Mengkritisi Aqidah Imamah Agama Syiah


Syiah Imamah

Tidak asing bahwasanya imamah (kepemimpinan) memiliki kedudukan yang sangat penting bagi kaum Syiah itsna asyariyah. Bahkan para ulama mereka menjadikannya sebagai syarat sah iman serta merupakan pokok agama.

Muhammad Ridha Al-Muzhaffar berkata, “Iman adalah salah satu pokok agama.” (‘Aqaidul Imamiyah hlm 102)

Al-Mufid berkata: “Para penganut imamiyah sepakat bahwa siapa saja yang mengingkari kepeimpinan salah seorang imam dan mendustakan ketaatan kepada imam yang telah Allah wajibkan maka dia telah kafir, sesat dan pantas kekal di Neraka.” (Awailul Maqalat hlm 44)

Namun jika memang kedudukan imamam sangat penting tidakkah kalian (wahai kaum Syiah) bertanya kepada diri sendiri, mengapa hal tersebut tidak disebutkan dalam al-Qur’an, padahal Allah ta’ala memberitahukan bahwa Dia menurunkannya sebagai penjelas serta petunjuk yang terperinci?!!.

Allah menyebutkan shalat, puasa, zakat dan haji dalam kitab-Nya itu. Allah juga menyebutkan hukum-hukum jihad, pembagian harta warisan, perceraian, persusuan dan budi pekerti. Sedangkan ayat yang terpanjang dalam al-Qur’an adalah mengenai hutang piutang, dan masih banyak permasalahan penting lainnya yang tidak perlu disebutkan disini.

Lantas dimanakah ayat mengenai imamah? Dan siapa saja nama para imam tersebut? Terlebih lagi dalam kitab-kitab rujukan agama Syiah terdapat banyak riwayat yang menyatakan perkara imamah lebih penting daripada shalat, zakat, haji dan puasa.

Bahkan yang mengherankan, Allah menyebutkan nama Zaid bin Haritsah, salah seorang sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam namun tidak didapati penyebutan nama Ali, padahal kita meyakini bahwa Al-Qur’an tidak akan mengabaikan suatu hal yang penting. Lalu bagaimana pula dengan sesuatu yang paling penting tadi? (berkaitan dengan imamah Ali, padahal nama Ali saja tidak disebutkan dalam al-Qur’an).

Tentang penyebutan Zaid Allah ta’ala berfirman:

فَلَمَّا قَضَى زَيْدٌ مِنْهَا وَطَرًا زَوَّجْنَاكَهَا لِكَيْ لا يَكُونَ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ حَرَجٌ فِي أَزْوَاجِ أَدْعِيَائِهِمْ إِذَا قَضَوْا مِنْهُنَّ وَطَرًا وَكَانَ أَمْرُ اللَّهِ مَفْعُولا

… Maka tatkala Zaid telah mengakhiri keperluan terhadap Istrinya (menceraikannya), Kami kawinkan kamu dengan dia supaya tidak ada keberatan bagi orang mukmin untuk (mengawini) isteri-isteri anak-anak angkat mereka, apabila anak-anak angkat itu telah menyelesaikan keperluannya daripada isterinya. dan adalah ketetapan Allah itu pasti terjadi.”

Allah ta’ala berfirman:

أَفَغَيْرَ اللَّهِ أَبْتَغِي حَكَمًا وَهُوَ الَّذِي أَنْزَلَ إِلَيْكُمُ الْكِتَابَ مُفَصَّلا وَالَّذِينَ آتَيْنَاهُمُ الْكِتَابَ يَعْلَمُونَ أَنَّهُ مُنَزَّلٌ مِنْ رَبِّكَ بِالْحَقِّ فَلا تَكُونَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِينَ

Maka Patutkah aku mencari hakim selain daripada Allah, Padahal Dialah yang telah menurunkan kitab (Al- Qur’an) kepadamu dengan terperinci? orang-orang yang telah Kami datangkan kitab kepada mereka, mereka mengetahui bahwa Al Quran itu diturunkan dari Tuhanmu dengan sebenarnya. Maka janganlah kamu sekali-kali Termasuk orang yang ragu-ragu.” (QS. Al-An’am [6]: 114)

وَيَوْمَ نَبْعَثُ فِي كُلِّ أُمَّةٍ شَهِيدًا عَلَيْهِمْ مِنْ أَنْفُسِهِمْ وَجِئْنَا بِكَ شَهِيدًا عَلَى هَؤُلاءِ وَنَزَّلْنَا عَلَيْكَ الْكِتَابَ تِبْيَانًا لِكُلِّ شَيْءٍ وَهُدًى وَرَحْمَةً وَبُشْرَى لِلْمُسْلِمِينَ

(Dan ingatlah) akan hari (ketika) Kami bangkitkan pada tiap-tiap umat seorang saksi atas mereka dari mereka sendiri dan Kami datangkan kamu (Muhammad) menjadi saksi atas seluruh umat manusia. dan Kami turunkan kepadamu Al kitab (Al Quran) untuk menjelaskan segala sesuatu dan petunjuk serta rahmat dan kabar gembira bagi orang-orang yang berserah diri.” (QS. An-Nahl [16]: 89)

يَا أَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاءَتْكُمْ مَوْعِظَةٌ مِنْ رَبِّكُمْ وَشِفَاءٌ لِمَا فِي الصُّدُورِ وَهُدًى وَرَحْمَةٌ لِلْمُؤْمِنِينَ

Hai manusia, Sesungguhnya telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu dan penyembuh bagi penyakit-penyakit (yang berada) dalam dada dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yunus [10]: 57)

Meskipun telah terdapat penjelasan semua ini, Ibnu Muthahhar al-Hulli malah berkata: “Menciptakan seorang imam dan membekalinya dengan kekuasaan, serta menuliskan namanya di dalam nash, hukumnya wajib atas Allah.” (al-Ulfain, hlm 65)

Wahid Khurasani pun mengatakan, “Pengetahuan tentang pokok-pokok agama tidak boleh diambil dan dipelajari dari siapapun. Yang menjadi dasar dan tempat rujukannya hanya dua, tidak ada yang lain, yaitu al-Qur’an dan al-Hadits. Munculnya berbagai penyimpangan hanyalah ketika kita mengambil dalil dari selain kedua sumber ini. Sebab pokok segala perkara diambil dari al-Qur’an sedangkan permasalahan cabangnya diambil dari riwayat-riwayat.” (Muqthathafat Walaiyyah, hlm. 36)

Pernyataan tersebut sangat aneh dan menunjukkan disebutkannya nama para imam di dalam al-Qur’an. Sekarang kita akan melihat akibat yang mereka timbulkan dari masalah imamah ini.

Mereka menyatakan bahwa kelembutan adalah sifat yang wajib bagi Allah, adapun menyebutkan nama imam termasuk kelembutan-Nya, maka penyebutannya di dalam al-Qur’an merupakan suatu kewajiban.

Tetapi kenyataannya kita tidak mendapati sedikitpun tentang para imam itu di dalam Kitabullah! Akibatnya para ulama syiah goyah hingga akhirnya mereka terpecah menjadi dua kubu atau kelompok yang masyhur.

Kelompok pertama mengatakan, “Kelembutan adalah sifat wajib bagi Allah dan menyebutkan nama para imam merupakan kelembutan. Allah telah menyebutkan nama imam kita di dalam al-Qur’an, tetapi para sahabat mengubah al-Qur’an dan menghapus nama Ali.” Inilah pendapat mayoritas kaum Syiah, bahkan ada di antara mereka yang menukilnya sebagai ijma dan perkara esensial dalam mazhab, yang demikian itu agar kaidah yang mereka rancang dan sebarluaskan tetap terlihat konsisten.

Kelompok kedua mengatakan, “Kelembutan adalah sifat yang wajib bagi Allah dan menyebutkan nama para imam termasuk kelembutan. Namun nama para imam kita tidak disebutkan dalam al-Qur’an supaya tidak diselewengkan, karena penyelewengan dalam Kitab-Nya disepakati sebagai kerusakan yang sangat besar.”

Al-Khumaini berkata, “Seandainya masalah imamah ditetapkan dalam al-Qur’an niscaya orang-orang yang tidak perduli dengan islam dan Kitab-Nya kecuali untuk tujuan duniawi dan jabatan kepemimpinan akan memanfaatkannya sebagai saran untuk merealisasikan tujuannya masing-masing. Untuk itu mereka menghapus ayat-ayat yang telah tertulis pada lembarannya tersebut.” (Kasyful Asrar hlm 131)

Pernyataan demikian adalah batil, tidak benar karena beberapa alasan:

  1. Cermatilah baik-baik, apakah al-Khumaini lupa bahwasanya Allah berjanji akan senantiasa menjaga al-Qur’an! Dan bahwa al-Qur’an itu sesuai untuk setiap masa, tempat serta individu.
  2. Para Ulama syiah menganggap imamah sebagai bagian dari kelembutan Allah dan keberadaan imam adalah wujudnya. Walaupun demikian mereka menyatakan seluruh imam yang pernah ada diperkirakan mati karena dibunuh atau diracun. Lantas mengapa Allah menciptakan para imam ini meski diketahui adanya kerusakan dengan terbunuhnya mereka? Apabila kalian (Wahai penganut agama Syiah) tidak menerima pendapat kami maka sebutkanlah nama seorang imam di dalam al-Qur’an disertai bukti adanya kerusakan berupa pengubahan isi Al-Qur’an oleh para sahabat nabi radhiyallahu ‘anhum.
  3. Kerusakan terkait penyelewengan terhadap al-Qur’an hanyalah perkiraan belaka. Sedang kerusakan yang berupa tindakan buruk (pembunuhan) terhadap para imam adalah kenyataan yang bisa di rasa, dan ini telah dialami oleh mereka semua.

Apabila kaum Syiah hendak keluar dari permasalahan yang pelik ini mereka harus melakukan salah satu dari hal-hal berikut:

  1. Mengatakan bahwa penyebutan keberadaan imam secara nash hanyalah berupa ciri-cirinya sedangkan penyebutan namanya bukanlah merupakan kelembutan
  2. Menyatakan bahwasanya kelembutan tidak wajib bagi Allah
  3. Menegaskan penyebutan para imam itu merupakan kelembutan, namun ada kerusakan yang menghalangi keberadaan mereka.

Kenyataannya tidak ada satu pun nash ayat al-Qur’an yang menyebutkan nama seorang imam, tidak pula menentukannya. Akan tetapi kemudian mereka berdalih dengan riwayat-riwayat yang menafsirkan al-Qur’an. Jika demikian pengambilan dalil mereka bersumber dari as-Sunnah bukan dari al-Qur’an!.

Mungkin ada yang bertanya, “Al-Qur’an menyanjung para sahabat, begitu juga as-Sunnah. Sejarah juga menjadi saksi atas kemasyhuran mereka dalam memerangi orang-orang murtad, menyebarkan dakwah islam, menaklukkan berbagai negeri serta bersikap zuhud, wara dan menunjukkan sifat terpuji lainnya. Jika realitanya demikian lantas mengapa para ulama Syiah terus menerus menuduh mereka yang bukan-bukan? Apakah mungkin ada sebab-sebab yang menjadikan mereka berpendapat demikian?”

Ini adalah pertanyaan berbobot, dan jawabannya lebih berbobot lagi. Ini adalah pertanyaan klasik yang telah di jawab oleh Imam Abu Zur’ah ar-Razi pada abad ke-3.

Abu Zur’ah rahimahullah berkata, “Jika anda mendapati seseorang yang mencela para sahabat Rasulullah, ketahuilah bahwa dia adalah seorang zindiq. Sebab menurut kami, Al-Qur’an dan as-Sunnah sampai kepada kita melalui para Sahabat. Mereka (kaum Syiah) hendak menodai kredibilitas para saksi kami guna membatalkan al-Qur’an dan as-Sunah, padahal kredibilitas merekalah (kaum Syiah) yang lebih layak untuk diragukan karena mereka tergolong orang-orang zindiq.” (Diriwayatkan oleh al-Khatib al-Baghdadi dalam al-Kifayah, hlm. 49, Ibnu Asair dalam Tarikh Dimasyq 38/32, al-Mizzi dalam Tahdzibul Kamal 19/96 dan disebutkan oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam ash-Shawaiq al-Muhriqah II/608)

Sungguh, Ahlus Sunnah menjadi objek kedengkian mereka, dan bukti pernyataan ini adalah firman Allah ta’ala,

وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً …

Mereka ingin supaya kamu menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, lalu kamu menjadi sama (dengan mereka)… ” (QS. An-Nisa [4]: 89)

Benar, memang kaum Syiah tidak memiliki satu sanad pun terhadap al-Qur’an sementara Ahlus Sunnah menukilnya secara mutawatir sampai kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kaum Syiah juga tidak mampu meriwayatkan satu hadits pun disertai dengan sanad yang muttashil (bersambung) dan shahih hingga kepada Nabi. Sedangkan Ahlus Sunnah meriwayatkan ribuan hadits shahih yang bersambung kepada Nabi.

Maka para sahabat adalah perawi al-Qur’an dan as-Sunnah.

Kaum Syiah mengakui riwayat-riwayat yang ada pada mereka merupakan wijadah (meriwayatkan hadits berdasarkan buku milik seorang syaikh yang ia temukan) dengan sebab, di dalam ushulul Kafi I/53 terdapat penuturan yang menunjukkan bahwa buku-buku hadits yang ada para mereka diberikan secara bergantian dari tangan ke tangan secara rahasia, sehingga sanadnya tidak bersambung disebabkan adanya tuntunan taqiyyah sebagaimana klaim mereka. Teks yang ada pada al-Kafi: “Sesungguhnya Syaikh kami meriwatkan dari Abu Ja’far dan Abu Abdillah dan saat itu taqiyyah sangat darurat untuk dilakukan sehingga mereka menyembunyikan buku-buku dan tidak ada yang meriwayatkan dari mereka. Tatkala mereka telah meninggal buku-buku tersebut sampai kepada kami.” Salah seorang imam mereka berkata: “Ceritakanlah riwayat-riwayat tersebut karena semuanya haq.” Disebutkan dalam al-Wasail: “Dan saat itu sebagian sahabat kami (Syiah) menjelek-jelekkan kaum yang menyelisihi kami dengan mengatakan, “Kalian tidak memiliki pendahulu dan tidak pula kitab yang dikarang.”” Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh an-Najasyi dalam ad-Diybajah, lihat Rijalun Najasyi, no. 253.

Di ketik ulang dari Buku Dari Hati Ke Hati tulisan Syaikh Muhammad Al-Khumais diterjemahkan dari kitab Beliau Minal Qalb Ilal Qalb.
hadits riwayat Syiah

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.