Kisah Ashabul Ukhdud (Para Pembuat Parit)


ashabul ukhdud

Imam Al-Qurthubi dalam tafsirnya menyebutkan satu hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim berkenan dengan kisah ashabul ukhdud, dari Shuhaib radiyallahu ‘Anhu,

“Ada seorang raja pada umat sebelum kalian. Ia punya tukang sihir. Ketika tukang sihir itu sudah mulai tua, ia berkata kepada raja, “Aku sudah tua, kirimkan kepadaku anak muda agar aku ajari sihir! Maka raja itu pun mengirimkan satu anak muda agar diajari sihir. Di tengah jalan yang ditempuh anak muda ini, terdapat seorang rahib, maka anak muda itu pun duduk mendengarkan ucapan rahib dan merasa tertarik. Akhirnya tiap datang ke tukang sihir ia melewati rahib, ia mampir untuk belajar darinya, sehingga jika datang ke tukang sihir ia dipukul, maka ia adukan hal itu kepada rahib. Rahib mengatakan, “Jika kamu takut kepada tukang sihir itu, katakan keluargaku menahanku. Dan jika kamu takut pada keluargamu maka katakan tukang sihir menahanku”.

Pada suatu hari yang biasa ia lalui, ada seekor binatang besar yang menghalangi manusia, menutupi jalan. Maka ia bergumam dalam hati, ”Hari ini aku tahu apakah tukang sihir yang lebih utama ataukah rahib, ia mengambil batu kemudian berkata, ”Ya Allah jika urusan rahib yang lebih Engkau cintai dari pada tukang sihir, maka bunuhlah binatang besar ini, supaya manusia bisa melewati jalan itu”. Kemudian ia melempar batu tersebut ke arah binatang tersebut dan mati, manusia pun bisa melewati jalan itu. Kemudian ia mendatangi rahib dan menceritakan kisah tersebut, rahib berkata kepadanya, “Wahai anakku, sekarang kamu lebih baik daripadaku, urusanmu telah mencapai tingkatan seperti yang aku lihat, dan kamu pasti akan mendapat cobaan, jika kamu diuji maka jangan menunjukkan tentangku (jangan bawa-bawa aku).

Anak muda ini bisa mengobati orang buta sejak lahir, dan penyakit kulit serta mengobati manusia dari berbagai penyakit. Orang dekat raja yang buta mendengar tentang anak muda ini, maka ia mendatanginya dengan membawa banyak hadiah. Ia berkata, ”Semua ini aku kumpulkan untukmu jika kamu bisa menyembuhkan aku.” anak muda itu menjawab ‘Sesunggunhnya aku tidak mampu menyembuhkan siapapun, tetapi Allah yang menyembuhkan, jika kamu beriman kepada Allah, maka aku akan berdo’a agar Allah menyembuhkanmu.” Orang dekat raja itu pun beriman, dan Allah menyembuhkan kebutaannya. Ia datang menghadap raja, duduk sebagaimana biasa, raja bertanya,”Siapa yang menyembuhkanmu?” ia menjawab,”Rabb ku”, raja bertanya, ”Apa kamu punya tuhan selain aku?” ia menjawab “Rabb ku dan Rabb mu”, maka ia menghukum dan menyiksa orang itu hingga ia menunjukkan perihal anak muda tersebut.

Anak muda itu pun dibawa menghadap. Raja bertanya, ”Apakah sihirmu sudah bisa menyembuhkan orang yang buta sejak lahir? penyakit kulit dan lain-lain?” ia menjawab,”Aku tidak bisa menyembuhkan siapapun yang menyembuhkan hanyalah Allah. ”Maka anak muda ini di hukum dan disiksa hingga menunjukkan perihal rahib, dan akhirnya rahib itu didatangkan dan diperintahkan, “Kembaliah (keluarlah) dari agamamu sekarang!” Rahib itu menolak dan diletakkan sebuah gergaji, diletakkan tepat diatas kepalanya, kemudian dibelah hingga terbelah. Kemudian orang dekat raja di datangkan lagi dan di katakan ”Tinggalkan agamamu!” Dia menolak, maka diletakkan gergaji diatas kepalanya dan dibelah.

Lalu didatangkan lagi anak muda itu dikatan kepadanya, ”Keluarlah dari agamamu!” dan ia menolak, maka raja itu memerintahkan pasukannya untuk membawanya ke puncak gunung , mereka menyeretnya ke puncak gunung,” Jika kalian sudah sampai di puncak gunung, sampaikan kepadanya untuk meninggalkan agamanya. Jika menolak ,maka lemparkan ke bawah!” Mereka membawa anak muda itu ke puncak gunung, sedang ia berdo’a ”Ya Allah cukupkanlah aku dari mereka dengan apapun yang Engkau kehendaki” Gunung bergoncang dan mereka berjatuhan, maka ia berjalan kembali pulang menuju istana raja. Raja bertanya, ”Apa yang dilakukan rombongan padamu?” Ia menjawab, “Allah mencukupkan aku dari mereka”

Raja kembali memerintahkan orang-orang untuk membawanya, “Bawalah ia ke dalam sebuah kapal kecil (sampan), seret hingga ke tengah laut!” Mereka membawa anak muda itu ke laut dalam sampan kecil, ia berdo’a  “Ya Allah cukupkanlah aku dari mereka dengan apa saja yang Engkau mau” Tiba-tiba kapal mereka terbalik dan mereka tenggelam. Kembali ia berjalan menuju raja. Raja bertanya, ”Apa yang terjadi dengan rombonganmu?” Ia menjawab, ”Allah mencukupkan aku dari mereka” kemudian ia berkata, ”Kamu tidak akan bisa membunuhku hingga aku perintahkan kamu” Raja bertanya, ”Siapa itu?” Ia menjawab, ”Kumpulkan semua manusia dalam satu tempat lapang, salib aku di atas pohon kurma, kemudian ucapkan, ”Dengan nama Allah, Rabb anak muda ini” lalu lepaskan anak panah itu, jika kamu melakukan itu maka kamu akan bisa membunuhku.”

Raja mengumpulkan rakyatnya dalam tempat lapang, dan anak muda tersebut telah disalib di atas pohon kurma, kemudian ia mengambil anak panah dari tempat anak panah pemuda itu, meletakkannya tepat di tengah busur, kemudian membaca, ”Dengan nama Allah, Rabb anak muda ini.” kemudian melepaskannya dan anak panah itu tepat mengenai pelipisnya. Anak muda itu meletakkan tangannya di pelipis pada anak panah yang menancap, lalu ia mati.

Orang-orang yang hadir berteriak, ”Kami beriman kepada Rabb anak muda ini. Kami beriman kepada Rabb anak muda ini. Kami beriman kepada Rabb anak muda ini!” Raja diberitahu, ”Tahukah anda bahwa apa yang anda takutkan? Demi Allah apa yang anda khawatirkan telah terjadi. Manusia telah beriman kepada Allah.” Maka raja ini memerintahkan untuk menggali parit di mulut-mulut besi. Maka dibuatlah, kemudian dinyalakan api.  Lalu ia berkata, “Siapa yang tidak kembali dari agamanya maka bakar mereka! Perintah itupun dilaksanakan, hingga giliran Ibu muda dengan bayinya, wanita ini merasa ragu dan takut dilemparkan ke dalam parit yang menyala, maka bayinya berkata “Hai ibu, sabarlah, karena engkau diatas kebenaran.”

Dalam satu riwayat, “Dibawalah seorang wanita menyusui, dikatakan kepadanya, “Tinggalkan agamamu, jika tidak maka kami akan lempar kamu juga bayimu! Ibu itu merasa kasihan dengan bayinya dan berniat hendak kembali dari agamanya, maka bayi itu berkata kepadanya, “Hai Ibu, tetaplah di atas kebenaran, sesungguhnya jika kembali kepada kekufuran, adalah aib dan kehinaan. Maka mereka melemparkannya juga bayinya ke dalam api.” (HR. Muslim)

Mereka membunuh para wali Allah sementara Allah memerintah mereka untuk bertaubat.Allah ta’ala berfirman ,

إِنَّ الَّذِينَ فَتَنُوا الْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَتُوبُوا فَلَهُمْ عَذَابُ جَهَنَّمَ وَلَهُمْ عَذَابُ الْحَرِيقِ

“Sungguh, orang-orang yang mendatangkan cobaan (bencana, membunuh, menyiksa) kepada orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan lalu mereka tidak bertobat, maka mereka akan mendapat azab jahannam dan mereka akan mendapat azab (neraka) yang membakar.”  (Qs. Al-Buruuj: 10)

Yakni, mereka menyiksa dan membakar orang-orang mukmin karena keteguhan mereka mempertahankan iman, dan menolak kembali ke agama kufur, kemudian mereka tidak bertaubat atas apa yang telah mereka lakukan kepada kaum mukminin dan mukminat, maka bagi mereka siksa neraka jahannam, dan mereka akan dibakar di dalam neraka. Yang dimaksudkan mereka di sini, bisa ashabul ukhdud secara khusus, dan yang dimaksud dengan mukminin adalah orang-orang yang terfitnah (diuji) dengan dilemparkan ke dalam parit, bisa juga orang-orang yang menyakiti kaum mukminin dengan siksaan secara mutlak, tanpa dibatasi dengan ashabul ukhdud saja, mereka termasuk di sini sejak semula.

Al-Hasan Al-Bashri rahimahullah mengatakan “Lihatlah kemuliaan dan kedermawanan ini, mereka membunuhi para wali-Nya sementara Allah mengajak mereka untuk bertaubat dan ampunan.”

Penyebutan kisah ini dalam Al-Qur’an

Allah ta’ala berfirman,

قُتِلَ أَصْحَابُ الْأُخْدُودِ (4) النَّارِ ذَاتِ الْوَقُودِ (5) إِذْ هُمْ عَلَيْهَا قُعُودٌ (6) وَهُمْ عَلَى مَا يَفْعَلُونَ بِالْمُؤْمِنِينَ شُهُودٌ (7) وَمَا نَقَمُوا مِنْهُمْ إِلَّا أَن يُؤْمِنُوا بِاللَّهِ الْعَزِيزِ الْحَمِيدِ (8) الَّذِي لَهُ مُلْكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَاللَّهُ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

”Binasalah orang-orang yang membuat parit (yaitu para pembesar Najran di Yaman),yang berapi (yang mempunyai) kayu bakar, ketika mereka duduk di sekitarnya, sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang mukmin. Dan mereka menyiksa orang-orang mukmin itu hanya karena (orang-orang mukmin itu) beriman kepada Allah Yang Mahaperkasa, Maha Terpuji, Yang memiliki kerajaan langit dan bumi. Dan Allah Maha Menyaksikan segala sesuatu.” (Qs. Al-Buruuj: 4-9)

Maknanya, para pembuat parit (ashabul ukhdud) dilaknat. Kata ukhdud bentuk jamaknya akhdid, artinya galian dalam tanah. Ini tentang kabar orang-orang kafir yang sengaja mengumpulkan orang-orang mukmin dari kalangan mereka, kemudian memaksa dan menghendaki agar kaum mukminin tersebut meninggalakan agama mereka semula (murtad). Maka mereka menggali parit-parit di tanah, kemudian menyalakan api, dan mempersiapakan bahan bakar untuk menyalakan api tersebut. Mereka mau dan memaksa agar kaum mukminin meninggalakan agama mereka, tetapi kaum mukminin menolak permintaan tersebut, maka orang-orang kafir tersebut melemparkan orang-orang mukmin ke dalam parit.

Ketika mereka duduk di sekitarnya“ yakni, duduk sambil memuas-muaskan cacian dan siksaan kepada kaum mukminin ”Sedang mereka menyaksikan apa yang mereka perbuat terhadap orang-orang yang beriman”  yakni, mereka hadir dan menyaksikan apa yang dilakukan kepada kaum mukminin, mulai dari melemparkan mereka ke dalam parit, hingga bagaimana api membakar jasad-jasad kaum mukminin.

”Dan mereka tidak menyiksa orang-orang mukmin itu melainkan karena orang mukmin beriman kepada Allah Yng Mahaperkasa lagi Maha Terpuji” yakni, orang-orang yang beriman itu tidak memiliki salah apa-apa pada mereka yang kafir, kecuali karena mereka beriman kepada Allah Yang Maha Perkasa, yang tidak akan tersia-siakan orang yang berlindung kepada-Nya, Yang menang atas musuh-musuh-Nya, Yang Maha terpuji dalam semua perkataan maupun perbuatan,  syariat maupun ketentuan takdir-Nya. Sekalipun apa yang Allah takdirkan kepada hamba-hamba-Nya yang mukmin, yaitu apa yang dialami mereka di tangan orang-orang kafir, tetap Allah itu Maha Perkasa lagi terpuji, sekalipun tidak diketahui sebab hal ini oleh banyak orang.

“Yang mempunyai kerajaan langit dan bumi.” Allah adalah Raja, pemilik semua langit dan bumi serta apa yang ada diantara keduanya. “dan Allah Mahamenyaksikan segala sesuatu.”  Yakni, tidak tersembunyi dari-Nya apapun di seluruh langit dan bumi, tidak ada sesuatu yang bisa bersembunyi dari-Nya.
(Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hlm. 492-493, dan Tafsir Al-Qasimi, jilid 17, hlm. 110)

***

Dikutip dari buku “Hikmah Kisah-Kisah Dalam Al Qur’an  Dari Nabi Adam-Nabi Isa Alaihimussalam Beserta Kaumnya”, Karya Dr.Abdul Karim Zaidan, Penerbit Darus Sunnah Press (Judul asli, Al-Mustafad min Qashash Al-Qur’an)

Related Post

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *