Pengaruh Nasihat dengan Ayat Al-Quran yang Disampaikan dari Kejujuran


Nasehat dari Al Quran

Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu biasa memberikan peringatan dengan Al-Quran, menasihati dengan ayat-ayatnnya. Pengaruh ayat-ayat ini bisa dirasakan apabila bersumber dari kejujuran orang yang membacanya.

Alangkah baiknya kalau kita sertakan sebuah kisah yang dibawakan oleh Ibnu Katsir tentang tafsir permulaan surat Al-Ghafir sebagai buktinya.

Beliau rahimahullah berkata,

“Ada seorang lelaki jahat dari penduduk negeri Syam yang mendatangi Umar radhiyallahu ‘anhu. Lalu Umar kehilangan dia.

Umar berkata, ‘Apa yang diperbuat si Fulan?’

Mereka menjawab, ‘Ia terus-menerus minum arak.’

Lalu Umar memanggil sekretarisnya. Umar berkata, ‘Tulislah:

Dari Umar bin Khaththab kepada Fulan bin Fulan. Salamun ‘alaika. Sesungguhnya aku memuji-Mu. Dialah Allah; tiada sesembahan yang berhak diiabadahi kecuali dia. Dialah yang mengampuni dosa dan menerima taubat, lagi keras hukuman-Nya. Dia yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah (semua makhluk) kembali.’

Lalu ia mengatakan kepada sahabatnya, ‘Berdoalah kepada Allah untuk saudara kalian, agar ia mampu menghadapkan hatinya dan Allah senantiasa menerima taubatnya.’

Sesampainya surat Umar radhiyallahu ‘anhu kepada lelaki tersebut, ia membacanya berulang-ulang. Kemudian dia berkata,

غَافِرِ الذَّنْبِ وَقَابِلِ التَّوْبِ شَدِيْدِ الْعِقَابِ ذِي الطَّوْلِ

‘Yang Mengampuni dosa dan Menerima taubat lagi keras hukuman-Nya. Yang mempunyai karunia. Tiada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Hanya kepada-Nyalah kembali (semua makhluk).’ (QS. Ghafir: 3)

Sungguh Allah telah memberikan peringatannya kepadaku akan hukuman-Nya, dan telah mengampuniku.’

Ia terus mengulang ayat tersebut, kemudian menangis. Berikutnya, ia menghadapi sakaratul maut dan mendapat kemudahan dalam sakaratul mautnya itu.

Ketika berita kematiannya sampai kepada Umar radhiyallahu ‘anhu, beliau berkata,

‘Demikianlah yang seharusnya kalian lakukan. Jika kalian mendapati saudara kalian (sesama muslim) tergelincir maka luruskalah, dan berdoalah kepada Allah untuknya agar ia bisa bertaubat kepada Allah. Janganlah kalian menjadi penolong-penolong setan dalam menyesatkannya.’”

Disalin dari buku Air Mata Iman (terj.), karya Abdullah bin Ibrahim Al-Haidan, Shafar 1427/April 2006, Penerbit: Qaulan Karima, Purwokerto.

Pengeditan bahasa oleh Redaksi WanitaSalihah.Com

Artikel WanitaSalihah.Com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *