Kupas Tuntas: Firasat Menjelang Kematian


FIrasat Kematian

Pertanyaan:

  • Apakah ada tanda khusus yang muncul sebelum seorang manusia meninggal, baik dia mukmin atau kafir? Apakah ada tanda bahwa ajalnya semakin dekat?
  • Jika sudah jelas bahwa ajalnya sudah dekat, apa yang harus dia lakukan? Kalau dia belum merasakan tanda-tanda tersebut, kapan sebenarnya tanda-tanda itu akan muncul?
  • Apa ada cara untuk memperingan sakaratul maut?
  • Amal shalih apa yang paling bagus untuk dilakukan terus-menerus?

Jawaban:

Alhamdulillah.

Pertama:
Tidak ada seorang pun yang tahu kapan ajalnya akan menjemput. Juga tidak ada yang tahu di belahan bumi mana dia akan mati. Allah berfirman,

( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34

“Sesungguhnya Allah, hanya pada sisi-Nya sajalah pengetahuan tentang hari Kiamat; dan Dia-lah yang menurunkan hujan, dan mengetahui apa yang ada dalam rahim. dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok. Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui di bumi mana Dia akan mati. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Luqman: 34)

Kedua:
Tidak ada tanda khusus yang bisa menjadi petunjuk bagi manusia bahwa ajalnya sudah dekat dan jatah umurnya sudah habis. Ini bagian-bagian dari rahmat Allah kepada para hamba-Nya, karena ketika manusia tahu kapan ajalnya datang dan dia tahu bahwa taubat akan menghapus kesalahan yang telah lampau, dia akan tenggelam dalam dosa dan kesalahan. Dia akan “menghibur” dirinya satu jam sebelum ajal datang, “Sudah, bertaubatlah dan tinggalkan dosa ini.” Tipikal orang semacam ini tidak cocok disebut hamba Allah, tapi lebih cocok disebut budak nafsu.

Berbeda dengan kenyataan yang terjadi, manusia tidak tahu kapan maut menjemput. Sehingga orang yang berakal akan cepat-cepat memperbaiki masa lalunya dan segera bertaubat serta beramal shalih, karena dia tak tahu waktu ajalnya tiba. Dia terus berusaha dengan ikhtiar tersebut hingga Allah mewafatkannya. Seperti ini yang layak disebut hamba yang shalih: gemar berbuat taat dan berlari jauhi maksiat.

Hanya saja, ada beberapa tanda yang kadang menjadi petunjuk bahwa ajal kian dekat, seperti: menderita sakit parah yang umumnya tidak mungkin lagi disembuhkan, sudah berusia lanjut, tertimpa musibah yang mematikan, atau hal-hal lain yang umumnya bisa menjadi sebab kematian.

Ketiga:
Manakala seseorang merasa ajalnya semakin dekat ketika sakitnya bertambah parah atau kondisi semisal itu, dia wajib memperbaiki keadaan ukhrawinya dengan taubat kepada Allah, dan mengembalikan hak setiap orang yang dia zalimi serta memohon maaf dari mereka. Juga bersegera beramal shalih, penuh kesungguhan berharap kepada Allah, berlari menuju ketaatan, dan memohon kebaikan Allah berupa pemaafan serta ampunan dari-Nya. Iringi itu semua dengan banyak prasangka baik kepada-Nya. Sertai pula dengan menaruh harapan besar terhadap kemurahan Allah dan luasnya rahmat Allah. Dia tak akan mengkhianati persangkaan baik dari hamba-Nya.

Telah diriwayatkan oleh Muslim, no. 2877, dari Jabir radhiyallahu ‘anhu,

” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) “

“Aku dengar Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam – tiga hari sebelum wafatnya – bersabda, ‘Jangan sampai kalian meninggal kecuali dia berprasangka baik kepada Allah.’

Gapai itu dengan memperbanyak amalan penghilang dosa dan penghapus kesalahan, yaitu istigfar, menjaga wudhu dan shalat, menunaikan haji dan umrah, dan sebagainya.

Keempat
Sakaratul maut adalah ujung kehidupan yang begitu dahsyat sebelum perjumpaan dengan Allah. Sakaratul maut adalah kesempatan terakhir Allah menghapus kesalahan hamba-Nya.  Kita mohon kepada Allah agar sakaratul maut diringankan dan kita dimudahkan dalam menjalaninya.

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam tengah menderita sakit yang akhirnya menjadi sebab wafatnya beliau. (Ketika masih sakit), beliau masukkan kedua tangannya ke dalam air lalu beliau usap wajahnya. Beliau katakan, ‘Laa ilaaha illallah (tiada sesembahan yang berhak disembah selain Allah).’ Kemudian beliau angkat tangannya seraya berucap, ‘Bersama Ar-Rafiiq Al-‘Ala,’ hingga akhirnya tangan beliau melemas lalu meninggal.”

Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 4449, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha,

“Rasulullah shallallahu’alaihi wa salam tengah menderita sakit yang akhirnya menyebabkan beliau wafat. (Ketika masih sakit), beliau masukkan kedua tangannya ke dalam air lalu beliau usap wajahnya. Lantas beliau berkata,

اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ

‘Ya Allah, tolonglah aku dalam menghadapi perihnya kematian atau masa menjelang kematian.’

Juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, no. 978, dari Aisyah radhiyallahu ‘anha bahwa dia berkata,

“Aku melihat Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam yang tengah menghadapi maut. Di sisi beliau terletak bejana berisi air. Beliau masukkan tangannya ke dalam bejana, lalu beliau basuh wajahnya dengan air. Kemuadian beliau berkata, ‘Ya Allah, mohon tolong aku menghadapi perihnya maut atau masa menjelang maut.‘” (Hadits ini dinilai hasan oleh Al-Hafiqzh dalam Fathul Bari, 11:362. dalam kitab Dha’if At-Tirmidzi, Syaikh Al-Albani menilai bahwa hadits ini dhaif)

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah ditanya, “Apakah sakitnya sakaratul maut bisa meringankan beban dosa di akhirat? Apakah penyakit yang diderita sebelum ajal bisa meringankan beban dosa di  akhirat?

Beliau rahimahullah menjawab, “Setiap (musibah) yang menimpa manusia – baik itu penyakit, penderitaan, kesedihan, rasa galau, hingga duri yang menusuknya – maka semua itu merupakan penghapus dosa. Kemudian jika dia sabar dan mengharap pahala, dosanya akan dihapuskan dan dia akan mendapat pahala atas kesabarannya menghadapi musibah tersebut. Sama saja apakah musibah itu terjadi menjelang kematian atau jauh waktu sebelum proses kematian.” (Fatawa Nurun ‘alad Darbi, 2:24)

Seiring makin dekatnya kematian dan kuatnya sakaratul maut, seorang mukmin akan menghadapinya dengan jiwa gembira dan teguh. Dia menghadapi (kematian dan sakaratul maut) dengan mudah. Dia diliputi rindu untuk menyongsong sesuatu yang akan didapatinya setelah kematian, yaitu perjumpaan dengan Allah.

Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimaullah berkata, “Seseorang yang telah mati tak mungkin lepas dari salah satu keadaan – dia akan berisitirahat dengan tenang atau dia tak akan bisa beristirahat di alam kuburnya. Dua golongan tersebut mungkin saja sakaratul mautnya semakin berat dan mungkin pula malah semakin ringan.

Golongan yang pertama adalah orang yang menyongsong sakaratul maut dengan ketakwaan, bukan kemaksiatan. Bahkan, jika dia orang yang berkatwa, (semakin dekat kematiannya) maka semakin kuat pula taubatnya. Bila tidak demikian, dosanya tetap akan diampuni sesuai dengan kadar (rasa sakit) yang dia hadapi (ketika sakaratul maut). Setelah itu, dia pun ‘beristirahat’ dari kepedihan dunia yang telah ditutup dengan (kematian). Umar bin Abdul Aziz berkata, ‘Satu hal yang kusukai dari sakaratul maut adalah bahwa sakaratul maut merupakan akhir (kepedihan dunia) yang menjadi penghapus dosa seorang mukmin.’

Dengan demikian, selain kabar gembira, kesenangan malaikat berjumpa dengannya, kelembutan mereka terhadapnya, dan kebahagiaannya ketika berjumpa dengan Rabb-nya, akan lenyap pula segala sakit menjelang kematian, sampai-sampai tidak ada sedikit pun rasa sakit yang ia alami.” (Fathul Bari, 11:365)

Kita tidak tahu jalan lain yang bisa membuat sakaratul maut menjadi lebih ringan selain meminta tolong kepada Allah serta berdoa kepada-Nya agar memudahkan sakaratul maut itu dan tidak mempersulitnya. Semoga kita bisa melakukan amalan yang dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, yaitu memasukkan tangan ke dalam air, kemudian mengusapkan kedua tangan ke wajah lalu berdoa kepada Allah agar Dia berkenan menolong dalam melalui sakaratul maut – haditsnya telah disebutkan.

Di sisi lain, sebagian salaf menilai bahwa perihnya sakaratul maut merupakan bentuk rahmat Allah, sebagaimana telah disebutkan dalam riwayat Umar bin Abdul Aziz. Juga diriwayatkan dari Abdullah bin Ahmad – dalam Zawaiduz Zuhud, hlm. 388 – dari Ibrahim An-Nakha’i; dia berkata, “Mereka menganjurkan orang yang sakit untuk berjuang (menahan kepedihan) ketika menghadapi kematian.”

Juga diriwayatkan dari Manshur, “Sesungguhnya Ibrahim an-Nakhai menyukai sakit yang dirasakan sewaktu nyawanya dicabut.”

Kita tidak tahu bahwa ada orang yang pasti berhasil melalui kedahsyatan (sakaratul maut) melainkan orang yang mati syahid. Telah diriwayatkan oleh Imam Ahmad, no. 7953; At-Tirmidzi, no. 1668, dan beliau menilainya shahih; An-Nasa’i, no. 3161, dan Ibnu Majah, no. 2802; dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda,

مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ

“Seorang yang mati syahid tidak merasakan kematian melainkan hanya seperti bila ia digigit.” (Dinilai shahih oleh Al-Albani – dalam Shahih At-Tirmidzi – dan selain beliau)

Al-Munawi berkata, “Maksudnya, Allah Ta’ala meringankan kematian untuknya dan mencukupkan baginya sakatarul maut dan kepedihannya. Bahkan, kadang seseorang yang mati syahid menjadikan merasakan kelezatan dalam perjuangannya di jalan Allah. Sebagaimana ucapan Khabib Al-Anshari ketika ia terbunuh (di medan jihad),

Aku tidak peduli ketika aku terbunuh dalam keadaan muslim
Di bagian mana aku terjatuh untuk Allah (Faidhul Qadir, 4:182)

Kelima
Amal shalih adalah setiap hal yang diperintahkan, yang dikhususkan, dan disunnahkan oleh pembuat syariat (yaitu Allah). Satu amal shalih lebih afdhal (utama) dibandingkan amal shalih yang lain. Salah satu amal shalih yang paling afdhal, yang akan mendekatkan seorang hamba kepada Rabb-nya dan seorang muslim disarankan untuk terus melakukannya, adalah:

  • memperbanyak zikir kepada Allah,
  • membaca Al-Quran,
  • berbakti kepada orang tua,
  • silaturahim (menyambung hubungan kekerabatan),
  • haji,
  • umrah,
  • qiyamul lail (shalat tahajud),
  • sedekah secara sembunyi-sembunyi,
  • berakhlak mulia,
  • menebarkan salam,
  • memberi makan orang lain,
  • berkata jujur,
  • amar ma’ruf dan nahi mungkar,
  • menyukai kebaikan bagi orang lain,
  • menyingkirkan gangguan dari orang lain,
  • tolong-menolong dalam kebaikan dan takwa,
  • mendamaikan dua orang yang berseteru,
  • dan bentuk-bentuk amal kebaikan lainnya.

Kami nasihatkan kepada Saudari Penanya ketika mengingat mati dan kepedihannya agar menjadikannya sebagai pemacu untuk lebih bertakwa kepada Allah dan memperbanyak amal shalih. Jika seorang hamba bertakwa kepada Allah maka Allah akan mudahkan kesulitan yang meliputinya, Allah akan sirnakan semua ganjalan yang ada, dan Dia akan hapuskan segala kepedihan.

Wallahu a’lam.

Situs Islam Tanya-Jawab (diasuh oleh Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid)
Sumber: http://islamqa.info/ar/201751

**
Penerjemah: Tim Penerjemah WanitaSalihah.Com
Muraja’ah: Ustadz Ammi Nur Baits

Artikel WanitaSalihah.Com

ماذا يفعل الإنسان إذا أحس بقرب أجله ؟

السؤال :

– هل هناك علامات قبل وفاة الإنسان سواء كان مؤمنا أو كافرا ؟ وهل للعلامات أوقات محدده ؟

– وإذا تبين له أن أجله قريب ماذا يفعل ؟ ولما نتلقى هذه العلامات إذا كانت موجودة ؟

– وهل هناك طريقة لتخفيف سكرات الموت ؟

– وما أفضل الأعمال الصالحة التي ينصح التمسك بها ؟

الجواب :

الحمد لله

أولا :

لا يعلم أحد من الناس على وجه التحديد متى يموت ، ولا بأي أرض يموت ، قال تعالى : ( إِنَّ اللَّهَ عِنْدَهُ عِلْمُ السَّاعَةِ وَيُنَزِّلُ الْغَيْثَ وَيَعْلَمُ مَا فِي الْأَرْحَامِ وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ بِأَيِّ أَرْضٍ تَمُوتُ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ ) لقمان/ 34 .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 100451 ) ، ( 180876 ) .

ثانيا :

ليست هناك علامات معينة يتعرف بها الإنسان على قرب أجله وانقضاء عمره ، وهذا من رحمة الله بعباده ، فإن الإنسان إذا علم متى يكون أجله ، وعلم أن التوبة تكفر ما قبلها من الخطايا ، ربما انغمس في الذنوب ، وارتكس في الآثام ، ومنى نفسه أنه قبل موته بساعة من نهار : تاب وأقلع ، ومثل هذا لا يصلح أن يكون عبدا لله ؛ بل هو عابد لهواه .

بخلاف الواقع الذي لا يدري معه الإنسان متى يموت ، فالعاقل يتدارك ما فاته سريعا ويبادر بالتوبة والعمل الصالح ، فإنه لا يدري متى يكون انقضاء أجله ، ولا يزال على ذلك حتى يتوفاه الله ، ومثل هذا حري أن يكون عبدا صالحا محبا لطاعة الله نافرا من معصية الله .

إلا أن هناك بعض العلامات التي قد تدل على دنو أجل العبد ، كإصابته بمرض خطير لا يكاد يسلم منه الناس عادة ، وكذا بلوغه أرذل العمر ، وتعرضه لحادث مهلك ونحو ذلك من الأمور القدرية .

ثالثا :

تقدم في إجابة السؤال رقم : ( 184737 ) ذكر العلامات التي تدل على صلاح العبد عند موته ، والعلامات التي تدل على سوئه .

رابعا :

متى أحس العبد بدنو أجله لمرضه الشديد ونحو ذلك ؛ فالواجب عليه أن يتدارك أمره بالتوبة إلى الله ورد المظالم إلى أهلها والتحلل منهم ، والمسارعة في العمل الصالح والجد في الرغبة إلى الله والتفرغ لطاعته ، وطلب الإحسان منه بالعفو والمغفرة ، مع وافر حسن الظن به سبحانه ، والثقة في عظيم كرمه وواسع رحمته ، وأنه لا يخيب ظن عبد ظن به خيرا .

وقد روى مسلم ( 2877 ) عَنْ جَابِرٍ، قَالَ : ” سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَبْلَ وَفَاتِهِ بِثَلَاثٍ، يَقُولُ: ( لَا يَمُوتَنَّ أَحَدُكُمْ إِلَّا وَهُوَ يُحْسِنُ بِاللهِ الظَّنَّ ) ” .

وكذلك الإكثار من مكفرات الذنوب وماحيات الآثام من الاستغفار والمحافظة على الوضوء والصلاة والحج والعمرة ونحو ذلك .

خامسا :

سكرات الموت آخر شدة يلقاها العبد قبل لقاء الله ، وسكرات الموت هي آخر ما يكفر الله به عن عبده ، نسأل الله أن يخفف عنا هذه السكرات وأن يعيننا عليها .

روى البخاري ( 4449 ) عن عَائِشَةَ : ” أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ في مرضه الذي تُوُفِّيَ فِيه جَعَلَ يُدْخِلُ يَدَيْهِ فِي المَاءِ فَيَمْسَحُ بِهِمَا وَجْهَهُ ، يَقُولُ : ( لاَ إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، إِنَّ لِلْمَوْتِ سَكَرَاتٍ ) ثُمَّ نَصَبَ يَدَهُ ، فَجَعَلَ يَقُولُ : ( فِي الرَّفِيقِ الأَعْلَى ) حَتَّى قُبِضَ وَمَالَتْ يَدُهُ ” .

وروى الترمذي ( 978 ) عَنْ عَائِشَةَ : ” أَنَّهَا قَالَتْ : رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَهُوَ بِالمَوْتِ ، وَعِنْدَهُ قَدَحٌ فِيهِ مَاءٌ ، وَهُوَ يُدْخِلُ يَدَهُ فِي القَدَحِ ، ثُمَّ يَمْسَحُ وَجْهَهُ بِالمَاءِ ، ثُمَّ يَقُولُ : (اللَّهُمَّ أَعِنِّي عَلَى غَمَرَاتِ المَوْتِ أَوْ سَكَرَاتِ المَوْتِ) .

حسنه الحافظ في “الفتح” ( 11/362 ) وضعفه الألباني في ” ضعيف الترمذي “.

سئل الشيخ ابن عثيمين رحمه الله :

هل تخفف صعوبة سكرات الموت من الذنوب ، وكذلك المرض الذي يسبق الموت هل يخفف من الذنوب ؟/”

\’.’;

فأجاب :

” كل ما يصيب الإنسان من مرض أو شدة أو هم أو غم ، حتى الشوكة تصيبه فإنها كفارة لذنوبه ، ثم إن صبر واحتسب كان له مع التكفير أجر ذلك الصبر الذي قابل به هذه المصيبة التي لحقت به ، ولا فرق في ذلك بين ما يكون في الموت وما يكون قبله ” انتهى من ” فتاوى نور على الدرب ” ( 24 / 2 ) بترقيم الشاملة .

ومع شدة الموت وسكرته ، فإن ما يلقاه المؤمن من البشارة والتثبيت عند موته ؛ مما يهون عليه ما يلقى ، ويشوقه إلى ما بعده من لقاء الله .

قال الحافظ ابن حجر رحمه الله :

” الْمَيِّت لَا يَعْدُو أَحَدَ الْقِسْمَيْنِ : إِمَّا مُسْتَرِيحٌ وَإِمَّا مُسْتَرَاحٌ مِنْهُ ، وَكُلٌّ مِنْهُمَا يَجُوزُ أَنْ يُشَدَّدَ عَلَيْهِ عِنْدَ الْمَوْتِ ، وَأَنْ يُخَفَّفَ ، وَالْأَوَّلُ هُوَ الَّذِي يَحْصُلُ لَهُ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ وَلَا يَتَعَلَّقُ ذَلِكَ بِتَقْوَاهُ وَلَا بِفُجُورِهِ ، بَلْ إِنْ كَانَ مِنْ أَهْلِ التَّقْوَى ازْدَادَ ثَوَابًا ، وَإِلَّا فَيُكَفَّرُ عَنْهُ بِقَدْرِ ذَلِكَ ، ثُمَّ يَسْتَرِيحُ مِنْ أَذَى الدُّنْيَا الَّذِي هَذَا خَاتِمَتُهُ ، وَقَدْ قَالَ عُمَرُ بْنُ عَبْدِ الْعَزِيزِ : مَا أُحِبُّ أَنْ يُهَوَّنَ عَلَيَّ سَكَرَاتُ الْمَوْتِ ، إِنَّهُ لَآخِرُ مَا يُكَفَّرُ بِهِ عَنِ الْمُؤْمِنِ.

وَمَعَ ذَلِكَ فَالَّذِي يَحْصُلُ لِلْمُؤْمِنِ مِنَ الْبُشْرَى ، وَمَسَرَّةِ الْمَلَائِكَةِ بِلِقَائِهِ ، وَرِفْقِهِمْ بِهِ ، وَفَرَحِهِ بِلِقَاءِ رَبِّهِ : يُهَوِّنُ عَلَيْهِ كُلَّ مَا يَحْصُلُ لَهُ مِنْ أَلَمِ الْمَوْتِ ، حَتَّى يَصِيرَ كَأَنَّهُ لَا يُحِسُّ بِشَيْءٍ مِنْ ذَلِكَ ” انتهى من “فتح الباري” ( 11 / 365 ) .

راجع إجابة السؤال رقم : ( 135314 ) .

ولا نعلم طريقة تخفف من سكرات الموت ، إلا أن يفزع العبد إلى ربه في ذلك ، ويدعو به في العسر واليسر ، ولعلنا أن نفعل مثل ما كان النبي صلى الله عليه وسلم يفعل ، حيث كان يدخل يديه في الماء ثم يمسح بهما وجهه ويسأل الله أن يعينه على سكرات الموت – كما تقدم – .

على أن بعض السلف كانوا يرون في هذه الشدة الرحمة كما تقدم عن عمر بن عبد العزيز ، وروى عبد الله بن أحمد في “زوائد الزهد” (ص 388 ) عن إبراهيم النخعي قال : ” كانوا يستحبون للمريض أن يجهد عند الموت ” وعن منصور : ” أن إبراهيم كان يحب شدة النزع “.

ولا نعلم أحدا ينجو من هذه الشدة إلا الشهيد ، فقد روى الإمام أحمد ( 7953 ) ، والترمذي ( 1668 ) وصححه ، والنسائي ( 3161 ) ، وابن ماجة ( 2802 ) عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( مَا يَجِدُ الشَّهِيدُ مِنْ مَسِّ الْقَتْلِ، إِلَّا كَمَا يَجِدُ أَحَدُكُمْ مَسِّ الْقَرْصَةِ ) وصححه الألباني في ” صحيح الترمذي ” وغيره .

قال المناوي رحمه الله :

” يعني أنه تعالى يهون عليه الموت ويكفيه سكراته وكربه ، بل رب شهيد يتلذذ ببذل نفسه في سبيل الله طيبة بها نفسه ؛ كقول خبيب الأنصاري حين قتل:

ولست أبالي حين أقتل مسلما ** علي أي شق كان لله مصرعي ”

انتهى من ” فيض القدير” ( 4 / 182 ) .

سادسا :

الأعمال الصالحة هي كل ما أمر به الشارع وحض عليه وندب إليه ، وبعضها أفضل من بعض ، ومن أفضل الأعمال الصالحة التي يتقرب بها العبد من ربه ، وينصح المسلم بالمداومة عليها : كثرة ذكر الله وتلاوة القرآن وبر الوالدين وصلة الرحم والحج والعمرة وصلاة الليل وصدقة السر وحسن الخلق وإفشاء السلام وإطعام الطعام وصدق الحديث والأمر بالمعروف والنهي عن المنكر وحب الخير للناس وكف الأذى عنهم والتعاون على البر والتقوى والإصلاح بين الناس ونحو ذلك من أعمال البر .

وراجع للمزيد إجابة السؤال رقم : ( 26242 ) .

وننصح الأخت السائلة أن تجعل من ذكر الموت وشدته ما يحثها على تقوى الله والعمل الصالح ؛ فإن العبد إذا اتقى الله وأحسن العمل يسر الله عليه كل عسير ، وفرج عنه كل هم ، وكشف عنه كل شدة .

ينظر للفائدة إجابة السؤال رقم : ( 8829 ) .

والله أعلم .

موقع الإسلام سؤال وجواب

2 comments
  1. afrina

    3 November , 2016 at 10:20 pm

    semoga Allah meringankan pedihnya saat saktratul maut

    Reply
    • afrina

      3 November , 2016 at 10:21 pm

      berdoalah kepada Allah, karena hanya Allah saja yang mampu menoong hambannya

      Reply

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.