Apa Sikap Seorang Muslim terhadap Perbedaan dalam Masalah Aqidah?


Perbedaan dalam Masalah Aqidah

Pertanyaan:

Telah terjadi banyak perselisihan dan perbedaan pendapat di antara kaum muslimin dalam berbagai masalah agama, khususnya dalam hal aqidah. Bagaimana seharusnya sikap seorang muslim terhadap hal tersebut?

Jawaban:

Segala puji bagi Allah. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Rasulullah. Amma ba’du.

Pertama, Allah Subhanahu wa Ta’ala memerintahkan orang-orang beriman untuk bersatu dan tidak berpecah belah. Allah berfirman,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا وَاذْكُرُوا نِعْمَتَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنْتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ لَكُمْ آيَاتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُونَ * وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَأُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ * وَلَا تَكُونُوا كَالَّذِينَ تَفَرَّقُوا وَاخْتَلَفُوا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْبَيِّنَاتُ وَأُولَئِكَ لَهُمْ عَذَابٌ عَظِيمٌ

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliah) bermusuh-musuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan nikmat-Nya kamu menjadi bersaudara. Dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” (QS. Ali Imran: 103-105)

Allah juga berfirman,

وقال سبحانه: إِنَّ الَّذِينَ فَرَّقُوا دِينَهُمْ وَكَانُوا شِيَعًا لَسْتَ مِنْهُمْ فِي شَيْءٍ إِنَّمَا أَمْرُهُمْ إِلَى اللَّهِ ثُمَّ يُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَفْعَلُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang memecah-belah agama mereka dan mereka menjadi golongan-golongan, tidak ada sedikit pun tanggung jawabmu terhadap mereka. Sesungguhnya urusan mereka hanyalah kepada Allah, kemudian Allah akan memberitahukan kepada mereka tentang segala sesuatu yang telah mereka perbuat.” (QS. Al-An’am: 159)

Allah memerintahkan agar perselisihan dikembalikan kepada-Nya dan Rasul-Nya — maksudnya adalah Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman,

وأمر الله تعالى برد النزاع إليه وإلى رسوله صلى الله عليه وسلم أي إلى الكتاب والسنة، فقال: فَإِنْ تَنَازَعْتُمْ فِي شَيْءٍ فَرُدُّوهُ إِلَى اللَّهِ وَالرَّسُولِ إِنْ كُنْتُمْ تُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ ذَلِكَ خَيْرٌ وَأَحْسَنُ تَأْوِيلًا

“Jika kalian berselisih dalam suatu hal, maka kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur’an) dan Rasul-Nya (Sunnah), jika kalian benar-benar beriman kepada Allah dan hari akhir. Yang demikian itu lebih utama (bagi kalian) dan lebih baik akibatnya.” (QS. An-Nisa: 59)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda dalam hadits Irbadh bin Sariyah,

فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ بَعْدِي فَسَيَرَى اخْتِلَافًا كَثِيرًا، فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الْمَهْدِيِّينَ الرَّاشِدِينَ، تَمَسَّكُوا بِهَا وَعَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ وَمُحْدَثَاتِ الْأُمُورِ، فَإِنَّ كُلَّ مُحْدَثَةٍ بِدْعَةٌ، وَكُلَّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya siapa yang hidup di antara kalian sepeninggalku, maka ia akan melihat banyak perselisihan. Maka hendaklah kalian berpegang pada sunnahku dan sunnah para khalifah yang mendapat petunjuk dan lurus. Peganglah itu erat-erat dan gigitlah dengan gigi geraham. Dan jauhilah perkara-perkara baru dalam agama, karena setiap yang baru adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah kesesatan.” (HR. Abu Daud no. 4607, At-Tirmidzi no. 2676, dan Ibnu Majah no. 42)

Hadits ini mencakup perselisihan dalam perkara ilmu dan amalan. Berdasarkan hal tersebut, apabila terjadi perbedaan dalam masalah akidah, wajib mengembalikan perbedaan itu kepada kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Segala hal yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Sunnah, maka itulah kebenaran.

Contohnya, apabila terjadi perdebatan mengenai penetapan sifat-sifat Allah, seperti tangan, wajah, tertawa, gembira, turun ke langit dunia — dan semua pihak mengklaim merujuk kepada Al-Qur’an dan Sunnah — maka:

  • Sebagian menetapkan sifat-sifat tersebut sesuai dengan dzahir nash secara hakiki.
  • Sebagian lagi menakwilkannya (mengalihkannya ke makna lain), atau mengembalikannya ke sifat lain seperti kehendak dan kekuasaan.
  • Sebagian hanya menetapkannya secara lafazh saja, namun menolak maknanya yang dzahir.

Tidak diragukan lagi bahwa kebenaran berada pada pihak pertama, karena sesuai dengan dzahir Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip asal dalam bahasa adalah makna hakiki (bukan majaz), dan nash-nash datang dalam bentuk lafazh yang mengandung makna, bukan sekadar suara.

Maka wajib menetapkan sifat-sifat Allah sebagaimana dzahirnya tanpa menyerupakan-Nya dengan makhluk, berdasarkan firman Allah,

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

“Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya, dan Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat.” (QS Asy-Syura: 11)

Ibnu Abdil Barr rahimahullah berkata, “Ahlus Sunnah sepakat untuk menetapkan semua sifat yang datang dalam Al-Qur’an dan Sunnah, dan beriman kepadanya serta memahaminya secara hakiki, bukan secara majazi. Hanya saja, mereka tidak menjelaskan deskripsi bentuknya (kaifiyah-nya), dan tidak membatasi bentuknya dalam satu bentuk tertentu.” (At-Tamhid, 7:145)

Kedua, salah satu cara yang benar dalam menyelesaikan perselisihan adalah kembali kepada ijma’ (konsensus) umat yang ma’shum (terjaga), yang haram untuk diselisihi, sebagaimana firman Allah,

وَمَنْ يُشَاقِقِ الرَّسُولَ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُ الْهُدَى وَيَتَّبِعْ غَيْرَ سَبِيلِ الْمُؤْمِنِينَ نُوَلِّهِ مَا تَوَلَّى وَنُصْلِهِ جَهَنَّمَ وَسَاءَتْ مَصِيرًا

“Dan barang siapa yang menentang Rasul setelah jelas kebenaran baginya dan mengikuti selain jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia dalam kesesatan yang telah dipilihnya, dan Kami akan masukkan ia ke dalam neraka Jahannam. Seburuk-buruk tempat kembali.” (QS. An-Nisa’: 115)

Dengan demikian, kembalilah kepada prinsip yang telah disepakati oleh generasi salaf bahwa:

  • Iman adalah ucapan dan perbuatan,
  • Allah terpisah dari makhluk-Nya, berada di atas ‘Arsy-Nya,
  • Arsy-Nya berada di atas langit,
  • Allah memiliki dua tangan, wajah, mencintai, ridha, tertawa, dan gembira,
  • Allah turun ke langit dunia setiap malam, dan lain-lain — ini semua telah diriwayatkan sebagai ijma’ generasi awal.

Selain itu, berhati-hatilah terhadap klaim ijma’ yang datang belakangan, yang terdapat dalam kitab-kitab ahlul kalam (filsafat).

Ketiga, jika pihak-pihak yang berselisih sepakat dalam mengagungkan para sahabat, Salaf, dan para imam terdahulu, maka cara untuk menyelesaikan perselisihan setelah kembali ke Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma’ adalah dengan kembali kepada pendapat para sahabat, tabi’in, dan imam.

Mereka adalah orang-orang yang paling mengetahui Al-Qur’an dan Sunnah, dan berada di atas kebenaran sebelum munculnya perpecahan.

Kini, banyak kitab-kitab akidah yang telah dicetak dan berisi perkataan para sahabat, tabi’in, dan imam.

Barang siapa yang berpegang pada Al-Qur’an, Sunnah, ijma’, dan memahami seperti para sahabat serta tabi’in, maka ia akan selamat.

Hendaknya seorang mukmin banyak berdoa untuk memohon petunjuk. Diriwayatkan oleh Ahmad (1997), Abu Daud (1510), At-Tirmidzi (3551), dan Ibnu Majah (3880) dari Ibnu Abbas; ia berkata, “Dahulu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berdoa,

رَبِّ أَعِنِّي وَلَا تُعِنْ عَلَيَّ، وَانْصُرْنِي وَلَا تَنْصُرْ عَلَيَّ، وَامْكُرْ لِي وَلَا تَمْكُرْ عَلَيَّ، وَاهْدِنِي وَيَسِّرْ هُدَايَ إِلَيَّ، وَانْصُرْنِي عَلَى مَنْ بَغَى عَلَيَّ، اللَّهُمَّ اجْعَلْنِي لَكَ شَاكِرًا، لَكَ ذَاكِرًا، لَكَ رَاهِبًا، لَكَ مِطْوَاعًا إِلَيْكَ، مُخْبِتًا، أَوْ مُنِيبًا، رَبِّ تَقَبَّلْ تَوْبَتِي، وَاغْسِلْ حَوْبَتِي، وَأَجِبْ دَعْوَتِي، وَثَبِّتْ حُجَّتِي، وَاهْدِ قَلْبِي، وَسَدِّدْ لِسَانِي، وَاسْلُلْ سَخِيمَةَ قَلْبِي

‘Duhai Rabbku, tolonglah aku dan jangan Engkau tolong pihak yang melawan aku. Berilah aku kemenangan dan jangan Engkau menangkan lawanku atas diriku. Rencanakanlah kebaikan untukku dan jangan Engkau merencanakan kejahatan terhadapku. Tunjukilah aku dan mudahkanlah petunjuk itu sampai kepadaku. Berilah aku kemenangan atas orang yang berbuat zalim kepadaku. Ya Allah, jadikanlah aku orang yang banyak bersyukur kepada-Mu, banyak mengingat-Mu, takut kepada-Mu, taat kepada-Mu, tunduk dan kembali kepada-Mu. Wahai Rabbku, terimalah taubatku, bersihkanlah kesalahan-kesalahanku, kabulkanlah doaku, teguhkanlah hujjahku, tuntunlah hatiku, luruskanlah ucapanku, dan cabutlah kedengkian dari hatiku.” (Hadits ini dinilai shahih oleh At-Tirmidzi dan Al-Albani)

Dalam salah satu riwayat lain disebutkan, “Dan mudahkanlah petunjuk itu sampai kepadaku.”

Juga diriwayatkan oleh Muslim (770) dari ‘Aisyah radhiyallahu ‘anha; ia berkata, “Apabila Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bangun di malam hari untuk shalat, beliau membuka shalatnya dengan membaca,

اللهُمَّ رَبَّ جَبْرَائِيلَ، وَمِيكَائِيلَ، وَإِسْرَافِيلَ، فَاطِرَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، عَالِمَ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ، أَنْتَ تَحْكُمُ بَيْنَ عِبَادِكَ فِيمَا كَانُوا فِيهِ يَخْتَلِفُونَ، اهْدِنِي لِمَا اخْتُلِفَ فِيهِ مِنَ الْحَقِّ بِإِذْنِكَ، إِنَّكَ تَهْدِي مَنْ تَشَاءُ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ

‘Ya Allah, Rabb Jibril, Mikail, dan Israfil, Pencipta langit dan bumi, Yang Maha Mengetahui yang gaib dan yang nyata. Engkaulah yang menghakimi di antara hamba-hamba-Mu dalam perkara yang mereka perselisihkan. Tunjukilah aku kepada kebenaran dalam hal yang mereka perselisihkan itu, dengan izin-Mu. Sesungguhnya Engkau memberi petunjuk kepada siapa saja yang Engkau kehendaki kepada jalan yang lurus.’”

Wallahu a’lam.


***
(Diterjemahkan dengan beberapa peringkasan dari https://islamqa.info/ar/answers/543477/ما-موقف-المسلم-من-الاختلاف-في-العقيدة )
Penerjemah WanitaSalihah.Com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.