diminished folic acid bioavailability. Biopharmaceutics & drug disposition, 29(6), 335-348. Breet, P., Kruger, H. S., Jerling, J. C., & Oosthuizen, W. (2005). Actions of black tea and Rooibos on iron status of primary school children. Nutrition Research, 25(11), 983-994. Castillo-Ruiz, M., Espinoza, J. P., Benavides, L., & Otero, M. C. (2025). Biological Activities of Tea: Benefits, Risks, and Critical Overview of Their Consumption in Children. Beverages, 11(5), 148. Dania, S. R., Dewi, Y. L. R., & Pamungkasari, E. P. (2022). Meta analysis of the relationship between tea drinking habits and the incidence of anemia in pregnant women. Journal of Epidemiology and Public Health, 7(4), 465-474. Khokhar, S., & Apenten, R. K. O. (2003). Iron binding characteristics of phenolic compounds: some tentative structure–activity relations. Food Chemistry, 81(1), 133-140. Nanri, H., Hara, M., Nishida, Y., Shimanoe, C., Iwasaka, C., Higaki, Y., & Tanaka, K. (2023). Association between green tea and coffee consumption and body iron storage in Japanese men and women: a cross-sectional study from the J-MICC Study Saga. Frontiers in Nutrition, 10, 1249702. Piskin, E., Cianciosi, D., Gulec, S., Tomas, M., & Capanoglu, E. (2022). Iron absorption: factors, limitations, and improvement methods. ACS omega, 7(24), 20441-20456. Sadiq, N., Gul, Y., Bilal, M. M., Afzal, M., Mumtaz, N., & Wahid, A. (2024). Association between tea drinking and anemia in women of reproductive age: A cross-sectional study from the Mekran Division, Balochistan, Pakistan. Cureus, 16(7), e64801. https://doi.org/10.7759/cureus.64801 Yang, C. S., & Landau, J. M. (2000). Effects of tea consumption on nutrition and health. The Journal of nutrition, 130(10), 2409-2412. May 1, 2026 by WanitaSalihah 0 comments 19 viewson Khazanah Share this post Facebook Twitter Google plus Pinterest Linkedin Mail this article Print this article Tags: Teh menghambah penyerapan zat besi Previous: Ketika Allah Menjadikan Kalian Mengantuk Sebagai Penenteram