Jika Ditelan Sah Puasanya, Jika Dikeluarin Batal Puasanya


Kok bisa?

Seseorang yang makan di siang hari bulan Ramadhan karena lupa sementara suapan makanan telah sampai antara pangkal tenggorokan dan perutnya lalu ia teringat dirinya sedang berpuasa, saat kondisi seperti ini hendaknya ia membiarkannya tertelan dan puasanya sah.
Nmun jika ia berusaha memuntahkan makanan tersebut, itu berarti ia telah muntah dengan sengaja. Tentu hal ini dapat merusak status puasanya.

Bagaimana jika makanan masih di mulut?

Jika seseorang teringat sedang puasa sementara makanan masih dimulut, ia wajib  mengeluarkannya dan puasanya sah. Keterangan ini disampaikan Al Allamah Ibnu ‘Utsaimin rahimahullah dimana beliau berkata,

لو أكل ناسياً أو شرب ناسياً، ثم ذكر أنه صائم واللقمة في فمه، فهل يلزمه أن يلفظها؟
الجواب: نعم يلزمه أن يلفظها؛ لأنها في الفم وهو في حكم الظاهر، ويدل على أنه في حكم الظاهر، أن الصائم لو تمضمض لم يفسد صومه، أما لو ابتلعها حتى وصلت ما بين حنجرته ومعدته لم يلزمه إخراجها، ولو حاول وأخرجها، لفسد صومه لأنه تعمد القيء.

“Andai seseorang makan minum kareena lupa kemudian ia teringat dirinya sedang berpuasa sementara makanan masih berada di mulut, apakah ia wajib mengeluarkannya? Jawab: Benar,  ia wajib mengeluarkan makanan tersebut. Karena masih berada di mulut dan kondisi seperti ini dihukumi sebagaimana dzahirnya. Contoh lain andai orang berpuasa tersebut berkumur-kumur, ini juga tidak membatalkan puasanya. Adapun jika ia menelan makanan hingga telah sampai diantara pangkal tenggorokan dan perutnya (kemudian ia baru teringat sedang berpuasa-pen) maka ia tidak berkewajiban mengeluarkannya. Jika ia berusaha memuntahkan makanan tersebut, sungguh puasanya batal. Karena ia dengan sengaja muntah. (Asy Syarhul Mumti’ Ala Zadil Mustaqni (6/386), Muhammad Shalih Al Utsaimin, Dar Ibnul Jauzi.)

Allahua’lam. Semoga yang sedikit ini bermanfaat.

****
Penyusun: Ummu Fatimah Abdul Mu’ti
Artikel wanitasalihah.com

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *